Manajemen Kambing Hitam : Sanksi OK, Bonus No way !

Kita kadang geram banget manakala tahu ada orang yang secara sengaja maupun tidak telah mencemarkan nama baik institusi. Bahkan saking geramnya, ibarat pengadilan, kita langsung ACC untuk menjatuhkan hukuman mati (baca: pecat!).
Para pihak yang terlibat pun tergopoh-gopoh merapikan langkah masing-masing (baca: mengamankan jabatan atau status), agar tidak kena imbas. Mereka sering lupa, bahwa semua itu terjadi bisa saja karena sistem yang terlalu longgar, sehingga lubang ada di sana-sini.
 
Namun kita seakan tidak tahu (baca: tidak mau tahu), bahwa roda manajemen di sebuah institusi banyak yang menjadi pahlawan, alias mengharumkan atau mengangkat nama institusi. Tapi apa yang didapat mereka itu? paling jauh hanya sebatas pujian dari pimpinan plus gosip asyik dari rekan-rekan kerja.
 
Pola manajemen di atas lebih tepat disebut Manajemen Kambing Hitam. Artinya, jika ada kesalahan, maka ramai-ramai mencari siapa yang perlu diberi sanksi. Tapi biasanya hanya satu orang, bukan sanksi terhadap sistem. Ibarat perang, jenderal gak pernah salah, yang salah ada komandan lapangan. Tuduhan pun mudah dilakukan, karena komandan tidak melaksanakan sesuai juklak dan juknis. Padahal sering terjadi, komandan hanya sekedar menerjemahkan kebijakan jendral ke tataran teknis, plus taruhan nyawa untuk menghadapi musuh.
 
Sanksi memang harus ditegakkan. Tetapi jangan sampai aturan tentang sanksi baru dibuat manakala ada fenomena yang dianggap pelanggaran (walau aturan yang ada belum ada legal formalnya). Sanksi juga jangan tebang pilih. Yang kena sanksi kebanyakan kawulo alit. Buat orang besar, sanksi akan datang dari hati nuraninya sendiri. Itupun kalau nyadar……
 
Adapun Bonus, agaknya jauh panggang dari api. Biasanya pahlawan itu hanya tepat disebut sebagai “relawan”. Sebut saja mereka yang ‘basah kuyup’ di bagian promosi dan publikasi. Mungkin kesan baik dari pihak luar institusi akan bernuansa ‘biasa’ bagi manajemen intern. Namun apabila ada kesan tidak baik dari luar institusi, serta merta pimpinan akan melotot mencari siapa pelakunya plus sanksi akan dijatuhkan.
 
Fenomena di atas mirip dengan hukum yang berlaku di masyarakat, dimana sangat sulit membangun kesan baik, tetapi sangat mudah menciptakan kesan buruk. Berbuat baik belum tentu akan mendapat pujian, apalagi bonus. Tetapi berbuat buruk, pasti mendapat gunjingan dan sanksi sering menyusul di belakangnya. ..
 
Kata Kyai, berbuatlah dengan hati yang ikhlas…… serta mengharap balasanNYA
 
Kata Pegawai cerdik, sudahlah tidak usah neko-neko membuat ulah, diam aja akan lebih baik dibanding berbuat akan mengandung resiko salah. sekali salah, habislah karier ente….
 
Kata Pejabat karier, silahkan berbuat apa saja, yang penting jabatan saya aman dan… kebijakan yang saya berikan tergantung sistem yang berlaku (baca : nunggu petunjuk yang di atas)……
 
Kata Seorang Juri, jika anda berprestasi maka hadiah menanti. Jika anda melanggar aturan, anda akan dapat sangksi.
 
Tapi…… jarang banget Pimpinan yang memakai ilmu Juri, karena pimpinan punya “kebijakan” yang kadang obyektif, subyektif, ABS, atau pakai kaca mata kuda
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s