PEMANASAN GLOBAL DAN PERTANIAN PERKOTAAN

Memperingati Hari Bumi 22 April

PEMANASAN GLOBAL DAN PERTANIAN PERKOTAAN

Muhamad Kundarto *)

 

Pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan di banyak sektor mendorong perubahan penggunaan lahan di muka bumi ini, dari kondisi alami menjadi kondisi serba buatan seperti bangunan perumahan, perkantoran, pabrik, jalan raya, dll. Aktifitas manusia juga berubah menjadi serba menggunakan mesin seperti sepeda motor, mobil, traktor, dll. Kondisi ini menimbulkan banyak pencemaran terhadap faktor lahan seperti tanah, air, dan udara.

Lahan datar yang umumnya merupakan tanah yang subur sering mengalami konversi (alih fungsi) dari penggunaan alami (pertanian, perkebunan, kehutanan) menjadi permukiman dan pengembangan perkotaan. Hamparan tanah alami yang masih tersisa kebanyakan terdapat di daerah yang tandus dan perbukitan dengan lereng yang curam serta rawan mengalami erosi atau longsor.

Eksploitasi air secara tidak terkendali juga banyak terjadi di lahan datar. Sementara itu pasokan airtanah di daerah tangkapan air (hulu/perbukitan/pegunungan) merosot tajam karena terjadi penebangan hutan dimana-mana. Air hujan sedikit meresap ke dalam tanah (infiltrasi)  dan lebih banyak yang berupa aliran permukaan (runoff) yang makin terakumulasi menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor.

Pencemaran udara yang semakin tinggi karena polusi udara dari pabrik, asap kendaraan, dan lain-lain yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan tanaman sebagai penghasil oksigen. Ekologi tanaman juga makin terancam dengan adanya perkembangan pembangunan perkotaan dan industrialisasi. Pencemaran udara yang meningkat akan menyebabkan penipisan ozon dan meningkatkan suhu bumi akibat makin melemahnya filterisasi sinar matahari.

Kondisi di atas semakin lama akan semakin parah. Padahal umumnya umat manusia menyadari kondisi perubahan global ini, namun dalam aktifitas sehari-hari sangat sedikit yang tergerak untuk menanggulanginya. Permasalahan global akan sangat sulit dipecahkan hanya oleh sekelompok orang di suatu wilayah tertentu. Penanggulangan harus dimulai dari dan oleh semua orang di muka bumi ini untuk menyelamatkan bumi agar tidak semakin parah kerusakannya.

Upaya penanggulangan berupa konservasi tanah, air, flora dan fauna telah banyak dilakukan. Namun kebanyakan masih terkonsentrasi di daerah pedalaman, perbukitan dan pegunungan, yang notabene bukan lokasi utama terjadinya pencemaran yang tertinggi. Jenis kegiatan yang sering dilakukan adalah penghijauan (reboisasi). Namun agaknya kegiatan penghijauan ini masih terbatas pada sekedar membagi bibit dan melakukan penanaman. Upaya pemeliharaan, monitoring dan evaluasi jarang dilakukan.

Pemberi bibit hanya berkepentingan untuk mendokumentasikan dan bahkan mempublikasikan, bahwa bibit telah diserahkan kepada masyarakat. Setelah itu mereka tidak tahu atau tidak mau tahu, yang penting laporan telah sukses dibuat dan media massa menorehkan prestasi atas kerja yang baik. Sementara masyarakat yang sering diberi tanggungjawab memelihara masih bergelut dengan “besok makan apa?”, sehingga cenderung berpikir jangka pendek, yaitu akan mempertahankan tanaman yang dengan cepat memberikan hasil/produksi dan menebang tanaman yang lama atau tidak jelas kapan memberikan hasil. Sehingga sering terjadi, tanaman penghijauan berupa tanaman kayu (non buah) dipangkas paksa atau dimatikan agar tidak menaungi tanaman budidaya yang diusahakan oleh petani. Ke depan, sebaiknya jenis tanaman penghijauan pada lokasi yang berdekatan dengan permukiman  berupa tanaman buah. Andaikan ada pencurian, maka yang dicuri bukan pohonnya (baca: ditebang) tetapi hanya buahnya saja, sehingga fungsi konservasi akan tetap jalan.

Mulai Dari Kota

Kota, sebagai pusat aktifitas manusia, merupakan lokasi utama dimulainya pencemaran lingkungan. Namun permasalahan kota dan sekaligus penanggulangannya yang lebih banyak didengungkan adalah penanggulangan sampah, mengatasi kemacetan, dan pengaturan penggunaan lahan yang semakin menggusur kawasan hijau. Kawasan hijau yang sering dibentuk di perkotaan cenderung hanya mengutamakan keindahan dan keamanan belaka, yaitu indah dipandang dan tidak membahayakan manusia (apabila patah atau tumbang).

Tanaman hias yang ditanam di dalam pot cenderung hanya bertahan 1-2 tahun sebelum mengalami degradasi kesuburan. Degradasi kesuburan tanah terjadi karena perawatan umumnya hanya dengan menyiram saja, bahkan banyak terbengkalai tanpa perawatan (baca: hanya mengandalkan air hujan). Tanaman tahunan yang ditanaman sepanjang jalan, terutama yang berada diantara dua lajur jalan, sering hanya mempunyai media tanah yang sangat tipis dan di bawahnya langsung berhubungan dengan aspal sehingga mudah panas dan mengalami kekeringan. Lain lagi dengan ‘nasib’ tanaman tahunan di pinggir jalan, seringkali daerah perakaran ‘dipasung’ dengan trotoar, aspal, atau beton bangunan. Bahkan air hujan yang jatuh tidak dapat meresap ke dalam tanah karena seluruh permukaannya yang ada di sekitar batang pohon tertutup rapat oleh semen atau aspal.

Fungsi kawasan hijau untuk konservasi (preservasi air) dan lingkungan (produksi oksigen) sering diabaikan. Demi keindahan, banyak jenis tanaman hias yang berakar pendek dan atau berakar serabut dipilih dan ditanam, walaupun kemampuannya menyimpan air sangat rendah. Banyak tanaman dipangkas atau ditebang dengan alasan mengamankan kabel atau dianggap membahayakan pengguna jalan apabila patah/tumbang terkena hujan angin.

Jenis tanaman yang dipilih sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi lahan dan iklim setempat. Apabila suatu tempat sering mengalami kekeringan atau kemarau panjang dengan sinar matahari yang terik (iklim tropika, suhu tinggi), maka sebaiknya memilih jenis tanaman keras berakar tunggang dengan kanopi yang luas (baca: tanaman peneduh) dan berumur panjang. Contohnya adalah tanaman beringin yang biasanya banyak ditanam di alun-alun kota. Contoh yang kurang tepat adalah tanaman palem karena berakar serabut (baca: kurang mampu mengikat tanah dan menyimpan air) dan tidak mampu berfungsi sebagai peneduh.

Penghijauan bukan hanya menjadi tugas dinas tata kota untuk kawasan sekitar jalan saja, tetapi juga menjadi tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat. Hal yang sering terlupakan adalah penghijauan di sekitar perumahan dan gedung perkantoran. Apabila masih memungkinkan (terdapat ruang lahan yang cukup), sebaiknya menanam tanaman keras/tahunan yang berfungsi konservasi (berakar tunggang, panjang dan ditanam langsung ke media tanah tanpa pot). Dapat juga dipilih tanaman buah-buahan agar memberikan multifungsi. Apabila tidak ada ruang tanah yang cukup atau semua permukaan telah tertutup bangunan, maka dapat menggunakan teknologi pot, seperti tanaman buah dalam pot (tabulampot), pot yang menempel dinding, pot yang digantung, dll. Sehingga kondisi sekitar rumah akan teduh dan asri.

Halaman perkantoran kadang hanya dihiasi tanaman palem dan rumput taman. Alangkah indah dan asrinya apabila lahan non gedung yang tersisa dibuat seperti hutan kota mini yang tajuk tanamannya mampu menjangkau 10-20 meter sehingga tampak rindang dan asri. Lokasi seperti ini biasanya akan membentuk iklim mikro, yaitu suhu lingkungan yang lebih rendah dan kelembaban udara yang relatif tinggi dibanding lahan di sekitarnya. Tanpa diminta, burung-burung pun akan banyak hinggap di pepohonan yang kicauannya menjadi hiburan tersendiri.

Pertanian Perkotaan

Suatu bangunan perumahan di perkotaan masih menyisakan ruang yang cukup luas, pemiliknya dapat memanfaatkan untuk usaha pertanian lahan sempit. Teknologi penanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti vertikultur (menggunakan media pot/peralon yang disusun secara vertical), polibag, hidroponik, aeroponik, tabulampot, dll. Setiap rumah tangga hendaknya juga mau dan mampu mengelola sampah secara mandiri, dimulai dengan memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik dapat dikomposkan dan dijadikan untuk memupuk tanaman di sekitar rumah.

Lahan pertanian yang terdapat di tengah perkotaan, seperti sawah dan kebun, harus tetap dipertahankan keberadaannya. Upaya konversi lahan, apapun alasannya, harus dicegah karena pada prinsipnya lahan yang subur “tidak dapat dipindahkan”. Lahan subur seluas 1 hektar tidak dapat diganti dengan lahan marginal yang umumnya tidak subur. Suatu pemikiran bahwa lahan pertanian di Pulau Jawa dapat diganti dengan lahan pertanian di Luar Pulau Jawa adalah kurang tepat dan terlalu beresiko. Upaya substitusi/penggantian tersebut bukan hanya mempertimbangkan luasan saja, dimana produksi satu hektar lahan subur setara dengan 2-4 hektar lahan kurang subur, tetapi juga pertimbangan lahan seperti nilai investasi untuk prasarana penunjang pertanian (saluran irigasi, dll), sumberdaya manusia, wisata dan fungsi lingkungan yang kadang tidak dapat ‘di-rupiah-kan’.

Upaya melestarikan pertanian di perkotaan juga harus diperkuat dengan kebijakan pemerintah dan kekuatan penegakan hukum. Seringkali aplikasi di lapangan, “asalkan ada uang” semua menjadi mudah, termasuk semua kegiatan yang sadar atau tidak mengarah pada degradasi dan pencemaran lingkungan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang selalu terlambat menyesal, yaitu pada saat banyak bencana besar terjadi, yang notabene kita turut berkontribusi, lalu kita melakukan pertaubatan yang hanya berakhir dengan kata-kata dan saling menyalahkan.

 

*) Ketua Pusat Studi Lahan LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta

catt: makalah ini dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat Selasa, 22 April 2008

5 responses to “PEMANASAN GLOBAL DAN PERTANIAN PERKOTAAN

  1. Selamat mas Kundarto atas termuatnya di skh Kedaulatan rakyat. Semoga bisa diikuti teman2 lainnya.
    Betul mas Kundarto. Lahan perkotaan, sesempit apapun, semoga bisa memberikan kontribusi terhadap penghijauan dan kerindangan lingkungan (lokal)…. walaupun jangan dilupakan pula kontribusi terbesar pemanasan global adalah penggundulan hutan, limbah/asap industri, penggunaan peralatan yang menimbulkan penipisan ozon di negara maju.

  2. Sebelumnya aku ucapkan Selamat buat Mas Kundarto atas termuatnya artikel ini.
    Memang benar, kondisi lingkungan perkotaan sekarang ini sudah rusak. meskipun nampaknya luarnya indah.
    menurut pendapatku, memang kita harus konsentrasi terhadap apa yang ada didepan mata, yaitu tempat tinggal kita, dimana banyak sebagai dari kita tinggal di kota.

    Usulku, alangkah bagusnya jika artikel ini ada kelanjutannya, tidak sebatas hanya artikel. mungkin bisa dijadikan bahan diskusi atau debat yang melibatkan istansi terkait, semisal dinas pertamanan dan perkotaan,dsb

  3. Aku seperti baca ulasan ulang yg ada di buku petunjuk , majalah trubus, flona dll….kurang menggigit…hanya sekedar rangkuman saja bukan suatu artikel untuk motivasi lebih baik….

  4. Pingback: The First : behind the scene « Selamat datang

  5. Mungkin dalam artikel selanjutnya (dengan tema serupa) perlu ditambahkan beberapa kasus actual tentang dampak lingkungan terutama efeknya bagi kesehatan..klo sdh menyangkut kesehatan, siapa sih yang tidak peduli???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s