fenomena hidup : 2 penjual angkringan

Alkisah,
Sebut saja namanya A, ‘terdampar’ menjadi penjual angkringan karena tragedi PHK dan kemelut rumah tangganya. Akibat PHK, rumahnya terjual. Akibat berikutnya, istri minta cerai dan ketiga anaknya ikut dengan istri.
Prahara ini membawanya terdampar jadi anak kos dan penjual angkringan. Namun agaknya prahara itu belum membuat hatinya nrimo lan sabar. Hawa amarah dan dendam kepada istri begitu besarnya. Bahkan sekitar dua minggu sekali dia melampiaskan hawa yang lain pada short time kelas ekonomi (non AC yang jelas).
Kadang dia bermimpi mendapat ganti istri seorang perempuan yang belum punya anak tur kaya. Lho kok kepinuk (kepenak=enak) .
Pernah suatu waktu terlontar wejangan :
“Sebaiknya sampeyan meng-nol-kan hati dulu, Pak. Gak usah mikir perempuan pengganti dulu. Paling tidak tunggu sampai setelah lebaran nanti. Entah mungkin jodohnya rujuk atau ada yang baru……
Kalo bisa, jangan diteruska hoby jajan itu. Nanti gak pernah akan merasa puas. Apa nunggu ditegur ama yang di atas po?”
Begitulah nasehat sekitar 4 bulan lalu….
 
Suatu waktu A tidak kelihatan jualan angkringan. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Sampai 2 bulanan. Iseng nyari info ke Bos angkringan, kemana si A?
Kaget campur haru, ternyata si A ditabrak motor. Salah satu tulang dipundaknya patah. Entah sekarang dia penyembuhan dimana dan kerja apa………
 
Kemudian munculah ditempat sama penjual B meneruskan usaha angkringan.
B seorang anak bungsu, pemuda lugu dari kawasan penjual bur-jo (bubur kacang ijo).
Dia tidak mau meneruskan usaha burjo. Sebelumnya dia kerja di warung padang.
“Capek pak, banyak pembelinya, honor sama. sapa tahu angkringan ini ada harapan baru…” ceritanya…
Setelah angkringan berbulan-bulan gak jualan, tentu sekarang jadi sepi. Hasil dia per hari hanya 10an rb.
“Mungkin akhir lebaran saya berhenti, Pak. mau ke palembang, ada om di sana yang kerja di perkebunan karet.” jelasnya
Akhirnya, dengan niat tutur tinular (saling menasehati), keluarlah wejangan sbb.:
– libur akan menyebabkan pelanggan kabur
– B memulai usaha angkringan pada waktu yang tidak tepat (libur mahasiswa dan puasa), dua waktu ini biasanya memang sepi
– membangun pelanggan butuh waktu sekitar 2 bulan
– agar jadi pelanggan, penjual harus ramah, hafal dan suka bertegur sapa
– pendapatan angkringan relatif, biasanya minimal 30rb sehari (buka 17.00-23.00 WIB)
 
itulah fenomena hidup,
mungkin pelajaran ini mengantar kita pada satu kata : SYUKUR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s