Strategi Bakal Calon pada T-1

Bagi kawulo alit, menyongsong pemilihan tahun depan atau T-1 saat ini (apapun jabatan yang diperebutkan), tahun ini adalah tahun penuh kegelisahan dan kebingungan. Betapa tidak, hingar bingar kampanye terbuka dan terselubung semakin menghiasi hari demi hari. Slogan iklan di televisi, secara terang-terangan banyak individu mengklaim sebagai calon presiden. Sementara di lingkungan yang lebih pemalu, mulai terdengar kasak-kusuk, siapa yang bakal nyalon (lagi) atau siapa saja pendatang baru.

Adapun Bakal Calon sendiri, setahun ini adalah waktu yang tepat untuk ‘tebar pesona’ dengan segala macam kelebihannya, baik yang jujur punya kelebihan atau…. yang norak selalu melebih-lebihkan (baca: jangan tanya jujur tidaknya). Momen waktu skala nasional akan menjadi santapan empuk, seperti lebaran, natalan, tahun baru, dan peringatan hari besar nasional lainnya. Tabiatpun akan menjadi super ramah dan full senyum dalam menghadapi setiap masalah, al khususon di depan media atau saat di depan publik. Yang biasanya jarang SMS atau telphon atau silaturahmi pun mendadak jadi super sering. Sehingga si penerima hanya bisa komentar “akhirnya datang juga…”.
weleh… weleh….

Mungkin bakal calon adalah memang orang yang berkualitas luar dalam. Tetapi kadang sering terlenda dengan pasukan oposan pencari jabatan (baca: tim sukses) yang seringnya malah membuat blunder politik bagi sang kandidat. Dengan semangat 45, tim sukses akan selalu bersikap seperti “rela mati” atau minimal “cap jempol darah” jika ditanya komitmennya. Tak jarang juga mereka dulu orang yang berseberangan karena memihak calon lain, TAPI, karena calon yang ini dirasakan akan menang, langsung deh putar haluan.
“Kita harus cerdik membaca arah angin, donk!”, kilahnya pasti.
Program yang sebenarnya belum layak publikasi pun secara prematur sudah dipropagandakan. Alhasil, jika ternyata meraih kontroversi massa, langsung saja diredam dengan mencari kambing hitam pihak ketiga.

Hawa nafsu berlebihan dalam mimpi meraih kemenangan, kadang membuat kita tidak bijaksana lagi dalam mengatur langkah, baik alokasi waktu, SDM, biaya, dll.

Rasanya sayang juga jika melihat sebuah era kepemimpinan, dimana pemimpinnya sebenarnya bagus, tetapi karena jabatan di bawahnya ‘kepaksa’ banyak diisi oleh hasil ‘dagang sapi’ dan ‘balas budi’ dengan tim suksesnya doeloe, membuat kepemimpinannya menjadi stagnan.

Bagi para Bakal Calon, alangkah baiknya jika lebih jeli memilih partner kerja dan independensi keprofesionalan dalam kepemimpinan. Bagi petualang karier instan ala tim sukses, silahkan berkompetisi dengan elegan dan obyektif, jangan pake dalil ABS demi sebuah jabatan tertentu atau UUD (ujung-ujunge duit).

Jalur propaganda di dunia maya (internet), rasanya masih jarang yang memanfaatkan. Alangkah baiknya jika jalur ini menjadi prioritas, minimal buat pembelajaran orang dewasa.
“tapi khan realitanya masih sangat sedikit yang familiar dengan internet..” kilahnya.

Yang ngaku punya email, pasti banyak
Tapi yang realistis emailnya masih On dan dibuka minimal seminggu sekali, jarang !!

Yang ngaku siap 24 jam untuk berjuang, banyak diucapkan bakal calon
Tapi yang realistis lapang dada memimpin dan menerima kritikan, jarang !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s