The First : behind the scene

Sekali-sekali nekad pake judul bahasa inggris, walau isinya kagak hehe…
———— ——— ——— ——— –
 
Kemarin siang, Heni, teman se angkatan beda jurusan plus teman kerja, yang jadi host rutin acara Warung Ide tiap Rabu pukul 15-16 di JogjaTV, menawarkan agar aku menjadi salah satu narasumber. Tiap tayang biasanya dua narasumber, kebetulan kemarin baru dapat satu. Biasanya narasumber menampilkan hasil kreasi riilnya, sedangkan aku sebenarnya kurang tepat karena lebih layak sebagai pelontar ide. Idenya seperti yang ditulis di media massa beberapa bulan lalu.
 
Inilah pengalaman pertama bagiku, tampil di depan TV sebagai narasumber. Mental naik turun. Otak berpikir nanti bicara apa saja, lha wong aku blum layak jadi pakar. Hati mikir, etis gak yaa, ntar dilihat senior dianggap kewanen hehehe. Rasa pun berbisik, pakai baju apa yaaa…
 
Aku menuju ke kantor JogjaTV di jalan piyungan, menumpang APV-nya Heni. Host-nya nyetir, narasumber ngapalke naskah hahaha. Apik tenan. Kami ditemani seorang teman yang bersimpati mau menyaksikan. Siang kemarin sampai lupa makan siang, demi ngejar waktu. Pakaian yang terpilih adalah batik khas Balikpapan (motif hitam-hijau) pemberian dari teman kosku (baca: hasil tukar guling dengan baju tentaraku yang diberi mabes TNI ketika mbimbing KKN Latsitarda di Lampung 2004). kok gak batik jogja atau tegal? banyak yang keseimpitan. ssttt… yang dipakai ini kata ibu-ibu, wangun lan cocok.
 
Sampai JogjaTV, kami ngobrol dulu dengan narasumber lain yang sudah datang. Ternyata mereka mau bicara Energi Alternatif dengan bahan umbi-umbian, akunya bicara penghijauan dan pertanian perkotaan. 
 
Kemudian kami masuk ke ruang siar 20 menit sebelum on air. Wah adem poll, AC nya mak nyuss. Sang produser menanyakan biodata. Aku tersedak ketika tanya sebagai apa. Mau ditulis pakar pertanian perkotaan, akunya berkelit, lha apalah daku ini. Lalu “pencetus pertanian perkotaan”. Aku ralat lagi, akhirnya sepakat “salah satu pencetus pertanian perkotaan”.
 
Aku masuk di sesi dua, pukul 15.30 WIB dengan skenario datang dan salaman dengan host. Lalu…… mulai tanya jawab. dag-dig-dug, suaraku agak lemah, tapi lama-lama naik dan on hehhe. Terus terang, yang bikin aku bingung adalah pandanganku harus ke kamera atau ke host yang mewawancaraiku. Akhirnya kucoba membuat variasi.
Alhamdulillah ada 3 penelpon dari khalayak. kupikir adalah teman-temanku, ternyata penelpon murni dari umum. Tapi kadang pertanyaan tidak semua dengan materi, misalnya menanyakan teknik budidaya sayuran dan tingkat penyerapan bahan pencemar di udara oleh tanaman hias. Modal nekad, kujelaskan yang makro saja. Khan intinya aku mengkritisi nasip pepohonan yang sering kalah dengan kabel listrik dan semen/aspal, serta perawatan yang kurang (siram-pupuk) .
 
Alhamdulillah, sebagai narasumber pertama dapat minum aqua 600 ml dan ditraktir makan gratis hehehe. Transportasi pp gratis pula hehhe.
 
Pulang dari on air beberapa sms datang “masuk tipi ni yee….”
Teman kos juga menyapa “tadi siaran di tv ya pak?”
 
Senyum dech aku,
Sayang, bapakku ning ndeso kendal lan bojoku di tegal gak iso nonton. hiks……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s