Warna Petani

Warna petani memang beragam, kadang kuning, merah, biru, hijau, ungu, dll. tergantung partai mana yang memberi kaos gratis kepadanya. Mungkin sih kualitasnya selevel ‘saringan tahu‘, tetapi bagi Petani itu adalah berkah dan sering dipakai ketika pergi ke sawah.
 
Status petani juga sering mewarnai kancah politik. Banyak capres dan partai mengambil slogan “membela petani” sebagai slogan pendamping dari “mengentaskan kemiskinan”. Tentang slogan itu jadi realita, agaknya selalu dan selalu jauh panggang dari api.
 
Warna petani juga identik dengan warnane wong cilik. Lagi-lagi ini juga sering jadi slogan oleh mereka yang mengklaim sebagai calon pemimpin negeri ini.
Sekedar anekdot, aku sendiri hampir selalu tidak dipercaya sebagai anak petani. Kenapa? karena aku adalah Wong Gede hehehe….
 
Terkait alih teknologi,
Banyak pihak kesulitan melakukannya karena menganggap : petani sulit diajak maju, petani tingkat pendidikannya rendah, dll. Benarkah? ataukah mereka lupa pada ‘warna petani’ sehingga tanpa strategi memberikan umpan yang salah?
Kadang ada program menanam komoditas tertentu, tapi ganti tahun, petani kembali ke komoditas semula
Kadang ada program alat baru, tapi hanya pas pelatihan saja memakainya, setelah itu tinggal kenangan, alatnya di-museum-kan
Kadang ada bantuan ternak, ganti bulan, ternaknya pada jalan-jalan di pasar hewan, alias dijual secara masal
Kadang ada program reboisasi di lahan yang digarap petani, entah kenapa, tanaman tahunan itu banyak yang mati karena dicabut, dipangkas atau tanpa perawatan…
 
Berpikir tentang Pemberdayaan Masyarakat Petani, harus dimulai dari bagaimana mereka dan apa yang mereka butuhkan.
Secara sederhana, mereka juga tidak neko-neko (tidak banyak permintaan) terhadap kehidupan ini. “Sing penting cukup buat makan dan nyekolahkan anaknya”, ini bahasa yang sering keluar dari keluguan, kejujuran, dan kesederhanaan.
Ada juga yang mengistilahkan kehidupan mereka dengan “Besok makan apa?”, sekedar menggambarkan keterbatasan ekonominya. Namun istilah ini terlalu menganggap petani itu lemah, padahal para petani umumnya mempunyai kemampuan sangat tinggi dalam beradaptasi dengan alam. Jarang kita temui petani “menganggur” atau “PHK” karena sebenarnya ada saja yang bisa dikerjakan oleh petani, dari persiapan lahan, pembenihan, penanaman, pemupukan, penyiangan, pemanenan dan pengolahan hasil panen. Bahkan mereka bisa nyambi kerja di tempat lain. Biasanya saling bantu dengan sesama petani di desa.
Coba bandingkan dengan buruh yang sangat rentan apabila kena PHK, seakan mereka hanya bisa duduk termangu dan meratapi nasip.
Maka konon para ahli negeri ini memberi wejangan, “sektor riil yang paling tahan terhadap krisis moneter atau krisis global adalah pertanian”.
Tapiii…… ., pertahanan petani pada level yang paling rendah. walaupun ‘kerendahan’ itu juga kadang ikut goyang akibat permainan harga benih, pupuk, dan pestisida.
 
Pola pertanian terpadu dengan sistem pertanian organik dianggap paling tahan banting karena hampir semua saprodi (sarana beaya produksi) dapat diusahakan oleh petani sendiri. Bibit dari bibit lokal. Pupuk dari kompos dan kotoran ternaknya. Pestisida diracik sendiri dengan ramuan yang serba pahit. Hasil panen pun banyak tidak dijual karena untuk persediaan pangan sendiri (katanya Mandiri Pangan jadi slogan….).
 
Jika berpikir memajukan pertanian dan petaninya, kelemahan utama ada di kepastian pasar dan kelembagaan kelompok tani. Secara umum, petani sudah piawai memproduksi. Tapi secara umum pula, keuntungan banyak numpuk di pedagang/tengkulak/ pengepul yang notabene tidak berkeringat ikut menanamnya.
Kalau pengusaha datang ke petani, pertanyaan wajib adalah “berapa stocknya? per hari? per minggu?”. Kualitas dan kontinuitas adalah momok petani dalam ber-marketing pada produk pertaniannya. Pengusaha tentu berpikir tentang pasar besar yang butuh jaminan kualitas dan ketersediaan barang dalam jangka panjang. Tetapi petani juga mumet kalo disuruh menyediakan barang buanyak plus high quality kerena memang kelembagaan mereka sangat lemah.
 
Yuuuuuk, kita berdayakan dan mandirikan petani…… …….
 
Aku Bangga Jadi Anak Petani,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s