membangun UPN : darimana?

“UPN satu, satu UPN” begitu kira-kira yang didengungkan oleh para alumni UPN yang telah menyebar di seantero bumi ini. Walaupun mereka berasal dari jurusan dan fakultas berbeda, namun setelah menjadi alumni, semua dianggap “satu UPN”.
 
Kondisi ini seakan menjadi terbalik manakala kita menelusuri ke dalam kampus sendiri karena “semangat Jurusan dan Fakultas” lebih mendominasi daripada “semangat Universitas” . Bahkan fanatisme ini kadang menjadi kontraproduktif atau kurang sejalan dengan visi misi kampus yang mengusung slogan kejuangan, disiplin dan kreatifitas.
 
Idealnya, otonomi dilaksanakan pada tingkat universitas, bukan fakultas atau jurusan. Kenapa? karena kemajuan (baca: animo, kerjasama, pemasukan, dll) antar jurusan dan fakultas cenderung berbeda. Padahal kebijakan, yang nantinya berbuntut pada alokasi anggaran, bukan sekedar ditentukan oleh jumah fakultas/jurusan atau pun jumlah mahasiswanya. Satu contoh, fakultas/jurusan yang super banyak mahasiswanya akan kesulitan mencari ruang untuk kuliah dan praktikum, sementara fakultas/jurusan yang jumlah mahasiswanya sedikit akan banyak ruang belum dimanfaatkan secara optimal. Kadang pula suatu laboratorium membutuhkan peralatan yang super mahal walaupun penggunanya sedikit mahasiswa. Sementara itu laboratorium lain yang banyak mahasiswanya, boleh jadi ada yang perlu sedikit biaya karena alat dan bahan dapat digunakan dalam jangka waktu lama.
 
Pengelolaan tingkat unversitas memungkinkan mahasiswa fakultas/jurusan X melaksanakan kuliah/praktikum di fakultas/jurusan Y. Demikian juga dengan pemanfaatan SDM. Dosen di fakultas/jurusan dengan jumlah mahasiswa besar dapat mengajar 3-4 kali sehari. Namun dosen yang di fakultas/jurusan dengan jumlah mahasiswa minim mungkin hanya mengajar 1 x seminggu. Memang setiap matakuliah butuh spesifikasi bidang ilmu tertentu, namun ada pula matakuliah umum yang dapat dilakukan dosen dari semua bidang ilmu, misalnya : mata kuliah Widya Mwat Yasa.
 
Dari mana membangun UPN?
 
Jujur kita katakan bahwa sebagai leader kemajuan UPN adalah fakultas teknologi mineral. Mengapa? karena fakultas ini telah berdiri lebih lama, dan yang lebih penting, alumninya jauh lebih solid dan menyebar di seantero bumi ini. Mengapa kegiatan mahasiswa tambang, minyak dan geologi biasanya mendapatkan sponsor besar? jawabnya : peran alumni.
Memang alumni fakultas lain banyak juga yang sukses, tetapi agaknya alumni FTM masih jauh lebih unggul. So, dari sinilah kita bangun UPN. Caranya : semua fakultas selain FTM mengacu pelajaran/kurikulum nya bermuara pada bidang kerja FTM.
 
Misalnya pertanian, pekerjaan reklamasi lahan bekas tambang sebenarnya adalah ‘perkawinan’ bidang FTM dan pertanian karena disana ada kegiatan penyiapan kesuburan tanah dan penanaman pohon (revegetasi) yang notabene bidang kajian ilmu tanah dan agronomi. Bidang sosial ekonomi pertanian menfokuskan pada bidang pemberdayaan masyarakat (community development) di sekitar lahan tambang.
 
Misalnya ekonomi, bidang ekonomi pertambangan dan energi perlu mendapat kajian khusus agar sarjana ekonomi juga layak dan cocok masuk ke dunia kerja FTM. Tentu saja kajian ekonomi umum tetap perlu diberikan karena tidak semua alumni akan masuk ke bidang yang sama. Begitu juga dengan bidang politik, bahwa pertambangan juga tidak lepas dengan proses politik. Konon, mengapa lahan pertambangan yang dikelola Freeport dan Newmont sulit sekali dipegang atau pelanggarannya diajukan ke meja hijau, adalah karena peran politik di dalamnya. Demikian juga dengan bidang teknik industri, teknik kimia dan informatika. Kesemuanya me-link-kan diri ke FTM. Lalu, apa sich untungnya?
 
Kita ingat bahwa setiap dunia kerja mengenal istilah “habit”, yaitu dimana seorang alumni UPN yang sukses di suatu perusahaan akan cenderung memasukkan lulusan UPN di kantornya. Nah, jaringan alumni UPN (khususnya FTM) yang sudah mengakar sedemikian luasnya, adalah sebuah modal networking yang luar biasa. Bentuk rintisannya adalah berupa peluang magang bagi para mahasiswa untuk skripsi atau tugas akhir. Selanjutnya adalah jaringan kerjasama di berbagai bidang. Bayangkan jika suatu perusahaan pertambangan di semua lini strategisnya dipegang oleh alumni UPN.
 
Langkah berikutnya baru mengeksplorasi UPN dari fakultas lain yang cukup prospektif dan berpengalaman, seperti teknik kimia, pertanian, ekonomi dan yang terakhir FISIP. Memang beberapa tahun terakhir ini animo tertinggi mahasiswa baru adalah jurusan ilmu komunikasi dan teknik pertambangan. Namun fenomena ini lebih pada salah satu input buat kampus. Sedangkan outputnya, berupa kualitas dan kuantitas alumni, bukti sejarah dan fakta di lapangan yang lebih menentukan.

One response to “membangun UPN : darimana?

  1. agus subagijo

    Membangun dari Mutu / Kualitas dan profesionalisme Pengajar,
    dg kualitas pengajar yg bagus akan menaikkan daya jual kampus UPN
    Klu calon mhs nya sangat ingin sekali masuk UPN tentunya harga tidak
    terlalu jadi pertimbangan utama dari sang ortu.
    Dengan dukungan biaya yg mencukupi di harap UPN akan lebih maju
    fasilitas lebih oke, dan perbanyak kerjasama dengan dunia luar.
    Dan tentunya terus perbaiki kualitas pengajarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s