MENCARI GURU SEJATI

Banyak orang mencari guru yang tepat untuk mendapatkan dan memperdalam ilmunya. Banyak penggolongan ilmu yang kita kenal, seperti eksakta dan non eksakta, lahir dan batin, dll. Istilah “sejati” lebih dikonotasikan pada urusan “batin”. Jadi dalam kupasan ini lebih terfokus pada ilmu batin.

Ilmu batin terasah melalu “olah rasa”, yaitu bagaimana kemampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan menyelaraskannya dengan kemampuan daya logika (akal). Namun tidak semua ilmu bisa dinalar, tidak juga semua ilmu bisa di-rasa-kan. Masing-masing mempunyai keunikan tersendiri dan variasi pencapaiannya. Sehingga banyak orang berlomba mencari guru yang terbaik.

Istilah guru yang terbaik secara batin sering disebut sebagai Guru Sejati. Jika sebutan ini melekat pada para Nabi dan Wali, rasanya tidak ada yang protes. Tetapi kehidupan beliau-beliau itu sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu. Bagaimana dengan saat ini? Maka berbondong-bondonglah manusia mencari para guru yang mendekati kriteria guru sejati ini.

Masalah semakin rumit ketika banyak guru bertebaran di berbagai pelosok negeri. Mana yang guru sejati? jika didekati, masing-masing baik secara tersurat maupun tersirat menceritakan silsilah “kesejatian”-nya. Ada yang memakai sebutan tertentu, sebagai ‘trade merk’ (ciri-ciri) bahwa beliau ini masih keturunan orang suci di masa lalu. Ada yang mengklaim keturunan Nabi, Wali, Raja, atau minimal merasa tergembleng dalam pendidikan padepokan / pondok yang mengajarkan ilmu-ilmu warisan orang suci tersebut.

Belum lagi perdebatan tentang materi pelajaran yang didapat. Masing-masing punya karakter dan tata urutan yang khas. Alur cerita dan pendekatan juga sering berbeda. Maka, makin pusinglah sang calon murid untuk memilih mana sebenarnya calon guru sejatinya.

Maka, marilah kita merunut proses perjalanan kesejatian itu. Sebutan ‘orang suci’ itu lebih bermuara pada kesucian batinnya, bukan pada garis keturunannya (trah), bukan pula berdasar nama perguruannya. Terlalu mengkultuskan suatu perguruan atau seorang guru, hanya akan memupuk sifat kesombongan tidak kentara. Ingatlah betapa banyak orang suci di masa lalu itu mempunya guru yang sangat banyak. Mengapa? karena tiap manusia ada kelebihan dan kekurangannya. Dengan memperbanyak guru, maka ilmu yang didapat akan semakin lengkap dan kita terhindar dari kultus invididu (mendewakan seseorang).

Sebenarnya guru sejati adalah batin kita sendiri, sedangkan semua orang lain adalah fasilitator/motivator belaka. Kesejatian itu akan terbentuk manakala batin kita bisa berkoneksi dengan baik kepada-Nya. Sehingga semua orang di sekeliling kita hakekatnya adalah perantara untuk mengantarkan menuju kesejatian diri.

Jika kesejatian diri sudah terbentuk, maka segala hal yang terdapat di semesta raya ini akan bisa menjelma menjadi guru sejati, karena semua hal menjadi berhikmah (memberikan manfaat) dalam kehidupan kita.

Semoga kita bermasuk manusia yang mau berpikir dan mengambil hikmah dari semua fenomena semesta raya ini.

 

 

 

3 responses to “MENCARI GURU SEJATI

  1. Nuwun injih Guru. Nanging saderengipun kepanggih kaliyan guru sejati, tetep kedah gadhah guru ingkang asipat nyata supados menawi kepanggih apes, mboten klentu dhumateng sinten badhe nyuwun pitedah.

  2. @sudar gak sulit kok asal qt yakin,.,tnggal bukak wadah tyus ngumpulin sejati qt,.tutup tyuz ngolah roso jumudulne guru sejati.tyuz jumudule 7dr 10pamong kembaran qt dst gk ad guru atopun murit cman tukar kweruh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s