Tanah Gambut, Embun Upas dan Purwaceng

Aku mendampingi mahasiswi bimbingan skripsi yang mau mengambil sampel Tanah Gambut di dataran tinggi dieng. Memasuki kawasan Dieng, harus melewati loket milik Wonosobo dengan harga @ Rp 3.000. Anehnya memasuki kawasan wisata candi, sudah disodori harus bayar tiket @ Rp 9.000 yang dikelola oleh Kabupaten Banjarnegara. Wah satu lokasi dijadikan ‘kapling’ bersama. Mirip lokasi Candi Prambanan hehhe…
 
Hawa dingin di ketinggian 2.060 meter di atas permukaan laut (m dpl) membuat kita beberapa kali harus berjemur. Berteduh di bawah pohon berarti kedinginan. Berjemur memang hangat, tapi sinar matahari tanpa terasa membakar kulit.
 
Kami berdelapan berjalan menyusuri jalan setapak menuju Telaga Bale Kambang. Konon nama ini berasal dari kata Bale=mbal=lapisanta nah dan Kambang=kemambang. Tanah di sini terdiri dari jenis tanah gambut yang terbentuk di bagian cekungan antar gunung/bukit. Tanah akan terasa bergoyang lemah apabila kita menginjaknya, dan makin terasa apabila kita berloncatan di tempat. Silahkan buka gambar di bawah ini untuk melihat tanah gambut :
http://ph.groups. yahoo.com/ group/dosen_ upnjogja/ photos/view/ f9c0?b=13
 
Telaga Bale Kambang mengalami pendangkalan dan saat ini sedang dilakukan pelebaran oleh alat beghoe dari dinas pengelolaan sumberdaya air prov jateng. Lihatlah alatnya yang sedang bekerja, menggunakan sistem menumpang diatas balok seng agar mengambang di atas air.
http://ph.groups. yahoo.com/ group/dosen_ upnjogja/ photos/view/ f9c0?b=10
 
Sambil mengawasi mahasiswa2 yang sedang melakukan sampling pengeboran tanah gambut, aku tertarik dengan kondisi tanaman kentang yang umumnya layu. Informasi yang didapat, tanaman tersebut layu oleh embun upas / embun api / frost. lihatlah :
http://ph.groups. yahoo.com/ group/dosen_ upnjogja/ photos/view/ f9c0?b=9
 
embun upas terjadi pada kisaran bulan mei sampai agustus, yaitu puncak musim kemarau. di musim kemarau, dimana langit sering tanpa awan, proses pendinginan bumi akan berlangsung sangat cepat karena energi panas matahari akan lepas ke angkasa tanpa halangan. khusus di lokasi dataran tinggi, lebih khusus lagi di daerah cekungan (lembah) yang dikelilingi oleh lereng tinggi akan memicu penurunan suhu secara drastis. pengukuran di lokasi tadi malam (waktu itu) terukur 3 derajat celcius. Suhu mendekati titik beku ini menyebabkan banyak cairan sel (protoplasma) di dalam sel daun mengalami pembekuan (baca: peningkatan volume), sehingga dinding sel pecah dan daun menjadi lalu. Esok harinya banyak daun akan seperti terkabar/layu dan akhirnya mati. Untuk itu tiada pilihan lain bagi petani selain memanen paksa tanaman kentang di lahannya. lihatlah :
http://ph.groups. yahoo.com/ group/dosen_ upnjogja/ photos/view/ f9c0?b=11
 
menjelang pulang, kami sempat melihat tanaman purwaceng yang dijuluki ‘ginseng jawa’ karena diyakini mampu meningkatkan stamina pria dan wanita. bagi yang belum pernah melihat jenis tanaman ini, silahkan buka :
http://ph.groups. yahoo.com/ group/dosen_ upnjogja/ photos/view/ f9c0?b=12
oleh penjaga kios, kita diminta mencicipi jamu purwaceng yang dicampur dengan susu anlene. deg-deg an juga karena belum pernah. guna mengurangi ‘dampak’nya, aku mengajar 3 orang untuk menghabiskan 1 gelas hehehe….
 
kami pulang menyusuri tebing curam. cuaca tanpa awan membuat pemandangan permukiman kecamatan kejajar di bawah terlihat sangat jelas.
 
Sampai di kos aku kaget saat berkaca, waduh…. idungku memerah mirip badut.
Panas di dataran tinggi memang luar biasa dampaknya bagi kulit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s