PUISI

                              MENJADI AKU 

Aku ingin menjadi aku

Berpikir, berbicara dan menulis

Aku ingin menjadi aku

Ikhlas memberi, sabar berharap

 

Banyak orang menyapa

Aku untuk menjadi bukan aku

Banyak orang meminta

Aku untuk menjadi aku

 

Aku bukanlah siapa-siapa

Aku hanyalah aku semata

 

Mencoba mengungkap fakta

Mencoba menggali makna

Mencoba menasehati sesama

Mencoba mengasihi makhlukNYA

 

Aku tidak sekedar menghakimi

Aku menilai dan memberi solusi

Walau kadang banyak orang meradang

Walau kadang banyak muka berang

 

Mengungkap kebenaran dengan bijak

Memberi cinta bukan tuk jadi penguasa

Mendengar cerita tuk berikan cipta rasa

Bersimpuh pilu mohon ampunanNYA

 

Menjadi aku,

Menjadi makhlukNYA

Menjadi aku,

Menjadi pengelana makna

 

 
                             PERDIKAN HATI

Jalan panjang hantarkan langkah ini
Lupakan masa penuh liku
Menapak dengan ayunan dan cinta
Menoreh makna dalam hidup nan maya

        
                      HIDUP ADALAH PILIHAN
                                     
Hidup adalah pilihan
Memilih jalan kesuksesan,
Walau perjuangan terjal mendaki
Memilih jalan kebenaran,
Walau jalan dosa penuh keindahan nan menggoda
 
Hidup adalah pilihan
Memilih untuk tetap hidup
Sampai tiada waktu tuk memilih
 
Hidup adalah pilihan
Terkadang tak ada keinginan memilih
Terkadang gontai mencari pegangan
Terkadang tak tahu kalo masih hidup
 
Hidup adalah pilihan
Memilih untuk saling mencintai
Walau seringnya bertepuk sebelah tangan
Memilih untuk hidup berkecukupan
Walaupun nafsu bisikkan selalu kurang
 
Hidup adalah pilihan
Menelusuri aliran kehidupan
Memilih sabar dalam perjuangan
Memilih ikhlas dalam perbuatan
 
 
Yogyakarta, 25 Juni 2008 pukul 11.07 WIB

 

 

 

DOSAKU

 

 

Betapa aku harus mengungkap

Kepada-Mu  tuk mengadu

Sungguh besar dosa-dosa ini

Tak terukur walau sewindu

 

Kini aku sadar akan hakiki

Hidup bukan sekedar emosi

Yang tak kunjung puaskan diri

Yang kan hilangkan jati diri

 

Kini aku bersujud,

Dengan kerendahan aku memohon

Beri kesempatan mengubah diri

Sebatas desah nafas ini menanti

 

Gema panggilan-Mu mengusik iman

Betapa mudah diri meninggalkan-Mu

Mabuk tuk memburu angan dunia

Sampai terpuruk di lembah duka

 

Ket: kita mudah bertaubat tetapi mudah pula melakukan dosa


  HUJANKU

 

Sore itu hujan kembali datang

Kupandang dengan tangan terpangku

Wajah termangu menerawang jauh

Teringat kala beta dalam buaian

 

Kupandang rintik yang tiada henti

Seakan terlihat kebahagiaan masa silam

Tertawa di pangkuan ibunda tercinta

Tersenyum memandang indahnya dunia

 

Kini……..

Aku terasa sendiri lagi

Kebahagiaan masa lalu mengusik sepi

Tawa canda terngiang menyayat hati

Kampung halaman jauh dari pandangan

Kangen akan teman sepersusuan

Rindu jalan-jalan yang dulu kutapaki

Kicauan burung mengiring tangisku

 

Kini……….

Tanpa sadar aku harus mandiri

Padahal hati mudah terobsesi

Padahal mimpi tentang bunda slalu hadir

Kepada siapa aku harus mengadu

Sementara dirimu sudah berkalang tanah

Sementara belaimu tinggal dalam ingatan

 

Dalam kesenangan kulupakan kasihmu

Dalam kesedihan kunantikan hadirmu

Seperti waktu bunda mengusap pipiku

Seperti waktu bunda mengelus rambutku

Seperti harapan yang pernah engkau dambakan

Walau hasil tak pernah engkau rasakan

 

Kucoba tersenyum dalam kesakitan

Melangkah walau sering hilang arah

Menanti uluran tangan seadanya

Semoga tegar menyusup dalam jiwaku

Dengan doa yang mengawali tangisku

Kucoba bangkit dari mimpiku

 

Hujan itu….untuk Ibuku

Hujan itu….mereda bersama hadirnya malam

Hujan itu….iringi kepergianku

Hujan itu….akan datang padamu

 

Ket:  ketika memandang hujan, teringat masa kecil dalam buaian sang ibu tercinta


      TERKURUNG

            Antara Budi dan Sikap Diri

 

Lingkaran status menggantung di benak

Besarnya misi batasi ruang gerak

Mencoba menata semua kata

Mencoba berdiri dalam cinta

 

Kadang aku harus terdiam

Ketika di tengah gelak dan tawa

Kadang aku merenung

Ketika semua lepaskan kata

 

Kucoba membawa ucapan diri

Walau kritikan tak selalu senangkan hati

Terkadang kaku harus terbuat

Terkadang kejam menilai tabiat

 

Aku bukanlah sendiri

Pesan hidup harus berjalan

Walau rintang kadang menghalang

Walau goda menyusup di lubuk hati                (topan99, 20 Juni 2000)

 

Ket: status yang berbeda menyebabkan kita sulit bergerak seperti fenomena di depan mata

 


         KENAPA SAYANG

             Ketika Sehari Bersua

 

Wahai teman,

Rasa ini jangan kau ragukan

Haruskah terucap dalam sekejap

Atau cukup ungkapan sikap?

 

Wahai teman,

Terkadang aku terbawa obsesi

Kenapa kita baru berjumpa kini

Uluran tangan tersumbat sudah

 

Wahai teman,

Rasa sayang hilangkan batas

Rasa benci biarlah pergi

Kini bayangmu slalu hadirkan ilusi

 

Kehalusan kata dan tutur sapa

Menambah ketinggian budi

Kerlingan mata yang mempesona

Seakan sulit tuk katakan benci                            

 

 

(topan99, 20 Juni 2000)

 

Ket : timbul rasa suka kepada seorang gadis padahal kita sudah punya

 


ANTARA PEGASUS DAN AITI

“Bangunkan aku untuk mandi!”

 

Aku datang menyapamu yang terlelap

Antara barisan semut dan manusia-manusia kesiangan

Sang Dewa yang dingin menegur sapa

Sang Dewi yang santun dan ramah adanya

 

Bilik dan kamar tanpa pembeda

Hidup praktis sebatas sarana

Dikau tertawa lupakan duka

Walau masalah mimpikan jalan

 

Bedakan teman, bedakan mengais rizki

Tempatkan hidup yang tahu diri

Kapan berteman, kapan memberi

Hingga usaha tak menuju kubur sendiri

 

Wahai saudaraku,

Kesan manis berasa dalam benakku

Kapankah itu terulang dalam canda

Hingga lupa kita ini siapa

 

Wahai saudaraku,

Kusering terdiam kala ambang batas

Kuingat harus batasi diri adanya

Walau kaku terksan di mata

 

Antara jemuran dan seonggok alat dapur

Lalu lalang semut tersenyum hati

Betapa hidup tak butuh rapi

Jika prinsip hanya milik pribadi

 

Antara tangga yang bikin terlena

Mengaduh dalam gelap adalah biasa

Sendiri dalam sepi timbulkan rasa

Inginkan teman tuk berbagi cerita

 

Antara kartu dan kantuk yang menggoda

Antara ramal dan hasil setengah paksa

Namun ceria lupakan ganasnya hidup

Hingga terkuak saling merangkul

 

Antara BOT yang tak mau diganti

Rasa peduli seakan hilang tanpa kendali

Sadarlah kawan kita milik bersama

Janganlah sukamu tebarkan duka di hati

 

Antara dering telepon dan mandi sekali

Antara gebetan yang silih berganti

Menebar janji dan kata sayang

Tumbuh dan pergi dalam kenang

 

Antara diam dan terjebak rasa

Sang Papa dan Mama terjebak lomba

Saling mencari lupakan realita

Entah kapan hati khan bicara

 

Aku pergi dengan sejuta harap

Jagalah tali persahabatan ini

Entah kapan lagi kita bersua

Semoga kebahagiaan tercurah di hati

 

                                    10.30 WIB,      Jumat, 16 Juni 2000 (topan99)

 

ket : kesan yang timbul sehabis mengunjungi dua warung internet (Pegasus dan AITI) di bandung

 

 

TERKADANG SEPI

 

Terasa atau tanpa sadar diri

Rasa itu kadang datang menghampiri

Di saat semua terasa terbang tinggi

Di saat mimpi berubah sunyi

 

Aku pun demikian adanya

Tak bisa mengungkap sebatas kata

Tak bisa tersenyum untuk semua duka

Tak bisa memilih jalan bermakna

 

Terkadang goyah hanyutkan emosi

Hati meradang mencari celah

Kemana aku akan berdiri

Jika bumi berasa goyah

 

Kutatap awan berjalan pelan

Walau sepi pastikan tujuan

Terbawa angin melukis langit

Sejukan bumi berikan hujan

 

Terkadang sepi aku sendiri

Hanya alam berikan fenomena

Hanya Tuhan dengan petunjuk-Nya

Aku tengadah ungkapkan taubat

 

Aku tengadah gulirkan air mata

Aku tengadah teringat masa bersama

Aku tengadah kelu berucap

Aku tersujud lupakan segala

 

Kepada Tuhan aku meminta

 

                                                Senin, 3 Juli 2000     19.30 WIB

Ket : rasa sepi kadang-kadang datang tanpa terduga

 


KUNANTI HADIRMU, IBU !

 

Ibu……

Ketika mata berasa sembab

Kutulis tuk kangen selama ini

Betapa Kau hadir dalam mimpi

Seakan Bunda sakit terkucilkan orang

Seakan Bunda tinggal menanti saatnya

Anakmu memandang dari kejauhan

Tak percaya fenomena memilukan

 

Dengan gontai kudekati jasad terkulai

Kucium tanganmu dengan keberanian

Kau usap rambut nan penuh kasih

Dengan lirih Bunda menyanyi pilu,

“Anakku sayang, Ibu kangen anakku tersayang….”

 

Ijinkan aku malam ini

Menangis pilu hanya untukmu

Karena nyata, sadarkan ibu tlah tiada

Karena nyata, seakan Ibu hanya inginkan aku

Betapa pilu hati ini

Jika seakan semua orang jauhi Ibu

Dulu Ibu hanya inginkan aku dalam dekapan

Hanya aku…….

Tak terbanding dengan manapun jua

Besarnya cinta Ibu untuk aku semata

Besarnya kasih hanya untuk anak tersayang

 

Ibu……..

Kutulis ini dengan derai airmata

Semoga Kau lihat kerinduanku

Biarlah semua tertawakan aku, namun

Kutetap menangis dan rindukanmu

Biarkan semua palingkan muka

 

Biarkan……

Kutetap menangis dan rindukanmu

Kusadar akan kepiluanmu

Ketika sepi di hadapan-Nya

Engkau harap akan tengadahku

 

Kubasuh wudhu tuk kirimkan doa

Semoga Ibu berasa ringan ada-Nya

Kutarik nafas menuju hidup

Kunanti hadirmu, dalam mimpiku !

                                   

00.30 WIB Selasa, 11 Juli 2000

Ket: ketika mimpi ketemu dengan alm ibu

 


KENAPA DENGAN DUSTA

 

Semua tlah mengakui engkau siapa

Semua tlah tersenyum memandang prestassi

 

Namun nafsu bisikan kata menjulang

Merayu tuk mengusik ketenangan orang

Menuntut semua perhatian cerminmu

 

Tanda sadar kebohongan meluncur pasti

Derai air mata dan kegundahan palingkan hati

Kapan engkau sadar akan langkah

Kapan engkau menata diri

 

Jika demi perhatian, mengapa harus dusta

Jika ingin disayang, mengapa merusak sesama

Sadarlah kawan arti persahabatan

Sadarlah asal dan perginya kepercayaan

Bangkitlah walau tak kuat

Bangunlah walau kantuk menyengat

Songsong hidup dengan apa adanya

Ingatlah, syurga bersama orang-orang yang  jujur

 

                                    22.22 WIB Selasa, 18 Juli 2000

Ket: tentang Bung Syam yang suka usil berbohong dan mengusik pribadi orang

 

  

UNGKAPAN KASIH

 

Hari-harimu begitu penat

Kesibukan menyita wajah ceria

Kewajiban datang tanpa diundang

Peluh menyusur di pipi  jelita

 

Ketika mentari condong di barat

Langkah bergegas menuju rumah

Ungkapan sayang tercurah sudah

Bersama adik yang kini ada

 

Tiada lagi kata keisengan

Tiada lagi canda gurauan

Senyum tipis sesekali ada

Sebagai ungkap menuju dewasa

 

Jalan itu penuh cobaan

Harapkan pengertian dan ungkapan kasih

Sampai kau tabah menitinya

Sampai hari khan nyata bersama

 

Adindaku dalam kesendirian

Tabahkan hati dengan panjatkan doa

Adindaku dalam kesunyian

Tersenyumlah akan harapan masa depan

 

Tiada ucap yang tak terngiang

Tiada ungkap yang tanpa kesan

Tiada budi yang tanpa balas

Akankah engkau pilih berpangku tangan ?

 

Sabtu, 22 Juli 2000                  11.00 WIB (topan99)

 

Catt:  seorang gadis rupawan yang dulu bisa berbuat semaunya, kini harus menanggung beban mendidik adiknya. Sehingga banyak waktu yang habis untuk adiknya tersebut.


SAMBUTLAH TANGAN INI

 

Adindaku,

Dinding tebal tlah halangi senyumu

Rasa Bersalah makin menghujam diri ini

Kapankah pintu khan terbuka lagi

 

Aku melangkah tak lihat arah

Aku menoreh luka di hatimu

Aku menyesal tak tahu tuju

Aku tertunduk ungkapkan pasrah

 

Adindaku,

Andai senyum itu kembali mengembang

Andai tangan ini kembali tersambut

Aku tengadah pintakan maafmu

 

Manusia tak luput cela

Hati dan langkah ini khilaf adanya

Jika senyum itu kembali merekah

Mentari khan bersinar di pelupuk mata

 

Adindaku,

Renungkan ungkapan hati ini

Kutunggu hadirmu dalam mimpi

Tersenyum tuk arungi alam fana

Suka duka milik bersama

 

Minggu, 23 Juli 2000              08.30 WIB (topan99)

 

Ket : seorang pemuda yang merasa bersalah dan meminta maaf kepada kekasihnya

 


MALAM

 

Jengkerik malam berderit sepoi

Alam membisu sembunyikan rasa

Bintang bertaburan tersenyum anggun

Hawa menusuk sejukkan kalbu

 

Kepada malam aku berharap mimpi

Kepada mentari kuharap keceriaan hari

Kepada bulan kuungkap resah

Kepada gelap kugores  duka

 

Aku terkantuk sendiri

Tanpa teman, tanpa pegangan

Kesadaaran tinggal membalik tangan

Aku terdiam…

 

Ketika mimpi bangunkan sunyi

Engkau datang bak seorang dewi

Menggapai lembut tawarkan budi

Tersenyum kasih penuh ilusi

 

 


JANGAN BERSEDIH SAHABAT

 

Pesona ketulusan tlah terpancarkan

Kasih terbuai ungkapan diri

Walau tanpa sadar engkau melambung

Melayang terbawa tanpa terasa

 

Waktu berganti bulan

Lewat goresan pena dan desah suara

Engkau ungkapkan segala iba

Rasa sayang dan canda berganti rupa

 

Kini engkau tersentak pilu

Melihat kasih kembali pada yang dulu

Melihat kasih teersadar dari mimpi

Sebuah pengkhianatan menusuk kalbu

 

Jangan bersedih sahabat

Cahaya hati bukan hanya satu sisi

Cahaya rindu ungkapkan sesama

Aku mengusap ringankan duka

 

Tersenyumlah manis walau mata berlinang

Busungkan dada menatap hidup

Berdirilah setia untuk diri sendiri

Mereka hanya tahu dari mimpi

 

Engkau berpijak diantara pulau

Engkau berharap tanpa hitungan

Sadarlah mereka bukan milik kita

Yang datang dan pergi sekedar sapa

 

Jangan bersedih sahabat

Doaku untuk kebahagiaan hidupmu

Walau kita jauh bersua

Tuhan tahu kemana hati berharap

 

Ket: Puisi untuk maisaa yang merasa dikhianati kongkong

 


PERJALANAN

(Antara Cinta dan Langkah Kaki)

 

Memang semua serba kentara,

Kami lintasi kota kembang dan kota metropolitan

Dengan keterbatasan kami berbagi tugas,

 

Di kota kembang,

Kutemukan keceriaan hati

Begitu ramah mereka mengulurkan tangan

Begitu merekah senyum keikhlasan yang tak ternilai

Entah apa yang pantas tuk kami balas……

 

Tanpa sadar kutemukan ‘ketidakpastian hati’

Seakan sadar di depan mata terjuntai lidah api,

Namun langkah tak surut walau mata terpejam

Kini semua kota bermuram durja

Menanyakan akhir sebuah permainan

Menanyakan akhir sebuah kisah semu

Ungkapkan kenyataan walau menyakitkan, teman !

 

Kereta Parahyangan mengantar kami mengetuk Jakarta

Senyum ramah insan Kayanye hilangkan gundah

Kami berpisah berlain arah

Kurenda hari bersama kasih dan sayang

Dirimu melanglang menjalin persaudaraan

Kau rasakan sambutan hangat dan macetnya kota

Kau rasakan berada di tengah cerita “persimpangan hati”

 

Muka kusut kami bertemu di Pondok Cina

Ceria berbagi cerita semua warga

Mengungkap semua demi kebersamaan

Bersama Kereta Senja kami kembali

Tersimpan cerita cinta dan sayang yang sulit terlupa

Bahkan di waktu diri sedang lupa

 

Ket : Kesan perjalanan di Bandung dan Jakarta

 


Senyum Tak Berasa

 

Ketika mau tiada tertolak

Dan emosi makin memuncak

Kepulanganku tiada pilihan

 

            Aku di tengah panasnya emosi

            Antara ambisi dan hujatan, namun

            Kutersenyum walau dalam duka

            Kutertawa menutup aib menggema

 

                        Kantuk tak terasa sudah

                        Lelah bukan dalam menimbang

                        Tanpa terpejam hilangkan ego

                        Penengah dari semua yang tertumpah

           

Ket : Bersikap dewasa dalam kemelut permasalahan

 


ADINDA

 

Sepi yang kini kau rasa

Terungkap lewat tebaran kasih

Merajuk pada pujaan hati

Dalam gelora mimpi yang terbagi

 

Bila gundah merambah sukma

Rindu menyusup dalam kalbu

Namun kebimbangan kian menyiksa

Kemana hati pasrahkan raga

 

Engkau menangis mengungkap kata

Akankah setia selalu dalam cinta

Akankah cinta selalu dalam hati

Akankah satu selalu dalam bahagia

 

Kenapa cinta teriring nafsu

Kenapa cinta harus memiliki

Kenapa cinta berubah benci

Kala melihat dia pergi

 

Ket : Hati yang mendua pada seorang wanita

 

 


KELAM

(kusembunyikan rasa dalam puisi)

 

Terkadang aku terantuk batu

Perih hati menyayat pilu

Terkadang rasa sayangmu datang sekejap

Lalu tinggalkan hati yang kelam

 

Mengapa aku begitu ambisi

Jika sayang itu berakhir mimpi

Hanya bayang yang bisa kudekap

Hanya mimpi kita beradu kasih

 

Tanpa terasa kini

Walau mulut tersenyum kata,

Tak berasa air mata ini menetes

Sesak menyumbat kalbuku

 

Terasa hilang segala emosi

Hanya kelam menyelimuti diri

Hidup antara bayang dan mimpi

Memberi untuk lepaskan pergi

 

Wahai adindaku sayang,

Pergilah dengan sejuta harap

Doaku terbentang untuk bahagiamu

Tangis pilu tak usah halangi langkahmu

 

Terkadang hatimu rasakan gundah

Tak tahu harus katakan mengapa

Terkadang aku terbalut sedih

Namun senyum ini hilangkan curiga

 

Mengapa hati tertambat

Sementara mata belumlah tertaut

Sementara gapai tangan hanya mimpi

Hanya suara lambungkan itu semua

 

 

Kau menuduh tuk tutupi keinginan

Aku menipu menambah tangisan

Kadang kata tersambung kelu

Walau hati katakan sayang

 

Kita adalah misteri

Entah kapan bersua tuk katakan benci

Entah kapan bertemu tuk ungkapkan diri

Entah kapan sinar mata teduhkan hati

 

Pergilah pergi merenda hari

Kado bahagia khan turut serta

Smoga cinta khan tumbuh merona

Biarlah mimpi untukku semata

 

Kedukaan hati terasa biasa

Hidupku antara cinta dan luka

Janganlah dikau terjebak aku yang papa

Engkau punya hak tuk bahagia

 

Biarlah sepi selalu menggelayuti

Hanya kenang mohon kau izinkan

Sebagai teman kegersangan ini

Smoga adinda……lupakan diri ini                               Selasa, 00.15 WIB

 

 


GELORA JUANGMU

 

Kau toreh sejarah di bumi pertiwi

Tancapkan sikap dalam tanah airku

Relakan raga demi pertiwi

Kobarkan semangat tuk mandiri

 

Pemuda dengan otak dan cinta

Menggores sejarah demi harga bangsa

Pembuka tuk kebebasan semua

Pembangkit gelora seluruh negeri

 

Suaramu getarkan dunia

Tunjukan bangsa ini siapa

Memuja seni agungkan cinta

Geloramu, gelora kami jua

 

Kala banyak manusia mencaci

Karyamu tetap agung berdiri

Kala itu kami tak sadar

Bahwa Monas kini berbinar

 

Bangsa ini terpuruk sudah

Butuh semangat dan juangmu

Bangsa ini makin melemah

Butuh warisan gelora baktimu

 

Indonesia kini memerah

Kami malu akan semua baktimu

Indonesia kini memerah

Wariskan jiwamu seiring urat nadi

 

Ket: Puisi untuk Bung Karno

 

 


KITA SATUKAN RASA

                                                                                                            by Kund

 

Bermula dari latar berbeda

Berkata dari hati tak sama

Menyapa tuk saling kenal

Bercanda hidupkan dunia

 

Mungkin kita jauh berbeda

Tapi mungkin, kita khan bersama

Alangkah indah memupuk rasa

Hidangkan gelora penuh makna

 

Tanpa sengaja, kita kini bersua

Saling isi sedih dan bahagia

Terkadang muka tergores amarah

Terkadang kangen menyusup diri

 

Tali pengikat kasat mata

Tuk satukan jiwa bersama

Tuk berikan secercah langkah

Bertopang pada hikmah alam

 

Bacalah atas nama cinta,

Persahabatan dan kasih sayang

Hingga derai ungkapkan bahagia

Dan dekapan tak hanya ilusi

 

Rasa bukan sekedar hari ini

Rasa khan menyapa kau berada

Dalam langkah dan mimpi-mimpi

Dalam hati dan senyum merona

 

Mari satukan rasa

Walau yakin kita beda

Mari satukan rasa

Walau tak mungkin kita bersama

 

Mari satukan rasa

Sampai dunia menutup mata

Mari satukan rasa

Tuk sekedar memberi cinta

 

 

Minggu, 27 Januari 2002   16.19 WIB

 


KEMELUT CINTA

 

Alam bisikan sebuah fenomena

Gelora insan tuk menggapai rasa

Merepih sendu bergelut mimpi

Kala kasih inginkan lain

 

Pemberian mahkota berdasar kasihan

Lupa segala akan kesucian

Gelora terpancing tanpa terduga

Hingga semua berakhir hampa

 

Yang kucinta mengalihkan sayang

Merajut aku pada sahabatnya

Hingga sahabat tahu semua

Betapa kami pernah salah jalan

 

Emosi terkuak hilang kendali

Aku terkucil meratap kelam

Kenapa cinta kini tercampakkan

Ia berikan sekedar kasihan

 

Bukan sekedar cumbu dan dekapan

Bukan sekedar cium dan pelukan

Rasa ini menguak batas ruang dan waktu

Tak khan goyah walau sewindu

 

Rabu, 1 Mei 2002

( Sebuah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, doi memberikan tubuh tanpa rasa, bahkan menyuruh pada temannya )

 

 

 
 

 

 

 

 

 

BINGUNG

 

Sewindu melangkah bersama

Seakan tiada batas antara

Tersenyum dan duka berganti bersua

 

Kini aku merenung diri

Ada gersang yang kian tumbuh

Ada sepi nan dinginkan hati

Ada mendung menatap pandang

 

Kini tatap kucoba berpaling

Tuk sekedar renungkan hati

Tuk sekedar tetapkan rasa

Apakah langkah khan terus berayun

 

Kini kumelihat fenomena

Betapa pandang mengalihkan mimpi

Walau juga sebuah mimpi baru

Namun indah berasa kini

Dengan batas kejelasan dunia

Dengan batas status demikian ada

 

Aku bingung tentukan sikap

Kemana langkah tertuju kini

Jika semua berujung mimpi

Atau fakta yang berujung duka

 

Aku bingung kemana bersandar

Haruskah aku terus nanar

Atau mencoba menata kembali

Puing perjalanan yang kemarin terlupa

 

Aku harus bangkit apa adanya

Walau sepi kadang meronta

Walau rindu kadang bergelora

Menatap mentari melangkah tengadah

 

Yogyakarta, 11 Sept 2004

Ket: Seorang wanita yang berada dalam kebimbangan menentukan pilihan karena semua pilihan belum ada yang istimewa.


KERAGUAN

Dua jalan menggapaiku kini

 

Seakan batin ragu tuk memilih

           Semua janjikan kasih dan sayang

           Semua penuh penantian

 

Aku termenung pada semua

Ketika batin sendiri dan mendua

Ketika hati menyatu dan meragu

Langkah kemana harus kupilih

 

Ingin kukembali seperti jalan dulu

Namun status sadarkan akan posisi

Betapa tak mungkin dia mendua

Tak mungkin tanpa kejelasan hati

-

Ingin kumenempuh jalan ini

Tapi semua janji belumlah pasti

Bayang masa lalu terasa datang

Menggapai, ragukan semua angan

-

Aku termenung lagi

Meragu untuk sekian waktu

Entah esok khan datang mentari

          Tunjukan jalan kemana kan kupilih

 

 


BERPALING

 

Rasa sayang tumbuh menyeruak pasti

 Kesetiaan menjadi jaminan hati

 Betapa aku pasrahkan segala rasa

Tuk satu kesetiaan akan cinta

 -

 Namun kini semua tlah terkoyak

 Betapa fakta memilukan di depan mata

 Dia tergoda pada sebuah hati

 Dia berpaling campakan diri ini

 -

 Pilu rasa ini makin menggelora

Terasa sakit ingatkan kesetiaan dulu

 Kenapa aku mengalami duka lara

 Apa yang salah dalam langkahku

 -

 Aku menangis dan meratap

 Seakan nasib tak mungkin berharap

 Hanya pasrah akan keagungan-Nya

            Hanya bersimpuh akan ketentuan-Nya

 


NASEHAT KEANGKUHAN

 

 Semburatkan keangkuhan diri

 Tuk sembunyikan kesepian hati

 Namun kata demi kata ungkapkan semua

 Bahwa hatimu rindukan sebuah sayang

 Bahwa batinmu rindukan sebuah kesetiaan

 Apa yang terucap bukanlah yang engkau bisikan

 Apa yang engkau lakukan, bukan sebuah kejujuran

 Semoga alam mengetuk lubukmu nan dalam

 Semoga hidup berikan sebuah kehalusan

 Sampai engkau temukan jati diri

 sampai seseorang menggapai jalani jiwa

 Aku berdoa dengan setengah terpejam

 Semoga batinku mau mendengar

 Walau kuyakin mulut kan menolaknya

            Semoga kawan………

 

  


KEMANA

 

Sepenggal kisah bergulir pilu

Sebuah hati menapak ke depan

Temukan sapa dalam bait pujangga

Temukan rasa dalam sentuhan tangan bermakna

Sampai nasib berasa tanpa keadilan

Kenapa nikmat terasa sangat membumbung

Namun waktu seakan tak berpihak

Saat kami saling terjerat

Saat kami satukan emosi

Saat kami mimpikan masa depan

Bagai petir datangkan sebuah berita

Engkau tersungkur tanpa aku ada

Derita itu hanya untukmu saja

Sementara aku sendiri berharap cemas

Akankah kita mampu bersua

Walau engkau putuskan pergi saja

Walau kutahu itu solusi semata

Bukan suara jiwamu yang bergelora

Haruskah aku kini menerima

 Untuk sendiri dan menantu nikmat berikutnya

 Entah ada atau sampai semua lupa

 Aku terdiam dengan gejolak meronta

 Jadikan doa sebuah solusi semata

 Jadikan semua tuk perbaiki langkahmu

 Cobalah tatap mentari esok

 Betapa kebaikan tidak selalu satu jalan

 Betapa cinta tak selalu terbalaskan

 Betapa rasa tak selalu bertautan

 


PISAH

 

Sebuah ikatan terasa hanyalah sejarah

 Betapa dulu kita saling suka dan canda

Memberi dan meminta tanpa kisah nestapa

 Hari berlalu tanpa cela

-

Namun kini semua tak bermakna

 Ketika terasa tiada persamaan kata

 Ketika langkah berseberangan arah

 Dan hati hampa tanpa penyejuk raga

 -

 Tali terlepas dengan mata terbuka

 Saling melambai tuk langkahi jalan berbeda

 Semoga ini sebuah pelajaran cinta

 Bahwa semua yang datang akan pergi pada waktunya

 -

Aku termenung menata batin

 Mencoba tegar dalam kesendirian

 Mencoba tersenyum dalam kesepian

Semoga esok khan datang pengobat jiwa

 


AKU DAN BINTANG

 

 Kepada bintang aku mengadu

 Betapa hati ini bercampur sembilu

 Saat kata mulai kelu

Saat mata nanar tertuju

 -

 Kepada bintang aku meminta

Cobalah terangi jalan nan duka

 Sampai langkah kuat menerpa

 Segala juang khan kutempuh adanya

 -

Wahai bintang teman sejatiku

Akankah kita saling bersama

Ataukah sekejap kala malam tiba

Namun engkaulah bagai pelita

-

wahai bintang di ufuk sana

 Tunggulah aku datang menyapa

 Bersama arungi indahnya semesta

           Bersama tuk berbagi jiwa

 

  


TERSIPU

 

Kerlingan itu terasa jauh tergapai

Hanya kata salam menjengukku pasti

 Setiap rindu beradu dengan salam itu

 Sampai harapku kian sepi menanti

 -

Mungkin makna sembunyikan rasa

Tersipu dalam ungkapan mesra

Tersipu tuk katakan cinta

Tersipu entah dengan apa berkata

 -

Insan menatap di kejauhan hati

 Mencoba tengok manisnya rasa

Namun gapaimu tak mampu juga

 Satukan kita dalam ungkapan semesta


PERPISAHAN ITU

 

Perpisahan itu

 tinggalkan setumpuk kisah rindu

Betapa kepiluan diri mendera setiap hari

seakan bayang semua hadir mengusik ilusi

seakan semua tersenyum ingatkan masa itu

Perpisahan itu

terkadang kelu aku mengucap

tuk sekedar menyebut nama mereka di benakku

tuk sekedar mengingat masa manis dulu

Perpisahan itu

membuat lunglai semangat hidupku

membuatku tertunduk lesu

 mengusak linangan mata yang mengering

Entah sepi ini khan mana berujung

Entah esok aku khan mampu melangkah

Walau yakin semua akan goyah

walau yakin hati nan gundah

Namun semua berikan pelajaran diri

Bahwa pertemuan berujuang perpisahan

 bahwa keabadian hanyalah milik Tuhan

bahwa perpisahan menjadi menyakitkan

Siang ini

 Hanya bisik kuucapkan doa

Semoga semua suka adanya

Semoga nasib cepatkan kita bersua

 Semoga……


TERPESONA

 

Indah buaian kata dalam dengarku

Seakan kuterbang ke langit tujuh

Entah apa membuat aku terpesona

Hingga terlupa hati ini dimana

-

Seakan ragu tuk menolak

Seakan sayang tuk tinggalkan pujian

Engkau datang silih berganti

Hiburkan aku dalam kesendirian ini

 -

 Wahai hati nan lemah ini

 Mengapa aku mudah jatuhan rasa

 Sementara setia tak seiring kata cinta

 Dan duka seringkali menerpa

 -

Wahai aku yang sedang bisu

 Meratap mencari kepastian itu

Semoga ada tangan tergapai

Tuk ajak aku melangkah pasti


SENDU

 

Engkau datang berikan sejuta janji

 Hingga hati ini terpuruk indahnya rasa

Namun semua berlalu tanpa rupa

 Engkau pergi tanpa tau sakitnya beta

 

 Walau kutahu engkau akan memilih

 Diriku meronta bukan pilihan

 Namun cinta itu kini masih bersemi

 Mencoba menanti sampai ujung cerita

-

 Wahai hati nan sepi sembilu

 Kucoba tegar dalam kesendirianku

 Walau engkau dan dia riang di depan mata

 Aku tersenyum tuk tutupi luka

 


GEJOLAK MUDA

 

 Gejolak hati bagai semburat gunung api

 Menggelegak mencari jati diri

Mencoba menerpa segala aral menanti

 Mencoba menyibak semua kekakuan emosi

 

 Engkau tumbuh dan mekar bak putri

Tebarkan senyuman pada semua alam

 Hingga banyak hati terjatuh di pangkuan

 Namun tegar lupakan semua rayuan

 

 Gejolak itu terbang bersama angan

 Mengungkap segala nafas jati diri

Mencoba menata aturan hati semesta

 Sampai temukan pujaan hati segala


KOSONG

 

Bulan berganti tanpa dapat terlupa

 Bersamamu kita arungi suka dan duka

 Walau kutahu engkau suka lepas emosi

 Namun hatiku tunduk pada pandangan itu

 -

Waktu berlalu tanpa terasa jemu

 Kala kau tawarkan merenda seperti dulu

 Aku tersenyum menerima segala rasa

 Mimpikan hidup dalam dunia nyata

 -

Hingga kabar itu begitu menyengat

 Seakan tak percaya semua yang kudengar

Betapa engkau yang selalu kupuja

 Harus pergi tuk tinggalkan dunia

 -

 Aku tersentak dan tertunduk lesu

Mengapa semua kini terasa kosong

 Entah dengan apa kuisikan hidup ini

 Jika semua cintaku kini tlah pergi

 -

Wahai dewa pujaan hamba

Berikan kekuatan dari sikap putus asa ini

Semoga aku punya keberanian hati

Tuk melangkah sekedar menggenapkan hari


AWAL SEBUAH PESONA

 

Keteduhan itu membuat batin ini terpana

 Betapa semua tlah kuimpikan sejak dulu

 Hingga aku termangu nantikan bayangmu

 Tuk ajarkan cinta dan belaian sayang

 -

 Indah berasa kuungkap rasa ini

 Walau tak mungkin semua terucapkan

 Namun engkau tau akan semua isi hatiku

 Betapa segala tlah kupasrahkan

 -

 Aku kini mengenal indahnya dunia

 Lewat pandang dan sorot matamu

 Lewat senyum dan untaian rayumu

 Lewat uluran dan belaian kasihmu

 -

 Smoga ini bukan awal mimpi belaka

 Yang khan membuat kita lupa dimana

 Smoga ini adalah awal langkah kita

 Tuk saling memberi dan berbagi rasa


KADO SAYANG

 

Bersama waktu benih itu tlah tumbuh

 Walau sungguh kumalu mengungkap

 Namun keberanian kupaksakan jua

 Demi sebuah hari istimewa

 -

 Sebatas rasa yang kini terpendam

 Kuberikan ucapan sebagai kado sayang

 Semoga malam nanti engkau membuka hati

 Menerima kado yang mungkin tiada arti

-

 Aku tersipu dalam kejujuran ini

 Betapa malu tiada lagi terkatakan

Namun kejujuran hati biarlah datang

 Tuk sekedar pengakuan….

 Tuk sekedar ungkapan

 Bahwa, aku sayang kamu seorang !


MEMELUK MIMPI

 

Tak berasa langkahku menggapai tempat ini

Walau dulu buaian penuh kenang,

Namun kini semua serba usang

           Hanya cemoohan yang selalu datang

 

 Aku jenuh pada semua sapa

 Aku sepi dalam semua rasa

 Entah kenapa dan siapa yang hilang

 Kini kumeradang tanpa tau tujuan

 -

Bila pujaan jauh kugapai

Tinggalah sendiri aku memeluk mimpi

 Hanya mengisi hari-hari nan kosong

 Tanpa tahu ujung segala tujuan

 -

 Kucoba merenda setapak dalam langkahku

 Kucoba tidak menangis dalam deritaku

 Kucoba tersenyum walau tahu itu palsu

 Aku tegar dalam kemunafikan

 -

Mimpiku, engkau datang menggapai tubuh ini

Mimpiku, engkau membela rambut kusam ini

 Namun semua sepi tanpa mau mengerti

Hanyalah perih dan sembilu tak terobati

 -

 Wahai ketegaran, dimana engkau kini

Akankah aku layu sebelum waktunya tiba

 Akankah aku terjatuh dalam kesendirian ini

 Kepada malam aku bisikan semua derita

 -

 Kini kucoba hadapi semua realita

 Memilah antara mimpi dan fakta

Walau kutahu pahit adanya

 Semoga esok mampu melangkah bersamanya

 

             


PENANTIAN

 

Malam terus berganti tanpa kusadari

 Lamunanku hanyutkan dalam ilusi

 Betapa kenang tak mungkin terbuang

 Aku meradang sendiri dalam muram

 -

 Cinta terpisah ruang dan waktu

 Tiada kata selain harus menunggu

 Jera hati tuk slalu meminta

 Karna semua berujung nestapa

 -

 Aku merenda hari tanpa ceria

 Hingga kadang kulambaikan pada semua

 Tuk sekedar mengisi sepinya rasa

 Dengan berteman diantara bekunya rasa

 -

 Aku tersenyum tanpa mau meminta

 Penantian ini entah kapan berujung

 Tiada kata bijak selain harus berdoa

 Smoga cintaku tak sekedar ratapan belaka

 

                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                        MERAYU SANUBARI

                                                           25 Juni 2008

kenapa harus selalu meratap
jika semua jalan penuh kesedihan
bukankah biasa sedih menjadi bukan kesedihan
bukankah biasa senang menjadi tidak menyenangkan

sedih dan senang hanyalah cara kita memandang
makan menjadi kesedihan, apabila membatalkan puasa
kematian menjadi tidak berasa, apabila si fulan bukan keluarga kita
kecelakaan adalah tontonan, apabila terjadi saat perlombaan
semua kembali pada cara pandang

 

terkadang kita harus merayu lubuk sanubari
untuk suka, senang, dan mencintai
untuk sedih, kecewa, dan membenci
untuk sekedar mengingat dengan setia
untuk sekedar melupakan dengan makna

jangan mudah mencinta, hanya karena kata-kata
jangan mudah bermimpi, karena kebaikan yang diterima

 

 

Kadang aku termenung kelu
Betapa dulu terantuk ketidakpastian
Tertawa dalam kesenangan semu
Menangis tanpa tahu jalan

Kadang aku tersenyum kini
Betapa semua tebarkan kasih sayang
Tuk berbagi dalam keterbatasan
Tuk memberi dengan keikhlasan

Semua tlah menemukan perdikan hati
Tuk obati hausnya kegersangan iman
Tuk berikan secercah kebahagiaan
Bersama, tuk memberi tanpa diminta

Jalan ke depan makin terbentang
Betapa hidup nan singkat, harus bermakna
Aku tengadah menatap semua
Tuk katakan kepadaNYA, aku bisa !

11 responses to “PUISI

  1. Asslmlkm..Pak Jiwo..salm knl..nggih…

  2. indah puisi-nya salam kenal mas… h.e.he.h.e.he

  3. wah keren dan Buagus2 kang Puisinya,,, Ijin Copas yo kang,,,,

  4. hai..aku Vivi.aku 37 tahun,janda beranak 1.aku pengusaha.yaa…walaupun belum jadi
    milyuner,banyak orang bilang aku janda kaya.aku mencari seorang pria baik2 untuk dijadikan
    suami.apapun keadaannya aku terima dengan ikhlas,asalkan dia setia,mencintai aku dan
    menyayangi anaku.bila ada pria yang serius,hubungi aku di nomor hape 089606567271.dan
    tanda dari orang yang serius adalah langsung menelepon,tidak smsan kaya anak muda.

  5. Puisi2 yg sangat indah..!ijin copas ya kang…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s