Komunikasi yang EMPAN PAPAN

Banyak orang terlalu asyik memperdalam ilmu dan pengalamannya, tapi kadang terlupa pada satu ilmu, yaitu KOMUNIKASI. Kayaknya memang sepele, khan cuman cuap-cuap atau nulis doank, yang penting dapat diterima orang.
 
Bahkan ada yang keblinger merasa hebat bila uraian dalam tulisannya sulit dimengerti pembaca, atau omongannya yang sulit dipahami pendengarnya. Boleh jadi titelnya sudah mentok, tapi kok malah jadi seperti ini. weleh… weleh….
 
Pernah suatu saat mantan rektor UPN, Prof. Tarwotjo memberikan wejangan :
“Jika anda ceramah, kemudian ada 1-2 orang yang bicara sendiri (baca: tidak memperhatikan ceramah kita), maka 1-2 orang itulah yang perlu ditegur. Namun, jika anda ceramah, kemudian sebagian besar tidak menyimak ceramah anda, maka Anda-lah yang perlu koreksi diri”.
 
Wejangan ini sangat menarik untuk mengukur sejauh mana tingkat kepiawaian komunikasi kita. Jika banyak orang jengah dengan obrolan kita, maka dengan bijak kita harus koreksi diri. Tentu ada sesuatu yang kurang disukai khalayak, mungkin terlalu menyakitkan, mungkin terlalu vulgar, mungkin juga tidak menarik.
Sebenarnya salah satu jurus utama orator adalah joke (humor ringan). Gusdur dan Zaenudin MZ adalah contoh orator yang sangat disukai terutama joke-nya. Tukul Arwana melambung namanya juga karena joke yang cenderung lugu, kuper dan agak saru. Tentunya Joke harus disesuaikan dengan siapa kita bicara. Tetapi sejauh yang pernah saya amati, para pemimpin besar tiada lupa untuk memberikan joke di awal, tengah atau akhir pidatonya.
 
Untuk mengendalikan massa yang tidak memperhatikan ceramah, kita tidak perlu pakai jalan pintas seperti mengumpat, marah, dan memberi hukuman. Boleh jadi memang kita harus banyak belajar lagi agar lebih menarik. Kita perlu mengarahkan perhatian dengan cara yang elegan, misalnya dengan menyebut nama sumber kegaduhan, memujinya atau menjadikannya obyek cerita yang mengasyikan (baca: bukan mempermalukan) .
 
Untuk dunia aktifis jalanan, mungkin pidato yang berkobar-kobar sangat diperlukan dalam menggerakan massa dengan emosinya. Namun saat berada di dalam ruangan sedang bernegosiasi, kita tidak perlu berbicara ala jalanan. Begitu juga saat pendemo ini bicara dengan pacarnya, dengan dosennya, dengan calon mertuanya, dengan pedagang angkringan, dll. Itulah yang namanya empan papan (baca: bisa menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi).
 
Untuk anak muda yang memulai karier dalam dunie kerja, mungkin bicara lugas dan apa adanya untuk menyampaikan pendapat adalah hak. Tetapi seiring dengan jalannya waktu, gaya bicara sangat penting dalam berkomunikasi. Boleh jadi isi sama, tetapi cara menyampaikan beda, maka beda pula tanggapannya.
 
Jangan asal benar lalu bicara, karena tidak semua kebenaran harus dibicarakan. Kebenaran bisa juga ditulis, direnungkan atau langsung dipraktekkan. …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s