Cerita tentang Lahan di Kudus dan sekitarnya

Melihat wilayah Kab Kudus tidak cukup dengan atlas atau peta rupabumi, karena ada ‘misteri’ tentang lahan di sana. Di daerah bawah, sangat mirip dengan lahan di Demak, yang konon selalu kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Padahal ketinggian tempatnya hanya sekitar 10 m dpl, itu pun dekat dengan garis pantai. Dataran rendah kok bisa kekeringan sich?

 Ternyata dari peta geologi yang menjawab. Memang jenis tanah di kudus umumnya bertekstur lempungan (baca: tahan lama menyerap/menyimpan air), namun ternyata batuan di bawahnya mengandung kapur (baca: mudah meloloskan air). So, saat musim hujan tiba, air akan mudah membentuk genangan (ngumpul okeh dadi banjir, red), namun saat musim kemarau karena ‘dasar pot’nya (baca: lapisan batuan di bawahnya) bocor maka tanah akan cepat kering.

 Air permukaan (air sumur) di dataran rendah wilayah Kudus, termasuk sekitar kota, juga mengandung endapan kapur. Jika kita amati air putih yang disimpan di kulkas, maka bagian dasarnya ada endapan tipis keputihan. Konon, dalam jangka waktu lama ini dapat menyebabkan batu ginjal. Mungkin lebih aman minum air mineral kali ye…

 Menengok ke berita beberapa waktu lalu yang ditemukan fosil di Patiayam, memang dari peta geologi terlihat lokasi itu merupakan singkapan, atau lapisan yang dulunya terpendam tetapi sekarang muncul ke permukaan tanah.

 Untuk daerah utara atau kawasan Gunung Muria, kondisi tanah dan air cukup baik. Konon, cerita dari ahli geologi, wilayah Gunung Muria ini dulunya merupakan pulau terpisah dengan pulau jawa, namun kemudian menyatu. Kemudian dataran rendah di sepanjang wilayah Demak, Kudus, Pati dan bagian barat Rembang dulunya merupakan laut yang saat ini mengalami pendangkalan menjadi dataran rendah. Teori ini pula yang bisa menjawab, mengapa di dataran rendah dekat pantai tetapi air sumurnya cukup dalam (20an meter dari permukaan tanah).

 Menyimpang dikit ke kuliner, konon soto kudus yang asli itu pake daging kerbau, bukan sapi. Nah loh, jangan-jangan terkait dengan kehidupan kerbau yang umumnya suka lumpur dan genangan air (baca: daerah rawa), sehingga secara naluri masyarakat di sana menciptakan makanan khas sesuai dengan potensi yang ada di sekitarnya.. ..

Namun menurut seorang teman agung.sa@bukitmakmur.com menanggapi sbb :

Kenapa soto Kudus pakai daging Kerbau dan tidak tidak pakai daging sapi…?

karena kala itu Sunan Kudus sangat menghormati penganut agama Hindu yang oleh umat Hindu SAPI dianggap binatang yang suci. Maka sejak itu keluar-lah larangan dari Sunan Kudus hingga kini melarang masyarakat Kudus untuk tidak menyembelih hewan SAPI. sebagai contohnya sapi yang diajual belikan di kota kudus semua pedagangnya berasal dari kota sekitar yaitu dari Pati, Jepara dan Demak dan tidak ada satupun rumah Jagal ( tempat penyembelihan hewan ) diKudus yang berani menyembelih hewan sapi, selain kerbau termasuk juga pada saat Lebaran Haji. ( binatang kurban )

One response to “Cerita tentang Lahan di Kudus dan sekitarnya

  1. wah mau dong pak ikut kalo ada penelitian di kudus he……kangen kelapangan nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s