“Ilmu Tanah” yang salah asuhan

Konon, tahun 80an adalah era keemasan bidang ilmu tanah karena banyak proyek transmigrasi yang membutuhkan ilmu ini untuk mencari lahan-lahan yang layak menjadi lokasi trans. Namun pasca ordebaru ini agaknya permasalahan tanah didominasi oleh konversi (alihfungsi) dan kerusakan (erosi-longsor) lahan.

Ranah konversi berorientasi pada permasalahan hukum daripada tanah itu sendiri, baik fisik, kimia dan biologi. Sehingga bidang ini murni menjadi kapling Badan Pertanahan yang notabene waktu itu “tidak berbau tanah” (lebih banyak berbau geografi dan geodesi). Sehingga wajar apabila Badan Pertanahan sendiri belum jelas mendefinisikan “subur” selain dengan kalimat “tanah yang beririgasi teknis”.

Ranah kerusakan (erosi-longsor) sudah dikapling oleh Kehutanan yang punya dana konservasi menggunung. Ternyata di sana sudah dikapling oleh ahli-ahli hutan yang notabene lebih tepat membahas illegal loging dan pemanenan hutan. Bahkan ada anekdot agak miring bahwa “Kehutanan ya tugasnya menebang hutan, dan orang DAS bagian menanaminya”.

Sehingga Kehutanan kurang ‘ngeh’ pada permasalahan erosi-longsor. Mereka lebih tertarik pada “hutan mana yang siap ditebang..”. Masalah menjadi komplek manakala dicari, siapa yang mencuri, siapa yang melindungi….

Jika menengok program lingkungan hidup, rasanya tidak lebih dari membuat slogan, sekedar menilai tercemar atau tidak, dan program menanam pohon. Belum ada yang menukik bagaimana solusi pada tanah-air yang tercemar. “yaa… tanam pohon” pokoknya hehe…

Lalu dimana posisi dan peran ahli tanah waktu itu?

Ahli tanah sudah dicap dan akhirnnya terkarantina sendiri dalam dunia pertanian. Tragisnya deptan tidak hanya ‘mengasuh’ ahli tanah, tapi seabrek yang lain juga dibina, seperti ahli gulma, ahli sosial ekonomi, ahli hama penyakit, ahli tanaman pangan, ahli peternakan, ahli perikanan, dll. Walhasil, dana di deptan menjadi tidak fokus dan tercerai berai ke banyak bidang ditambah agenda yang segudang.

Nasib petani yang selalu di ujung tanduk turut nyata menurunkan minat anak muda untuk mendalami ilmu pertanian yang di dalamnya terdapat jurusan ilmu tanah. Sederhananya, terpuruknya pertanian membuat terpuruk ilmu tanah juga. apalagi nama ini memang tidak dikenal dan tidak menarik.

Melihat asbabul nuzulnya, ilmu tanah di Belgia sana menginduk pada bidang ilmu kebumian. sehingga timbul wacana agar ilmu tanah di Indonesia mengganti induk semangnya menjadi ilmu kebumian.

Salah satu bidang yang belum tersentuh secara mendalam dan ahli tanah paling banyak punya modal ke sana adalah REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG.

Orang geologi/tambang tidak punya basic dalam budidaya tanaman atau revegetasi yang sering menjadi kartu as dalam reklamasi tambang. Orang pertanian juga berkutat pada tanaman pangan dan tanaman hias daripada tanaman keras. Orang kehutanan hanya tahu jenis tanaman hutan dan budidaya di tanah ‘normal’ (subur), tidak ada basic menyulap tanah tercemar menjadi sesuai (proses bioremediasi/fitoremediasi).

So, inilah kapling terluas untuk bidang ilmu tanah.

Bagaimana caranya?

Tentu Pertanahan yang sudah kokoh posisi dan jangkauannya punya peran yang sangat penting. Setahuku, semua proses pemanfaatan lahan harus berlisensi Badan Pertanahan, seperti perkebunan dan juga pertambangan. Nah, di sinilah Pertanahan perlu menerjunkan tim ahli tanah yang berperan bukan hanya menilai layak tidaknya suatu lahan diusahakan, tetapi juga mengawal dalam proses reklamasinya agar tercapai pelestarian lingkungan yang sesungguhnya. Hal ini bisa juga mendukung isue membuat solusi menurunkan pemanasan global, dll.

Langkah pertama tentu melakukan identifikasi kepakaran secara intern pada para ahli tanah. Kemudian membentuk tim kerja yang solid (Baca: tidak selalu gabungan profesor berarti ampuh di lapangan).

Langkah kedua adalah mencoba mengenalkan para ahli tanah agar ‘familiar’ dengan dunia pertambangan karena sekian lama ahli tanah terbelokkan hanya pada permasalahan pertanian (kesuburan tanah) semata.

Langkah ketiga adalah publikasi dan promosi. Se ahli apapun, kalo tidak dikenal, ya percuma hehe…

5 responses to ““Ilmu Tanah” yang salah asuhan

  1. Saya kenal sampeyan lho Mas, selamat datang calon cendekiawan di kampus yang disiplin, kejuangan dan kreatifitas.

    Semoga banyak yang mulai sadar datangnya “lahan baru” ini

  2. asep barkhah, mahasiswa ilmu tanah ipb

    VIVA SOIL……………………..!!!!!!!!!
    sya kurang setuju klo pakar-pkar ilmu tanah hanya berfokus pada pertanian saja

    dosen saya sendiri, banyak yang ahli dan juga aktif di bidang reklamasi lahan bekas tambang dan juga bioremediasi’ bulan november pun saya dan temen2 akan mengadakan sebuah seminar yang akan membahas mengenai reklamasi lahan bekas tambang

    sya harapkan semoga kita semua sadar akan pentingnya tanah yang merupakan sumber kehidupan yang g tergantikan dan juga ilmu tanah sendiri, karena ilmu tanah itu sangat kompleks, tidak hanya terfokus di bidang pertanian saja, tapi juga lingkungan

    salah satu sumbangsih dari ilmu tanah adalah
    penanganan masalah banjir dengan biopori

    MUDAH-MUDAHAN KE DEPANNYA LAHIR TERUS MANAGER-MANAGER BUMI YANG AKAN MENYELAMATKAN BUMI ITU SENDIRI

    VIVA SOIL………….!!!!!!!!

    BRAVO ILMU TANAH………………..!!!!!

    INGAT !!!!! JANGAN MEREMEHKAN ILMU TANAH…….. Karena ilmu ini dari dulu, sekarang dan masa yang akan datang akan sangat dibutuhkan

  3. saya juga mahasiswa ilmu tanah di upn jogja, sekarang sudah tergusur.. jurusannya diganti.. tapi tetap semangat selama masih ada tambang yang dibuka, kesempatan kerja masih sangat terbuka dengan lebar hidup ilmu tanah

  4. Ilmu Tanah sebenarnya sangat bagus tp dengan persaingan yang ketat ilmu tanah terasingkan, bahwa ilmu tanah sebenarnya ilmu dasar untuk semua aspek di bidang pertanian, kehutanan, pertambangan dan lain sebagainya.

  5. Lalu dimana posisi dan peran ahli tanah waktu itu?

    Ahli tanah sudah dicap dan akhirnnya terkarantina sendiri dalam dunia pertanian. Tragisnya deptan tidak hanya ‘mengasuh’ ahli tanah, tapi seabrek yang lain juga dibina, seperti ahli gulma, ahli sosial ekonomi, ahli hama penyakit, ahli tanaman pangan, ahli peternakan, ahli perikanan, dll. Walhasil, dana di deptan menjadi tidak fokus dan tercerai berai ke banyak bidang ditambah agenda yang segudang.

    Nasib petani yang selalu di ujung tanduk turut nyata menurunkan minat anak muda untuk mendalami ilmu pertanian yang di dalamnya terdapat jurusan ilmu tanah. Sederhananya, terpuruknya pertanian membuat terpuruk ilmu tanah juga. apalagi nama ini memang tidak dikenal dan tidak menarik.

    ” Yang dibutuhkan untuk merubah kondisi saat ini adalah semangat …” kutipan dari Ir. Soekarno
    P. Kun khan lebih mengerti kenapa kok harus seperti itu..
    Siapa dulu..? Kapan ….? Sampai kapan..?
    Kita para generasi muda, mulai dari sekarang, sampai entah kapan … kondisi alam Indonesia (pertanian) menjadikan Rakyat Makmur Raya
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s