ke-AKU-an

Setiap ada peristiwa yang menghebohkan, orang cenderung memberikan komentar yang beraneka, tergantung background dan ada misi dari lontaran komentar tersebut. Komentar ada yang positif, ada pula yang sebaliknya.

Yang positif, cenderung membangun, biasanya berlampirkan solusi terbaik agar lebih baik atau lebih maju.

Yang negatif, cenderung menyalahkan, berusaha mencari titik kelemahan dan membombardir dengan komentar yang menyudutkan.

 

Mungkin kita pernah mencemooh pernyataan pemimpin yang cenderung menonjolkan prestasi dan menutupi kekurangan. Dalih “kebebasan pers” digunakan agar semua orang menyampaikan fakta apa adanya. Orang mungkin pula bahwa semua hal, termasuk komunikasi, perlu mempertimbangkan kearifan yang sering kali bersifat tersirat (tidak terucap).

 

Orangtua yang sedang memadu kasih tapi ketahuan anaknya yang balita, tentu tidak akan mengaku bahwa mereka memadu kasih. Mereka akan membuat istilah yang bisa dicerna anaknya yang balita, sekaligus punya misi pendidikan akhlaq yang baik. Boleh jadi mereka akan membuat cerita bohong atau sedikit berbohong.

 

Pemimpin yang mengetahui ‘kondisi dapur hancur’ jelas tidak akan membuka info 100% ke publik. Dapat dibayangkan bagaimana dampak sosial yang ditimbulkan apabila rakyat (yang umumnya berpemahaman sederhana) mendengar kabar bahwa negara tidak punya duit lagi, energi sudah habis, pangan tidak ada cadangan, dll. Tentu akan membuat kegelisahan super hebat. Makanya walau pers mengejar info tak kenal waktu, sang pemimpin tak bergeming memberikan pernyataan yang menyejukkan khalayak, walau mungkin berbau kebohongan.

 

Pelatih sepakbola, bagaimanapun kondisi timnya, akan cenderung membuat pernyataan bahwa timnya siap bertanding sebaik mungkin. Dia harus menjaga moral para pemainnya agar tidak down. Dia juga harus menjaga kesan baik dan semangat fans club-nya. Teakhir, dia juga tidak mau diketahui oleh tim lawan tentang kekurangsiapan tim nya. So, sang pelatih boleh jadi akan membuat pernyataan bombardis di depan pers. Namun komentar akan cenderung ‘apa adanya’ setelah pertandingan selesai.

 

Bagi demonstran, sistem yang ada saat ini, tentu akan dianggap buruk. Tentunya tergantung misi apa dalam demonya. Sang pendemo jelas akan membusungkan dada dan bahkan membuat pernyataan bahwa mereka mampu menggantikannya. Walaupun boleh jadi apa yang diteriakkan tersebut masih sebatas mengejawantahkan (baca: aktualiasasi) semangatnya saja, belum ke arah kemampuan diri.

 

Para pejabat di birokrasi, akan cenderung melaporkan “sudah melakukan yang baik, dan mencegah yang buruk”. Kenapa? karena dia membawa misi institusi/instansi yang harus berkesan baik di mata publik, dan mungkin juga membawa misi pribadi sebagai pejabat agar berkesan baik juga. Di level negara, pemerintah jelas akan berusaha membuat kesan baik karena membidik pemilu tahun depan. Namun kalangan non pemerintah (partai oposisi) akan cenderung selalu mencari celah kekurangan pemerintah, agar bisa ‘mencuri’ nama baik untuk modal suksesi tahun depan.

 

Terkadang pula permasalahan yang terlihat tidak sesederhana yang dilihat. Misalnya dunia pendidikan. Entah karena APBN yang super defisit atau apa, alokasi dana untuk pendidikan sangat kurang. Universitas dibiarkan jalan sendiri mencari dana, lalu munculah BHMN, dll. Rakyat kecil hanya bisa komentar “pandai saja tidak cukup, karena untuk kuliah perlu biaya mahal”. Sementar universitas akan dilematis karena tidak mungkin mengandalkan hanya dari SPP/DPP mahasiswa. Maka banyak kampus yang cenderung berbau pendidikan plus entrepreneur plus kerjasama lainnya. Dari sudut pandang pengelola, mungkin inilah upaya maksimal dalam rangka menjalankan manajemen kampus yang baik. Dari sudut pandang lain, mungkin ini dinilai sebagai komersialisasi dunia pendidikan. Yang jelas, fenomena ini bukan sekedar ke-aku-an dari pengelola, mahasiswa, dan alumni belaka; tetapi banyak faktor lain yang sering tidak kelihatan oleh publik.

 

Menengok ke dunia petani. Hampir semua petani berada di level garis kemiskinan, kecuali pengusaha di bidang pertanian. Mengapa harga beras selalu rendah? mengapa pendapatan petani selalu kecil? itulah pertanyaan beken dari para petani kita. Kemiskinan dan pertanian ibarat 2 muka dalam 1 mata uang, alias saling terkait. Namun respon pihak luar cenderung memanfaatkan pertanian dan kemiskinan sebatas slogan politik belaka. Sudut ke-aku-an dari non petani, mungkin menyarankan “petani harus bekerja keras”. Tetapi faktanya petani super keras dalam bekerja sampai tidak sempat sang kolesterol menumpuk di badannya. Kata pebisnis, yang paling diuntungkan (baca: meraup keuntungan besar) adalah pedagang, mereka menguasai pasar dan mendapatkan harga berlipat.

 

ke-aku-an beda tipis dengan ke-ego-an, walaupun slogannya atas nama demokrasi, kebebasan pers, pejuang, rakyat, dll. sebaiknya ke-aku-an diimbangi dengan kearifan dan kebijaksanaan. budaya mencelah diarahkan menjadi budaya mengkritisi dengan solusi. budaya menghakimi diarahkan menjadi budaya dakwah yang berharap perubahan akhlaq.

jangan karena emosional yang membalut ke-aku-an, membuat kita gelap mata dan selalu membenarkan diri serta menyalahkan orang lain.

 

Yogyakarta, 5 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s