TINGKAT IKATAN RASA

Terjalinnya ikatan (baca: sampai jenjang pernikahan) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan disebabkan oleh banyak hal. Ada yang menikah atas dasar rasa saling suka sama suka yang telah terjalin pada kurun waktu tertentu dalam masa pacaran. Ada yang menikah atas dasar “kecelakaan” sebagai akibat pergaulan bebas. Ada yang menikah atas dasar ikatan perjodohan yang secara umum tidak diawali masa pacaran. Ada pula yang menikah atas dasar keyakinan agama yang sama.

Pandangan saat ini menilai bahwa pernikahan tempo dulu dengan sistem “dijodohkan” dianggap ‘tidak manusiawi’ dan ‘bukti tertindasnya kaum perempuan dalam menentukan hak untuk memilih jodohnya sendiri’. Benarkah? Sementara pada masa sekarang, masih pula terjadi pernikahan yang dilatarbelakangi oleh karena keduanya aktif dalam suatu majlis pengajian yang intensif. Dengan alasan keagamaan (cukup umur, mampu, menghindari zina), pernikahan dapat dilangsungkan tanpa melalui proses pacaran.

Pernikahan yang melalui proses perkenalan (baca: pacaran) biasanya akan dilaksanakan dengan mantap. Sedangkan pernikahan yang sifatnya ‘dijodohkan’, akan dijalani setengah ragu oleh calon pengantinnya. Tetapi tidak jarang, pernikahan yang diawali dengan pacaran selama bertahun-tahun berakhir dengan perselingkuhan dan perceraian. Sedangkan para orang tua, yang notabene zaman dahulu ‘dijodohkan’ ternyata pernikahannya beranak banyak, bahkan dapat berlangsung sampai meninggal.

Tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, sesungguhnya apa modal utama menjalin ikatan rasa? Dan bagaimana tingkatannya? Berikut penjelasannya.

Seusai masa kanak-kanak, manusia beranjak pada masa kemandirian, yaitu berusaha memenuhi segala kebutuhan dari usaha sendiri. Ikatan rasa terjadi pada saat manusia ingin memenuhi kebutuhan biologisnya. Ikatan dapat terjadi antara maupun antar tingkatan umur, kedudukan, kekayaan, keturunan, dll. Semakin banyak perbedaan latar belakangnya, umumnya akan semakin sulit untuk disatukan. Dengan kata lain, usaha untuk menyatukan menghadapi tantangan yang besar.

Biasanya alasan pertama seseorang memilih pasangan adalah berdasar pada pertimbangan fisik (lahiriah), seperti wajah, tubuh, dll. Mereka kadang teropsesi pada tokoh idolanya sehingga saat mencari pasangan dicari orang yang mirip atau ‘dianggap mirip’ idolanya. Kekaguman pada ciri-ciri tubuh yang ‘khas’ pada idola akan dicarikan ‘pengganti’nya dari orang lain yang mirip. Idola dapat berasal dari dalam maupun luar keluarganya. Kadang kita mendengar suatu ucapan “aku ingin mencari suami yang gagah dan berwibawa seperti papa”. Kalimat ini muncul karena figur sang papa sangat berpengaruh dan berkesan dalam hidupnya.

Alasan lain seseorang dalam memilih pasangan adalah faktor materi (harta) dan keturunan (strata sosial, suku). Faktor materi umumnya menjadi pertimbangan utama pada masyarakat yang masterialistis, dimana harta menjadi salah satu alat atau modal utama dalam berkeluarga. Dengan mempunya jodoh yang kaya raya, dianggap kehidupannya di masa mendatang akan makin terjamin. Sedangkan faktor keturunan sering diikuti oleh masyarakat feodalis dan masyarakat yang masih memegang kuat ke-suku-annya. Jika pasangan bukan berasal dari strata keturunan yang selevel atau bukan berasal dari suku yang sama, maka pasangan tersebut dianggap akan menemui banyak kendala bahkan bencana.

Tiga pertimbangan di atas masih dipegang secara turun temurun sampai saat ini. Tiga faktor ini akan menjadi penyebab utama seseorang tertarik dan menyukai lawan jenisnya. Sedangkan pegangan yang bersifat non materi adalah rasa pengertian dan moral (agama). Rasa pengertian perlu ditumbuh-kembangkan karena kita yakin bahwa manusia diciptakan satu dengan yang lain berbeda dan masing-masing mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Dengan saling pengertian, diharapkan masing-masing akan menghargai dan menghormati kelebihan/kekurangan pasangannya.

Jika kita merenung, ikatan rasa yang berdasar pertimbangan fisik, materi, dan keturunan sangat mudah goyah karena fisik akan cepat berubah seiring umur, harta bisa lenyap kapan saja, dan keturunan orang terhormat belum tentu mempunyai watak yang terhormat pula. Dasar ikatan yang cukup kuat adalah rasa saling pengertian. Selama masing-masing mau mengerti, maka segala macam perselisihan dapat diselesaikan dengan damai. Namun ternyata batin manusia sangat lemah terhadap bisakan hawa nafsu negatif, sehingga pertimbangan ‘saling pengertian’ saja masih akan mudah berkurang. Untuk itu langkap terakhir yang menjadi dasar dalam ikatan rasa adalah moral (agama). Agama mendidik kita untuk patuh pada Sang Pencipta. Hubungan yang dijalin tidak sekedar dengan pasangannya saja, tetapi juga ‘atas nama Tuhan’ sehingga jika terjadi perselisihan pada pasangan, sebaiknya kembalikan pada aturan Tuhan. Misalnya di dalam agama kita diajarkan, apabila kita sedang dikuasai emosi maka kita perlu meredakan dengan tahapan duduk, tidur, berwudhu dan sholat; tergantung sejauh mana tingkatan emosi kita.

Manusia adalah makhluk yang punya kelebihan sekaligus kelemahan. Jalan terbaik dalam mengembangkan kelebihan dan menutupi kelemahan adalah dengan minta bantuan dan pengertian dari pasangannya, dengan tentu saja selalu memohon bimbingan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s