Otonomi Kampus : bagi siapa?

bagi mahasiswa, mungkin otonomi kampus dimaknai sebagai “polisi dilarang masuk kampus” dan di dalam kampus boleh “mimbar bebas” (bukan pak mimbar lho hehehe).
 
otonomi kampus setahuku muncul karena negara mulai ‘cuci tangan‘ urusan dana pendidikan. jadi kampus diharapkan, suka tidak suka, harus mandiri dalam segala hal, termasuk dana pendidikan. so, kampus harus berpikir input dan output.
kata mas eri (alumni), anggaran belanja ITB per tahun sebesar 400 milyar rupiah. sedangkan input dari mahasiswa (SPP+sumbangan) hanya 200 milyar rupiah.
 
jadi banyak kampus yang berpikir seperti perusahaan. misalnya jika ada jurusan yang kurang laku (minatnya 10-20 mhs/tahun) akan ditutup karena dianggap pemborosan biaya. tetapi langkah ini biasanya merupakan jalan akhir apabila dana subsidi silang dari fak lain sudah tidak mungkin lagi. kampus terpaksa tidak bisa berpikir secara jernih tentang pengembangan ilmu di masa depan. boleh jadi, masa mendatang kita akan kekurangan tenaga ahli tertentu karena jurusannya saat ini ditutup karena kurang peminat.
 
kemudian masing-masing kampus banyak menebar jurus sesuai potensi dan kondisi. 5 kampus negeri terbesar tentu sudah punya modal nama dan jaringan alumni yang mengakar ke berbagai departemen/kementer ian. konon, BULOG adalah milik alumni HMI, BPN dan bakosurtanal milik alumni geografi. Deptan milik IPB dan UGM. Ekonomi milik UI. dll. dll.
 
Bagaimana dengan kampus swasta, seperti kita? jariangan alumni mungkin yang solid baru FTM, itupun masih sebatas hubungan harmonis alumni dan lulusan/mahasiswa. data alumni juga masih berserakan. pengurus alumni memang ada, tapi agaknya antar fakultas/jurusan lebih ‘ngeh’ pada jalan sendiri. mimpinya sih pengen seperti KAGAMA. kita sampai binung mau mulai darimana?
intinya, kekuatan alumni masih sebatas potensi dan belum digarap optimal.
 
Kemudian mensiasati Keppres jaman bu Mega yang PNS dilarang ikut proyek, bahkan nama universitas. maka kampus mensiasati dengan membentuk perusahaan. sasaran tembaknya adalah peluang kerjasama dengan di luar kampus yang dapat memberikan income, terutama untuk mengisi kekurangan dana tersebut.
Mungkin juga pikiran ‘kreatif’ melirik pada aset di dalam kampus agar dapat menghasilkan income, seperti lapangan olahraga, iklan, pentas musik, dll.
Tentu alasan detailnya perlu diklarifikasi ke pihak yang bersangkutan.
 
Tentang organisasi mahasiswa (BEM, UKM, HMJ, dll), saya lebih setuju, tujuan akhirnya adalah mendidik pengalaman organisasi, yang jika sukses akan melahirkan mentalitas LEADERSHIP, TEAM WORK, dan NETWORKING.
ada alumni sukses yang memberikan wejangan, “apapun jurusannya, lulusan harus punya mental LOGIS, ANALITIS, ARGUMENTATIF( KOMUNIKATIF) , SISTEMATIS”.
hai mahasiswa, yuk koreksi diri, udah menjangkau level itu belum? jika belum, mari perbaiki diri, bisa minta bimbingan alumni. saya sendiri rencana membuat buku tentang ini. semoga jadi hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s