ADIPURO : desa di atas awan

Kadang kita harus pandai memadukan irama langkah kehidupan, agar mampu membedakan mana pekerjaan, maka kegiatan sosial, dan mana hobi. Sehingga satu sama lain tidak saling tumpang tindih karena beda ketiga hal tersebut jelas. Pekerjaan menghasilkan uang (dengan asas profesionalisme), kegiatan sosial sering tidak menghasilkan uang (dengan asas kemanusiaan), dan hobi boleh jadi menghamburkan banyak uang hehehe… (dalihnya apa ya.., demi refreshing kali)

Alkisah, dataran tinggi dieng lumayan hancur luluh kerusakan lahannya akibat pola budidaya tanaman kentang. Kenapa? karena guludan yang dibuat harus tegak lurus garin kontur (baca: vertikal). si “kentang” gak tahan dengan genangan air atau tanah yang terlalu basah pada waktu lama, begitu kira-kira jika dia kita investigasi.
Nah, ternyata program kentangisasi telah masuk wilayah Magelang, tepatnya daerah lereng Gunungsumbing (kec Kajoran dan Kec Kaliangrik). Pucuk dicinta ulam tiba. Akunya ketemu salah seorang anggota dewan setempat. Tanpa basa-basi, aku berargumen dari A-Z tentang bahaya kerusakan lahan akibat kentangisasi tersebut. Lha mbok yao dikembalikan pada bawang putih, kubis, lobak atau loncang (bawang daun); agar parahnya gak banget-banget.
Rupanya beliau tersadar dan tertarik untuk memberikan wawasan kepada petani, dengan aku diminta memberikan penyuluhan di suatu waktu. Akupun dengan semangat meng-iya-kan.

Akhirnya waktu itupun tiba. Jumat sore, 9 nov aku diundang ke rumah beliau (kec kaliangkrik) untuk bersama-sama menuju ke lokasi kelompok tani. Aku ng-rental APV yang tanjakane lumayan kuat (kali ini gak berani naik thunder-ku karena musim hujan dan lokasinya di pucuk gunung, iklane thunder khan buat ngebut di kota doank :P), ditemani 2 asisten, dan mengajak Pak Heri, tokoh pemberdaya masyarakat Desa Sambak – Kajoran.

Iringan 2 mobil menyusuri lereng bagian selatan gunung sumbing. Dekat dengan pasar kaliangkrik, kami mulai menanjak. Pertama melewati kebun campuran (hutan rakyat) yang cukup hijau. Namun anehnya makin ke atas makin gundung, dengan pola tanam sayur-sayuran. Waktu itu sekitar jam 16, jadi aku masih bisa mengamati kanan kiri bagaimana kondisi lahan. Lumayan buat bekal penyuluhan. Melihat kemiringan lereng, rasanya ngeri dengan slope > 45 derajat (>100%)masih dibudidayakan untuk sayuran. Padahal teori konservasi menyebutkan kemiringan > 20 derajat (> 45%) HARUS dihutankan! nah loh….
Aku terkesima manakala di atas puncak begini, masih ada hunian penduduk. Ngeri juga saat lewat jalan berkelok tapi disatu sisi jurang menganga puluhan meter dan mau longsor!

Akhirnya kami disambut warga di halaman masjid. Kupikir penyuluhannya di salam masjid, ternyata di ruang sekolah (MI). Seperti biasa budaya bersahaja, saya harus bersalaman satu-satu pada warga yang berjajar. Kalo sudah begini, rasanya aku sudah berumur > 40 th hehehe. Di ruang kelas telah menanti 50 orang lebih, para bapak di barisan depan, dan para ibu di barisan belakang. Aku sungguh terkesima karena pakaian mereka sangat islami (banyak yang berjenggot, bersarung, berpeci, dan berkerudung). Sempat pikiran nakalku berbisik “ini bukan aliran sesat khan?” hehe, maklum, berita TV khan sedang in tentang itu, lalu berangsur pindah ke “sensasi geng motor”.. ups!..

Bapak anggota dewan membuka sepatah kata dan selanjutnya menyerahkan ke aku. Kata asistenku, aku berkicau hampir 1,5 jam karena waktu mendekati jam 18. Untung aku persiapan mengangkut whiteboard dan spidolnya 3 warna. Jadi aku enak menulis dan menggambar. Aku bercerita dari level sederhana, mulai dari hakekat penciptaan manusia sebagai kholifah atau manajer alam semesta ini. Dimana manusia harus mampu merencanakan, menggerakan, melaksanakan dan mengevaluasi setiap langkah pengelolaan alam (lahan).

Saya coba bertanya, apa sich keluhan atau masalah yang dihadapi terkait dengan lahan? kata mereka, (1) penurunan produktivitas lahan, (2) hama penyakit yang makin banyak, dan (3) debit mata air yang makin menurun. Aku tersenyum dalam hati karena ketiganya sebenarnya berkorelasi. Agar mereka terbawa ke problem solving, saya tanya “siapa bapak/ibu yang paling tua di ruangan ini?”, kemudian saya tanya beliau, “adakah yang berubah pola pengelolaan lahan jaman simbah-simbah dulu dibandingkan sekarang, adakah beberapa jenis tanaman yang mulai punah?”. Ternyata terespon dengan baik, bahwa dulu di lokasi ini banyak hutan dengan jenis tanaman puspo, bambu, dll. Sekarang? sim salabim berubah jadi tanaman semusim.

Aku mencoba membawa mereka ke ranah solusi. Pola pemupukan yang 30 tahun melulu NPK (3 unsur) padahal pupuk lengkap tanaman butuh 16 unsur hara, jadi selama 30 tahun defisit 13 unsurhara. Pola konservasi dimana tanaman harus ditanam pada kemiringan lereng yang sesuai, saya sampaikan dengan bahasa gambar. Ledakan hama dan penyakit salah satunya disebabkan karena sang predator yang ikut musnah oleh ganasnya pestisida yang tak terkendali. Dan kekuatan tanaman keras yang berumur ratusan tahun dalam menyedot air bawah tanah menjadi mata air.

Ada beberapa joke ringan yang saya lontarkan secara spontan agar hadirin tidak bosan. Alhamdulillah mereka banyak tertawa sehingga suasana menjadi segar. Joke, “desa ini namanya adipuro, padahal piala adipura yang diberikan negara (KLH) merupakan penghargaan lingkungan, saya berdoa, semoga lingkungan di desa ini akan lestari. amin..” (memuji, menyindir juga hehehe). Joke, “kadang kita tidak sadar bahwa yang dilakukan selama ini adalah membuat kerusakan berjamaah. seperti, bercocok tanam di lereng yang terjal, membersihkan rumput di tampingan teras padahal berfungsi mencegah erosi. dll”. Joke, “agar tanaman besar tidak ditebang kadang butuh diberi kembang dan beras kuning karena masyarakat kita lebih takut itu daripada papan nama berisi larangan”.
Pak Heri menambahkan 15 menit sebagai tokoh yang memang sudah melakukan pemberdayaan masyarakat untuk melestarikan lingkungan di desanya. Kepala desa dan penduduk bersemangat minta dibimbing untuk mengelola lingkungannya. Termasuk dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa.

Kami dijamu makan di salah satu rumah penduduk. Kemudian kami berpamitan pulang. Kesan paling menegangkan adalah saat pulang, karena sejak dari rumah menuju parkiran mobil, kami sudah berjalan setengah meraba saking tebalnya kabut. Mobil kami berjalan sangat lambat karena jarak pandang kurang dari 5 meter! bahkan buat belok kiri atau kanan harus berhenti dulu, melongok ke keluar kaca dan berjalan lagi. Ngeri lagi waktu berpapasan dengan truk, karena jalanan sempit dan mobil kami harus memilih sisi yang di bibir jurang!
Hampir 2 km kami harus berjalan dengan selimut kabut, sebelum akhirnya makin menipis saat makin ke bawah (mendekati kecamatan kaliangkrik).

Setelah kutengok di googleearth, ketinggian desa itu sekitar 5.300 feet (1.600 m dpl). Padahal waktu di sana serasa 2.500 m dpl, entah mana yang benar…..

18 responses to “ADIPURO : desa di atas awan

  1. saya imron, asli kelahiran adipuro (dulu prampelan). Kondisi alam desa kami memang seperti itu. Ada beberapa permasalahan yang kita hadapi di sana. (1) kondisi alam (2) kepemilikan lahan sempit (3) SDM (4) masalah kerusakan lingkungan. Kami sangat senang jika ada sebagian hamba Alloh SWT peduli terhadap masalah-masalah kami. Pada intinya, bagaimana dengan kondisi seperti itu kita bisa hidup layak tanpa harus mengorbankan lingkungan kita menjadi rusak. Terima kasih

  2. saya sgt stuju dengan pndapat bpk imron,sy jg asli adipura(19 th).mnrut saya :
    (1) secara fsik kndsi alam kami memang bgtu,
    (2) keterbatasan lahan
    (3) modal terbatas sehingga penanaman terkesan asal2an.
    tp kmi ckup enjoy tggal di adipuro walaupun segi pertanian ….bsa diktakan kurang lah..
    yg plg pntg adalah bagaimana upaya pngkatan mutu msyrakat dalam bdg pertanian bisa ditingkatkan(modernisasi).
    (4) kurangnya pengetahuan,karena sebagian besar petani adipuro hanya mengandalkan pengalaman yg di ajarkan turun temurun,dan tidak meggunakn disiplin2 ilmu pertanian modern sekarang ,khususnya.untuk itu kami selaku warga adipura mengucapkan terima kasih kpdbpk rekan2 smuanya yg telah meluangkan wktu jalan2 ke adipura dan skligus mmberikan penyuluhan.terima kasih

  3. makasih, jazakumulloh khair atas pencerahannya pak, semoga warga masyarakat prampelan (saya lebih suka nama ini dibanding adipuro) makin sadar akan lingkungannya.
    Menurut saya, datangnya malapetaka/bencana tidak datang hanya karena faktor alam saja, tapi ada faktor “X”, yg bisa berupa; ujian, balasan dari Pencipta karena durhakanya penduduk suatu daerah. saya melihat sebagian besar masyarakat prampelan hidup dalam nuansa religius yang lebih kental dibandingkan dengan desa-desa di bawah awan:) sebagian sudah meninggalkan syirik, bid’ah dan takhayul dan khurofat. walaupun masih ada saja sebagian masyarakat yang tetap teguh memegang tradisi2 peninggalan moyang yang kental dengan nilai-nilai syirik seperti saparan (nanggap wayang untuk talak balak), ruwahan, dll, dll.
    Semoga sinar Islam makin bersinar di “negeri atas awan”.
    Peduli lingkungan dan peduli akherat, solusi yang tepat.

  4. na begitulah adipura, saya berharapsupaya pemerintah mengadakan revolusi peradaban di desa adipura, baik dari segi disiplin ilmu, peningkatan kwalitas dan kwantitas penduduk, di samping itu juga agar pemerintah memberantas budaya budaya syirik dan TBC ( takhayul, bid’ah, churofat ) insyaAllah akan menjadi desa yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

  5. semoga pemerintah dapat menjadikan desa kita menjadi desa yang maju karena desa kita termasuk desa yang berpotensi untuk menjadi fesa pariwasata

  6. saya juga asli adiporo tapi sekarang lagi belajar di jakarta, saya se7 dngan pendapat abu salma(antum ust sidqon?)………….

  7. aku asli orang adipuro prampelan kaliangkrik lo….siapa mau kesana tak tunjukin…..pasti

  8. Pingback: 2010 in review | Ki Asmoro Jiwo

  9. nama saya Maulana fathuddin. saya asli adipuro prampelan. menarik membaca artikel ini, mengingat saya sekarang berkarir dibidang komputer (IT) di enthusiast komputer ramai mall lt 2 blog b27/28 yogyakarta. jadi kentangisasi yg paling menonjol terhadap perubahan jenis tanam yg berpengaruh terhadap perubahan ya..? . bagimana kalo kita pindah jadi komputerisasi saja ( hehehehe becanda loh..). ya klo gitu wacananya bagi mana dengan Actionnya ? sebab SDA berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat prampelan pada umumnya. Artinya pola yg berubah mebutuhkan pengertian yg berubah terhadap proses pemasaran produk sayuran ( mengingat disanalah mereka membuat tumpuan ) sementara pemerintah tidak bisa membantu kami bagimana pola Agrobisnis ini serasi dg alam dan kebutuhan. simplenya sih.. kami suka menanam yg hasilnya bagus bagi kami… tanpa harus berfikir jangka panjangnya..( harus ada edukasi yg rutin, bukan wacana saja).

  10. mu'abid ibnu zhar

    saya asli dari adipuro dan saya berharap semoga benar-bena menjadi ADIPURO THOYBAH

  11. q cah jogja entuk istri prampelan….

  12. Azis Abu Zamzam

    Kulo Asli putra daerah Prampelan,Adipuro….
    Alhamdulillah……..Ternyata banyak rekan yang sudi memperhatikan kelangsungan hidup Desaku tercinta…
    sebetulnya banyak sekali hal2 yang perlu kita bahas dan kita pelajari dari beliau Ki asmoro Jiwo tentang modernisasi pertanian….
    tapi mungkin lebih enaknya jika kita cari bahan ilmu dari Ki asmoro tentang ilmu yang bisa kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan para petani di desa tercinta Adipuro….
    kalau kita membahas tentang Syirik,Bid’ah,Takhayul dll terkait dengan potensi pertanian yang menurun,apalagi menyinggung masalah adat istiadat desa yang notabenya sudah menjadi kesepakatan mufakat Desa,apalagi tidak tahu apa maksud dan tujuan dari masyarakat melakukan hal tersebut,lebih baik kita bahas bagaimana kita memajukan potensi Desa kita…..
    yang penting untuk kita bahas adalah “bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik kepada desa tercinta kita…..

    Dan kepada beliau Ki Asmoro Jiwo, Kami Menunggu Kehadiran anda untuk memberikan Inovasi dan Motivasi khususnya kepada Karang Taruna Adipuro Yangmana menjadi Pelopor pertanian Adipuro mendatang……..

  13. Alhamdulilah,hdup ayem d dsa ku,walaupun sgi prtanian sangt jelek,tp smua kita serahkan sama yg Kuasa,amin,(rizki gk akan kmana,)

  14. terima kasih buat ki asmoro yang telah memberikan informasi dan motifasi kepada masyarakat adipuro pada umumnya dan pemudanya pada khususnya, mohon maaf bukanya saya tidak suka kepada komentar2 anda semua, tapi kalau membahas masalah syirik, bid’ah dll itu menurutku terlalu rischan apabila di kaitkan masalah pertanian, karena kita harus mengakui bahwa masyarakat kita itu sudah pintar, saya saja yang masih bodoh bias membedakan antara ilmu agama dan pertanian, sekali lagi mohon maaf, bukan maksud saya menyinggung seseorang tapi ini hanya pendapatku,

    • mbak puji yang baik hati,
      harap dimaklumni tiap kepala itu bisa beda pemikiran dan keyakinan
      dan kita tidak bisa memaksakan orang lain itu harus begini atau begitu
      yang penting kita nyaman dengan diri sendiri dan terus berusaha membuat kebaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s