PATAH

Gelombang PHK besar-besaran yang berlangsung secara nasional turut andil besar dalam menghancurkan kehidupan keluarga Tarjo. Penghasilan satu-satunya sebagai buruh pabrik menguap bersama mimpinya tentang masa depan. Kesetiaan istri menjadi goyah karena ekonomi keluarga menjadi tidak menentu. Keluarga menjadi sering konflik. Sang istri mengambil jalan pintas pulang ke rumah orangtua bersama ketiga anaknya. Tarjo yang sedang kepayang terpaksa menjual rumah satu-satunya dan kembali ke daerah asalnya. Walaupun Tarjo dan istri berasal dari daerah yang sama, namun keduanya tidak bertegur sapa 2 tahun lamanya. Intervensi Mertua terhadap istri membuat hubungan semakin buruk, apalagi Tarjo tiada penghasilan.

Puncak kemelut terjadi setahun lalu karena berakhir dengan perceraian. Mantan istri dengan ketiga anaknya tinggal di rumah orangtuanya. Tarjo sendiri mulai merangkak dari awal, dengan membuka usaha sebagai pedagang kakilima. Setiap hari Tarjo mendapatkan keuntungan antara 30 sampai 60 ribu rupiah. Tiap sebulan sekali, anaknya datang untuk minta uang saku. Kadang dia memberi 100 ribu, kadang juga lebih, tergantung penghasilan. Namun saat ketemuan dengan anak-anaknya, dia tidak mau bertegus sapa dengan mantan istri karena hatinya masih memendam kekecewaan dan kebencian akibat ditinggalkan pada saat terpuruk.

Hari-hari dijalani Tarjo dengan berjualan. Kadang dia bermimpi ingin mendapatkan seorang istri yang setia.

“Yah umurnya sekitar 35, masih perawan atau janda tanpa anak”, Jelasnya.

“Syukur dia ada rumah, sehingga aku bisa numpang,” Harapnya makin nekad. Pertimbangannya, dia sendiri sudah punya anak 3 orang, kalau ditambah anak lagi dari bawaan istri, dia akan bingung karena penghasilannya yang kecil. Saran banyak orang agar dia kembali rujuk, ditolak, karena rasa bencinya yang amat sangat.

Kadang dia juga mengakui bahwa hidupnya kini sepi dan tak tahu masa depannya bagaimana. Kadang Tarjo juga mengeluh anak-anaknya butuh biaya sekolah, tapi jelas dia tidak mampu untuk membiayai semuanya.

Sebagai seorang Duda, ternyata dia tidak tahan untuk menahan diri dari hasrat syahwatnya. Tarjo kerap kali memanfaatkan hari liburnya untuk jalan-jalan “menenggak syurga dunia”. Seringnya dia menjadi pelanggan untuk ‘shorttime’ kisaran 50 rb an. Bahkan dia harus berhitung dulu untuk harga hotel melati 25 ribuan plus BBM buat pulang pergi. Yach, sekali melewatkan hari libur, dia harus merogoh koceknya 100 ribuan.

Tarjo cukup hafal beberapa tempat yang memasang harga murah.

“itu lho depan terminal baru dan di timurnya candi”, jawabnya setengah berbisik.

Kadang dia memakai obat oles ‘ajaib’ yang bisa dipakai empat kali.

“bisa lebih tahan lama,” jelasnya.

Kadang beberapa teman mengingatkan, bahwa memuaskan nafsu dengan jalan tidak halal hanya akan membuat semakin tidak puas. Bahkan apabila berumahtangga lagi akan cenderung mudah bosan karena sudah sekian banyak yang dicoba.

“Nggak kok, kalau sudah ada istri lagi, aku akan tobat..” Kilahnya.

Kadang dia juga berkilah tentang istrinya. Kata ‘orang pintar’, istrinya tergoda oleh lelaki lain. Terus apa bedanya dengan Tarjo?

“aku jadi begini kan karena perilaku mantan istriku, beda dong”, Kilahnya lagi.

 Begitulah fenomena Tarjo. Orang yang gagal dalam karier dan rumahtangga, namun selalu mencari ‘kambinghitam’ pada mantan istrinya. rona emosional masih menggelayuti wajahnya tiap hari. Diapun sangat sulit berkaca, bahwa apa yang dilakukannya saat ini jauh lebih buruk lagi. Namun kesadaran dan taubatan itu urusan hati. Kadang kita sudah merasa mengingatkan puluhan kali, namun belum juga hati tergerak untuk bertaubat.

Mengingatkan banyak jalannnya, bisa dengan hati, lisan, atau tangan (baca: perbuatan).

Bisa juga dibahas langsung, dengan diberi perumpamaan, dengan cerita tentang orang lain, dll.

Dengan hikmah, dengan suri tauladan, dengan ketulusan hati dalam ucapan yang menyejukkan. ….

 

Yogyakarta, 24 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s