Rekam Jejak Kegiatan Mahasiswa

Kebetulan era tahun 1991-1997 dulu aku lumayan aktif mengikuti kegiatan mahasiswa, dari rame-rame naik gunung (lawu 2x, merbabu, dan sindoro), iseng mbentuk grup dangdut (vokalis, tanpa goyang, 3 kali manggung, lagune kuwi-kuwi wae yi “ani” “syahdu” “setangkai bungai padi” dan “bila”), aktif mengadakan kajian dan buka bersama, 3 tahun aktif di HMJ (1 periode jadi ketua umum), 2 tahun ikut UKM Kempo (mentok sabuk ijo, pertanian si :p), dan suka melakukan kunjungan lapangan (survey tanah) dan studi banding ke kampus lain (UGM, IPB, UPN surabaya, dan UNIBRAW).
 
Trus waktu melirik ke sistem keorganisasian senat mahasiswa (sekarang namanya BEM), Ketua Senat Fakultas dipilih atas pencalonan dari masing-masing HMJ, kemudian pemungutan suara. Proses ini hampir tanpa biaya, karena tahap pemilihan ketua dianggap cukup dengan sekali rapat, pidato calon dan gulungan kertas untuk voting. Senat Fakultas lebih mengedepankan sebagai koordinator HMJ walau HMJ tidak bertanggungjawab kepada Senat Fak. Kegiatan Senat Fak lebih kepada bentuk ilmiah, seni dan olahraga yang mengakomodir “warna” jurusan-jurusan di fakultas itu. Adapun Ketua Senat Univ dipilih dari calon yang diusulkan masing-masing Senat Fak, lalu pemungutan suara.
Seperti itulah dinamikanya. …..
 
Kemudian saat melihat pada gerakan mahasiswa saat ini, kulihat (subyektif tentunya), gerakan HMJ dan UKM lumayan tidak berubah. Sedangkan Senat ketika berubah nama menjadi BEM, juga terjadi perubahan yang drastis. Istilah yang cukup populer dari mereka adalah “para birokrat” yang menunjuk para dosen yang menjabat dan tenaga administrasi. Kulihat pula energinya banyak dihabiskan untuk mengkritisi kampusnya sendiri,  kampanye  dan pemilu raya, dan sangat minim kegiatan ilmiah. 
Kadang aku mendambakan kegiatan BEM Fak berupa kegiatan ilmiah (seminar, riset, LKTI, dll) yang meramu jurusan di dalamnya. Demikian juga BEM universitas yang melakukan kegiatan ilmiah dengan meramu 5 fakultas yang ada.
 
Euforia ‘gelar’ pejabat mahasiswa dengan sebutan “presiden” untuk ketua, “sekjend” untuk sekretaris, “gubernur” untuk ketua fakultas, “menteri” untuk ketua bidang; kok rasanya kurang pas. Lebih baik menggunakan istilah yang wajar, dimana “ketua” untuk organisasi, dan “kepala” untuk suatu badan, dan “presiden” untuk negara.
 
Demikian juga ada slogan yang kadang diyakini kalangan tertentu berupa “rakyat selalu benar dan negara selalu salah”, jangan kemudian dibawa ke kampus dengan istilah “mahasiswa selalu benar dan dosen (para birokrat) selalu salah”.
 
Euforia kepartaian di bawa ke kampus juga dirasa tidak perlu karena masing-masing sudah diwakili dengan HMJ. Kampus juga tidak identik dengan negara mini. Jika ingin saling kenal dan kerjasama, khan bisa juga antar HMJ. sangat lucu apabila ketua BEM fak dicalonkan oleh partai tertentu yang jumlahnya segelintir orang, tanpa ada pencalonan dari pihak HMJ. Aku sempat tersenyum ketua Ketua BEM Fak terpilih hanya oleh sekitar 3 suara, padahal jumlah warga se fakultas sekitar 300an orang.
 
Apapun dalih dan argumennya, sebaiknya kegiatan mahasiswa perlu mempertimbangkan dan mendasarkan pada “output” apa yang nantinya disukai oleh user (penerima kerja). Tentu mereka akan mendambakan kriteria sbb. :
– IPK minimal 3,0 –> kuliah dan praktikum jadi prioritas utama
– punya pengalaman kerja –> jadi asisten prak atau magang kerja
– leadership –> belajar memimpin/memanaj di organisasi
– team work –> terlatih dari pengalaman organisasi dan kepanitiaan
– komunikatif lisan dan tulisan –> organisasi, pidato, dan menulis
– bahasa asing –> kursus
– logis, sistematis, analitis –> rajin melakukan penelitian, ikut lomba karya ilmiah
– wawasan –> interaksi dengan pihak lain (jur/fak/ilmu/ luar kampus)
 
Jangan sampai karena terlalu asyik protes, ntar malah kebawa ke dunia kerja, dimana tidak semua perusahaan suka pegawainya terlalu hoby protes, apalagi yang tidak dikemas secara apik dan santun.
Beberapa orang wakil perusahaan yang sempat aku temui sempat mengeluh bahwa lulusan saat ini berkesan mental instan, belum apa-apa sudah minta gaji tinggi dan fasilitas lengkap.
 
Mohon koreksi dari mas/mbak alumni yang sudah kerja dan mapan di perusahaan, benar tidaknya “output” di atas.
Mohon koreksi juga dari para aktifis jaman reformasi (> 1998), mungkin pandanganku kurang obyekti.
 
Semoga tulisan ini berguna buat kemajuan

One response to “Rekam Jejak Kegiatan Mahasiswa

  1. Ass…
    Lam kenal mas???
    setelah saya baca Recent Post di atas,,
    saya sangat tergugah atas gerakan mahasiswa sekarang, khususnya terhadap lembaga intra yang ada di kampus saat ini,,,
    sepakat dengan apa yang saudara kemukakan, bahwa gerakan mahasiswa sekarang lebih di mengarah kepada politik praktis, bukan kepada politik nilai, salah satunya lewat pemilu raya yang ada di tataran kampus.
    Dan kebanyakan lembaga intra sekarang, uda mulai agak kehilangan arah,, kebanyakan program yang dilakukan hanya bersifat praktis saja, tanpa memandang kualitas dan kuantitas sebuah program….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s