Tanda-tanda jadi……

Sabtu lalu, 6 September 2008
Adik-adik mahasiswa islam memintaku memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Anak Sholah di masjid kampus.
Wah kebayang mau nyambut, kata kuncinya “mari kita buka festival ini dengan membaca basmallah… ..”
Namun rasanya wagu tur gak lucu kalo monoton….
Sampailah waktu yang ditentukan. Dengan dandan gamis (baju koko?) plus peci (islami, apa niru india? hehehe), aku datang ke lantai dasar masjid.
Tibalah aku memberikan sambutan,
MC memberikan pengantarnya :
“Festival Anak Sholeh ini akan dibuka oleh perwakilan dari rektorat yi Bapak… dst”
Gubrak! Ane wakil dari rektorat? hehehe. Ternyata tadinya rencana dibuka Rektor, tetapi tidak jadi. Urutan berikutnya pembina KMI, pak Roso, juga tidak ada. Sampailah urutan terakhir….
Tapi kok yang sebutane “wakil dari rektorat…” . Hihihi… serasa mewakili Rektor euy…!!
Hampir mirip waktu Dikwal II, pas latihan upacara, aku kebagian jadi Irup (instruktur upacara), notabene bagian Rektor kalo di kampus.
Jangan-jangan, ini tanda-tanda jadi…….. ……… ……… ……… .
 
Kebayang gak sich, nyambut Festival Anak Sholah yang audiennya mayoritas anak-anak SD, di belakangnya ada ibu-bpk guru dan disamping berjajar panitia mahasiswa. Sampai termenung aku harus nyambut seperti apa…..
Akhirnya kuputuskan 70% untuk konsumsi anak SD, pake prolog :
“adik-adik ingin jadi juara tidak?”
“sudah berdoa belum?”
baru sesekali nyentil ke orangtua dan mahasiswa hehhe….
 
Saat lomba, aku pulang ke kos, melanjutkan ritual ibadah (baca: bobo lah yaw..)
 
Eh sorenya di-sms untuk menyambut kata penutup. Langsung saja dandan lagi.
Sebelum itu aku harus tanda tangan puluhan kali di sertifikat, entah mewakili pembina atau apa hehe. Beberapa adik-adik mahasiswa berseloroh:
“Wah tanda tangan pak Kun laku nich…”
Maaf pak, kami keburu-buru karena ada beban juga karena ini mengundang orang luar, takutnya disangka seperti lomba Fun Bike…”
Akunya hanya tersenyum sak manis-manis- e
 
Aku ikut menyerahkan hadiah sertifikat dan piala serta amplop.
Hiksss……
aku iseng nanya ke ibu guru,
“Berapa isi amplopnya, Bu?”
“Lima puluh ribu, Pak”. Gubrak ! aku tersedak kaget campur malu.
“Kepaksa kami gurunya ikut nombok, Pak. Lha ini harus dibagi 3 (satu grup ada 3 siswa, red). Biar rata sama-sama mendapat 20 ribu rupiah”, tambah Ibu guru tadi.
“Nyuwun sewu, jangan dilihat jumlahnya ya Bu, yang penting meriahnya”. Duh, kalimat ini penyelamat muka malu ku.
Aku jadi termenung. Sebenarnya berapa anggaran lomba ini. Aku yakin adik-adik mahasiswa islam jujur dan apa adanya. Jadi mungkin memang dananya kecil.
 
Saat sambutan penutupan, berkali-kali aku sampaikan ucapan maaf atas segala kekurangan kami.
 
Usai lomba, aku kumpulkan panitia dengan kultum singkat “Hakekat hidup adalah melayani orang”. Jadi belajarlah melayani siapa saja. Saya juga pesan agar mereka sering minta nasehat dari pembinanya.
 
Sudahkah orang lain merasa nyaman dan senang dengan layanan kita?
Atau kita selalu ingin dilayani karena posisi saat ini?
Atau pelayanan kita hanya sebuah jalan untuk ambisi jabatan?
Atau.. kita belum tahu apa itu “melayani”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s