MENGHAKIMI ORANG LAIN

Tidak ada watak yang sama antara orang yang satu dengan orang lain di dunia ini. Itu adalah pernyataan klise yang semua orang tahu dan menyetujuinya. Namun kita terkadang tidak mau tau dan tidak mau mengerti perbedaan itu.

Kadangkala, ketika orang lain membuat kesalahan, kita akan berusaha menyalahkan dan melampiaskan dengan kemarahan yang tanpa batas (baca: sangat marah). Tetapi bila kita sendiri membuat kesalahan, orang lain tidak boleh serta merta menyalahkan, harus maklum (karena kita khilaf/lupa), dan tidak boleh sama sekali memarahi kita.

Bila orang lain salah, tanpa sadar ke-ego-an kita akan muncul dengan mempengaruhi alam pikir dengan keyakinan “saya benar” atau bahkan “saya pasti benar”. Keyakinan inilah yang kadang menjerumuskan kita untuk menghakimi orang lain. Kata “menghakimi” berarti pula menganggap kita hakim dan orang lain adalah tersangka. Sebaliknya, bila kita bersalah, kita tidak mau dihakimi orang lain. Hati nurani pasti menolak jika kita dijadikan “tersangka” karena hampir tidak ada “tersangka” yang membuat kesalahan akan merasa senang dan bahagia. Jika fakta ini kita ketahui, masihkah kita mau menghakimi orang lain?

Menyalahkan seseorang tidak perlu dengan kemarahan. Tujuan utama memberi peringatan adalah agar orang yang diberi peringatan menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi kesalahan itu di kemudian hari. Kemarahan hanya akan melahirkan sakit hati dan dendam pada orang yang dimarahi. Coba tanyakan pada diri anda sendiri, maukah anda dimarahi? Pencuri yang benar-benar mencuri saja tidak mau dikatakan “pencuri”.

Mungkin anda merasa termasuk golongan orang-orang yang sabar. Tetapi anda menjadi tidak sabar lagi ketika melihat orang lain yang beberapa kali diberi peringatan ternyata tetap tidak mau merubah perilakunya (baca : kesalahan/kekeliruan menurut anda). Anda marah mungkin disebabkan perasaan “dilecehkan” karena peringatan anda tidak digubris.

Kita harus hati-hati menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Apakah kesalahan itu murni kesalahan atau sebenarnya merupakan “kebiasaan” orang itu. Terkadang yang terakhir ini yang sering jadi sumber konflik. Kita harus menyadari bahwa perbedaan antar manusia juga dalam hal kebiasaannya. Semakin dekat seseorang (teman, pacar, keluarga), maka kecenderungan untuk memperkecil perbedaan (baca: menyamakan kebiasaan) akan semakin besar. Tetapi adakalanya perbedaan itu tetap menjadi perbedaan, dalam arti tidak bisa disamakan. Perbedaan ini dapat menyangkut kebiasaan kecil sampai yang menyangkut hal prinsip kehidupan. Untuk itu jalan terbaik menghadapi ini semua adalah keyakinan bahwa orang lain berbeda dengan kita dan hadapilaj perbedaan itu dengan saling pengertian dan kasih sayang. Rasa kasih sayang yang besar akan menutupi perbedaan itu.

One response to “MENGHAKIMI ORANG LAIN

  1. Contoh Menghakimi Orang Lain adalah dengan sengaja tidak mau bertemen atau kontak dengan org tsb shg membuat org tsb merasa bersalah dan bingung…pdhl di kemudian hari org yang menghakimi ini selanjutnya sering dibicarakan orang sebagai orang yang prefectionist dan cenderung tidak punya empati….tidak lama kemudian org yang menghakimi ini berubah prinsip dan prilakunya menjadi seperti anak kecil yang takut dinilai kesalahannya baik salah prinsip maupun salah prilaku…tidak heran ketika org yg mengenalnya keseharian sebagai org yg sgt introvert dan kaku menilai dia sebagai org tidak punya pendirian….Pada akhirnya saya orang yang tertawa terpingkal-pingkal ketika menemukan org seperti ini, karena saya pernah dihakimi di depan orang banyak tanpa saya tau salah saya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s