MENABUR BENIH DALAM POLITIK INSTAN

MENABUR BENIH DALAM POLITIK INSTAN

Oleh : Muhamad Kundarto *)

Mencari dan memilih pemimpin yang karismatik memang bukan sesuatu yang mudah. Termasuk apabila seseorang ingin menjadi seorang pemimpin yang karismatik karena membutuhkan waktu yang cukup lama dan prestasi tanpa cela. Bagi seorang politikus, periode kepemimpinan 4-5 tahun sama dengan peluang untuk menjadi pemimpin baru yang diidamkan. Rentang waktu tersebut tentu sangat singkat untuk membangun kesan (image) yang baik dan berujung pada perolehan suara yang signifikan. Untuk itu tidak jarang para politikus melancarkan manuver dalam koridor politik instan, yaitu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya mendapatkan kesan yang sebaik-baiknya untuk meraih kemenangan. Boleh jadi mereka akan menggunakan segala cara untuk meraih tujuan tersebut. Kita mungkin ingat pada jurus para mafia besar yang mampu meraih kesan baik di masyarakat karena yang dimunculkan adalah sikap dermawan dan welas asih pada rakyat kecil, yang tentu saja dieksploitasi dengan apik oleh media massa. Masyarakat tidak tahu bahwa di balik itu mafia tersebut menggunakan cara tidak beradab untuk meraih kekayaan dan mengembangkan kekuasaannya.

Jika berhitung dengan waktu, politikus akan membuat strategi gerakan pada tahun pertama sampai tahun keempat. Bagi politikus yang memegang pimpinan, tahun pertama buat merayakan kemenangan, menancapkan akar kekuasaan sampai level bawah, dan menginventarisir program yang basah maupun yang kering. Tahun kedua dan tahun ketiga adalah selang waktu yang tepat untuk ‘balik modal’, maksudnya upaya segala cara untuk menutup kerugian yang timbul pada saat pencalonan, atau bahkan kebanyakan mampu menumpuk ‘amunisi’ baru untuk persiapan menjelang masa kampanye. Tahun keempat, atau satu tahun sebelum masa kampanye, adalah waktu yang tepat untuk ‘tebar pesona’. Segala program yang prospektif mendapat kesan baik di masyarakat akan dieksploitasi besar-besaran. Segala hal yang berindikasi mencoreng nama baik akan dibabat habis atau minimal diredam sedemikian rupa sehingga tidak membuat kekecewaan rakyat.

Bagi politikus yang kalah dalam pemilihan sebelumnya, tahun pertama dan kedua adalah tahap mengumpulkan amunisi sambil memilih langkah aman (wait and see) untuk menunggu dan mengamati langkah apa yang dilakukan oleh pemimpin baru. Tahun ketiga merupakan tahap awal melancarkan serangan dari berbagai level, bahkan bila perlu akan menggoyang sampai level nasional untuk sekedar membuat image “tuch, pemimpin kita ternyata rapuh, tidak mampu mengatasi permasalahan ini dan itu”. Image itu dikondisikan sedemikian rupa sehingga semua level dan berbagai media meliputnya. Kata orang “kuasailah media komunikasi massa, karena hampir semua lapisan masyarakat tergantung itu”. Tahun keempat adalah rentang waktu melancarkan jurus bermata ganda. Satu sisi melancarkan serangan mematikan untuk menjelekkan (bahasa halusnya, mengkritisi) pemimpin dan jajarannya saat ini. Sisi yang lain melancarkan jurus tebar pesona, seperti sok dermawan, sok peduli, sok pahlawan, dll.

Issue nasional seperti bencana (tsunami, gempa, lumpur sidoarjo, banjir, kekeringan, kelaparan), biodiesel, kelangkaan pangan, kelangkaan energy, lemahnya peralatan pertahanan, kenaikan harga BBM, perlu tidaknya PLTN, pendidikan gratis, pembukaan lapangan kerja (menekan angka pengangguran), pemberantasan kemiskinan, dll. adalah permasalahan yang dapat dieksploitasi menjadi komoditas politik. Satu sisi permasalahan ini dapat dijadikan materi utama dalam kampanye meraih simpati rakyat dengan janji akan menanggulanginya. Sisi lainnya, permasalahan ini dapat dijadikan materi serangan mematikan dengan klaim “pemimpin telah gagal mengatasi permasalahan nasional”.

Berbagai jurus melawan atau mengalihkan serangan juga perlu dicari agar langkah menuju kemenangan tetap prospektif. Apabila ada laporan “pegawai bapak banyak melakukan pungutan liar atau korupsi”, maka akan dijawab “wah, itu oknum”. Apabila ada fakta “kelangkaan suatu komoditas pangan”, maka akan dijawab “itu permasalahan global (internasional)”. Apabila ada peristiwa “pemadaman listrik secara bergilir di area yang luas”, maka dijawab “terjadi karena gangguan cuaca buruk”. Begitulah, apapun masalahnya, pemimpin dan jajarannya (sebisa mungkin) tidak boleh salah.

Sebenarnya ada cara yang ebih elegan untuk meraih simpati massa, yaitu membangun image dari bawah yang dilakukan oleh berbagai pihak yang mendukungnya. Budaya menanamkan citra baik suatu kelompok/partai dengan cara memasang spanduk/baliho, membagikan kaos, konvoi keliling kota, dan orasi ‘tebar janji’ adalah contoh manuver kampanye yang bersifat instan (baca: sesaat) belaka. Masyarakat lebih banyak dibodohi karena terkesan memilih gambar atau lambang tertentu akan menjamin hidup mereka menjadi sejahtera. Alangkah indahnya apabila kelompok/partai tersebut melaksanakan program yang lebih ‘membumi’, yaitu program yang dampaknya bermanfaat nyata bagi masyarakat. Masing-masing lokasi jelas membutuhkan program yang berbeda tergantung permasalahan yang dihadapi. Suatu masyarakat yang mengalami kelangkaan air tentu berharap bantuan air bersih atau teknologi yang dapat menjamin keberadaan air bersih di wilayahnya. Suatu masyarakat yang banyak menganggur tentu lebih membutuhkan ada pihak yang mencarikan peluang kerja daripada hanya sekedar janji di tengah lapangan.

Cara instan memang sering dijadikan pilihan walaupun sebenarnya tahu mana langkah yang ideal. Mengapa? Langkah ideal jelas akan membutuhkan waktu lama, yang secara otomatis akan memerlukan beaya tinggi. Alasan yang cukup penting adalah kita terkenal mudah sekali diprovokasi dan sekaligus mudah melupakan atau memaafkan kesalahan. Sebagai contoh, seorang tokoh yang sudah merintis nama baik sejak bertahun-tahun bisa hancur nama dan popularitasnya apabila menjelang pemungutan suara dilemparkan issue yang heboh dan menarik perhatian massa, misalnya : punya simpanan, berpoligami, tertangkap kamera sedang beradegan syur, dll. Issue tersebut kadang hanya dimuat oleh selebaran gelap (surat kaleng) tanpa identitas. Walaupun bukti hukum dan pengadilan sangat lemah, tetapi masyarakat dapat dibuat ragu dan bahkan menjadi antipasti. Kegiatan yang berlawanan dengan keyakinan masyarakat yang masih kuat menjaga tradisi akan berdampak kontraproduktif. Contoh yang sangat menarik terjadi sekitar 1 tahun yang lalu, dimana dalam waktu bersamaan 2 orang tokoh nasional melakukan perbuatan sensasional. Satu tokoh melakukan perzinaan dan tokoh lain melakukan poligami. Anehnya, tokoh yang melakukan poligami lebih ‘dihakimi’ media massa dan khalayak daripada tokoh yang melakukan perzinaan. Hukum Masyarakat memang tidak bisa disamakan dengan dengan hukum agama dan hukum pengadilan.

Politik instan memang cukup mujarab dilakukan pada masyarakat dengan level pendidikan dan wawasan yang relative rendah, yang notabene mayoritas masyarakat kita. Sehingga jenis politik ini sering mewarnai pemilihan pemimpin dari level presiden sampai level kepala desa. Dari semua level, level nasional dan level desa relative lebih mudah dilaksanakan mengingat di level nasional biasanya banyak diliput oleh media massa (terutama televise) dan level desa dapat dilakukan gerilya (door to door). Level provinsi dan kabupaten cukup mengalami kendala, terutama bagi calon pemimpin yang belum dikenal public, sehingga mereka sering menarik image dari memory yang mudah diingat oleh masyarakat, misalnya dari sisi garis keturunan (anak Raja/Jenderal/Presiden/Kyai dll.), partai pengusung, dan gelar/pangkat (professor/jenderal/datuk dll.).

Jika di musim hujan ini ada program menanam nasional yang banyak disponsori oleh para tokoh nasional, maka secara ilmiah program ini berpihak pada bidang konservasi tanah dan air sebagai salah satu upaya menekan banjir, longsor, dan pemanasan global yang bergaung pada beberapa bulan terakhir ini. Dari sisi politis, program menanam ini juga merupakan indikasi menabur benih untuk dapat dipanen pada tahun mendatang atau pada saat proses pemilihan pemimpin yang baru. Anekdot nakal, mungkinkah harga BBM naik pada saat masa kampanye? Jawabnya: tidak mungkin!

Terkadang rakyat memang tidak tahu atau sengaja dibuat tidak tahu, bahwa ternyata beberapa tokoh nasional ini juga mampu menggoyangkan kondisi nasional, karena mereka banyak yang menguasai kapal tanker pemasok BBM, pengimpor bahan makanan pokok, pemilik berbagai perusahaan skala nasional (media massa, dll) dan jenis konglomerat lainnya. Kadang kita juga tidak tahu walaupun berada di tengah-tengah para ‘raksasa’ yang sedang bertarung berebut kekuasaan. Seperti sporter sepakbola, yang penting memakai atribut klub kesayangannya dan melakukan konvoi merayakan kemenangan atau ikutan merusak apabila klubnya kalah. Sporter tidak perlu tahu dan tidak mau tahu bahwa gaji pemain dan pelatih amat sangat jauh dibandingkan dengan fasilitas (kaos, dll.) yang dia terima. Sebagai sporter dia cukup puas kok!

*) Pemerhati Permasalahan Sosial, Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta

tulisan ini pernah dikirim ke surat kabar lokal tetapi agaknya tidak dimuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s