Pejabat Karier vs Pejabat Politik

Kepemimpinan antar lembaga/instansi mempunyai warna yang berbeda-beda. Namun ada dua jenis jabatan yang cukup menggelitik, yaitu jabatan yang dapat dirintis berdasar karier di lembaga itu atau jabatan yang bisa ujug-ujug (tiba-tiba) dimiliki oleh orang dari luar lembaga itu. Sebutan yang pertama diberi nama pejabat karier dan yang kedua pejabat politik.
 
Persaingan meraih jabatan karier dirasakan lebih logis, karena orang akan merintis jalan dari bawah dan berharap menjabat pada level tertinggi. Biasanya pejabat karier dapat terbaca sejarah kinerjanya. Sedangkan jabatan politik lebih banyak menggantungkan pada aroma politik di luar lembaga, jadi pejabat politik ibarat mendapatkan “kucing dalam karung”, yang gak jelas bagaimana kualitasnya. Bisa sangat baik, bisa pula amat sangat buruknya.
 
Bagaimana sikap kita, yang notabene kadang termasuk di dalam lembaga itu?
 
Sebutlah jabatan di dalam kampus, semua dosen berpeluang menjadi pejabat karier seperti Ketua Jurusan, Dekan dan Rektor. Namun mungkin saja ada jabatan-jabatan tertentu yang dipilih berdasar penunjukkan dan persetujuan pihak tertentu. Ibarat piramida, maka di level tertinggi hanyalah 1 orang rektor. Berdasar peluang dan rentang waktu, tidak mungkin semua dosen giliran menjadi rektor…..
 
Sebutlah jabatan di dalam kementerian, bagi pegawai di departemen itu, tentu bisa berharap dan bermimpi menjabat posisi puncak, tetapi hanya sampai level deputi atau dirjen. Sedangkan menteri, sudah menjadi jatah pejabat politik, terserah siapa yang dipilih oleh presiden, bisa dari pejabat karier, bisa dari orang partai, bisa dari garis keluarga, bisa jadi publik figur, atau bisa dari orang yang ahli di bidangnya.
 
Kalau pejabat karier, kampanye untuk meraih simpati dilakukan dengan banyak cara, baik positif maupun saling jegal, terutama kepada jamaah yang punya hak suara. Kalau jabatan politik, banyak faktor X yang bicara, tapi umumnya tergantung pada lobi tingkat tinggi.
 
Bagi pihak yang iso rumangsa (tahu diri) tidak mungkin meraih jabatan karier yang tertinggi, maka biasanya yang ambisius akan berusaha dengan sangat agar mendapat kepercayaan pimpinan, malah bisa perlu dengan menekan bawahan plus black campaign. Atau, mereka ini malah asik memainkan posisinya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Slogannya “aku memang bukan big boss, tapi hartaku sebanyak big boss”.
 
Paling seru memang kalo mengamati orang-orang yang ambisius (baca : petualang jabatan) ngumpul di satu tempat, asyik melihat bagaimana manuver mereka bersaing, sampai lupa visi misi instansi, sampai lupa orang lain sangat jengah memandang langkahnya, sampai lupa mana benar mana salah, sampai lupa makin banyak saja orang yang ‘diinjak’nya. Seru dech!
 
Seru lagi jika kita bisa menengok hati masing-masing dan menjawab pertanyaan hakiki. Kenapa musti bersaing dengan menyakiti, dengan berbuat yang tidak pantas, dengan tipu muslihat, dll. Sebenarnya apa yang kita cari di dunia ini…..? jabatan sesaat yang serba semu atau jabatan kekal, yaitu “orang-orang yang beruntung dunia-akherat” ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s