KETIKA MUSIM HUJAN DATANG

Peralihan musim kemarau ke musim hujan mulai dirasakan saat ini, terutama dari rasa panas cenderung sangat gerah akibat suhu tinggi dan kelembaban udara rendah, menuju rasa dingin cenderung sejuk akibat mulai terjadi hujan dan suhu rata-rata yang mulai turun. Kondisi seperti ini membuat kita cenderung merasa nyaman untuk beraktifitas. Namun kita tidak boleh terlena dengan kedatangan musim hujan ini karena akan terjadi perubahan lingkungan yang perlu diantisipasi dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif yang mampu membahayakan jiwa manusia.

Pemahaman tentang Kondisi Lahan di DIY

Secara sederhana, kondisi lahan di DIY digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu : (1) Lahan di wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul; (2) Lahan di wilayah Kabupaten Kulon Progo, dan (3) Lahan di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Kelompok Pertama merupakan lahan yang memanjang dari puncak Merapi ke selatan sampai garis pantai. Lahan di wilayah ini umumnya pasiran, dari kecenderungan pasir kasar (ukuran butir lebih besar) di utara menuju menuju ke pasir halus di selatan. Tanah pasiran mudah sekali meloloskan air. Tetapi dengan banyaknya tutupan semen dan aspal, seperti perkantoran, permukiman, dan jalan raya, menyebabkan proses infiltrasi (masuknya air ke dalam tanah) menjadi terhambat. Sehingga sering timbul genangan bahkan banjir lokal di beberapa lokasi setelah terjadinya hujan.

 Kelompok Lahan yang kedua adalah di wilayah Kabupaten Kulon Progo yang umumnya berupa perbukitan tinggi dengan lereng cenderung curam. Kondisi lahan seperti ini rawan mengalami erosi dan longsor. Penanaman dengan tanaman kehutanan dan perkebunan lebih direkomendasikan untuk wilayah ini. Perakaran tanaman tahunan akan membantu ‘memegang’ tanah guna mencegah erosi dan longsor. Model terasering juga perlu diterapkan, khususnya untuk lahan dengan budidaya tanaman semusim. Sedangkan lahan perbukitan di daerah bawah yang banyak mengandung batuan kapur perlu upaya konservasi air. Prinsipnya adalah menampung air hujan dan mempertahankannya selama mungkin.

Kelompok Lahan yang ketiga adalah di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul dan beberapa wilayah kecamatan di bagian paling timur dari Kabupaten Bantul. Secara umum wilayah ini terbagi menjadi tiga zone, yaitu zone utara, zone tengah dan zone selatan. Zone Utara umumnya berupa perbukitan yang banyak difungsikan untuk budidaya tanaman perkebunan dan kehutanan. Zone Tengah umumnya berupa dataran dengan ketersediaan air yang cukup, sehingga banyak difungsikan untuk permukiman dan budidaya tanaman semusim. Zone Selatan umumnya berupa perbukitan kapur (kars) yang sering mengalami kekeringan karena air tanah sangat jauh dari daerah perakaran tanaman atau permukaan tanah, sehingga lebih cocok difungsikan untuk tanaman kehutanan. Umumnya penduduk memanfaatkan untuk budidaya tanaman selama satu musim tanam saja, seperti ketela pohon, jagung, kacang tanah, dan rerumputan pakan ternak.

Pemahaman tentang Musim Hujan

 Musim Hujan datang di wilayah DIY sekitar akhir bulan Oktober sampai bulan April. Musim Hujan datang setiap tahun. Seharusnya kita mampu mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan kedatangan musim hujan ini. Langkah pertama adalah memahami dampak hujan bagi lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif.

Dampak positif hujan bagi lingkungan adalah memberikan air buat kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Hujan meningkatkan ketersediaan air tanah, ditandai dengan meningkatnya muka air permukaan (sumur). Hujan meningkatkan kelembaban udara dan menurunkan suhu lingkungan. Tutupan awan di angkasa turut mengurangi teriknya matahari di di siang hari. Air hujan juga mampu menangkap debu yang beterbangan akibat polusi dan melarutkan debu yang  menempel di permukaan daun dan bangunan. Air hujan mampu meningkatkan kelembaban tanah, sehingga pertumbuhan vegetatif tanaman berlangsung lebih cepat.

Hujan juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Hujan yang turun pertama kali, setelah kemarau panjang, akan dapat menyebabkan erosi percik di permukaan tanah. Intensitas hujan yang makin tinggi akan menyebabkan peristiwa erosi, tanah longsor dan banjir. Peristiwa longsor dan banjir akan dianggap sebagai gangguan atau bencana apabila sudah merugikan harta benda dan mengancam nyawa manusia. Pada volume curahan yang sama (harian), curah hujan yang sangat deras dan berlangsung cepat akan lebih berbahaya daripada hujan gerimis (tidak deras) dan berlangsung lama. 

Memanen Air di Musim Hujan

Kadang kita terjebak memahami musim hujan secara terpisah dengan musim kemarau, padahal keduanya terkait sangat erat. Hakekatnya, air yang datang di musim hujan tidak melimpah. Kenapa? Karena air hujan yang kelihatan melimpah itu sebenarnya adalah jatah air di musim kemarau. Jadi musim hujan adalah bekal kita memasuki musim kemarau yang hampir tidak ada hujan. Jadi alangkah bijaknya apabila kelebihan air di musim hujan ini dapat kita “simpan” untuk cadangan persediaan di musim kemarau. Bagimana cara menyimpannya?

Istilah “memanen air” sering dipakai dalam khasanah ilmu konservasi air. Memanen air diartikan sebagai upaya manusia untuk menampung dan menyimpan air yang berasal dari hujan untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan irigasi tanaman budidaya. Pemanenan hujan di kelompok lahan yang pertama (Sleman, Kota Yogyakarta dan dataran rendah Bantul) lebih ditujukan untuk irigasi tanaman dan mengisi persediaan air tanah agar dapat mengimbangi kebutuhan penyedotan air tanah untuk berbagai keperluan. Pemanenan di daerah atas dapat berupa bendungan mikro yang berfungsi menampung air, meningkatkan volume resapan air dan sumber air irigasi bagi budidaya tanaman dan usaha budidaya perikanan air tawar. Pemanenan yang jauh dari aliran sungai dapat berupa rorak (lubang tanah) dan sumur peresapan. Pemanenan di sekitar kota atau pusat permukiman dilakukan dengan pembuatan sumur resapan dan lubang biopori.

Lokasi pembuatan sumur resapan sebaiknya di tempat-tempat yang mudah mengalami genangan saat hujan turun. Genangan terjadi karena adanya pengumpulan volume air hujan pada luasan tertentu yang tidak dapat menyerap air, seperti atap bangunan, aspal jalanan, dan halaman yang ditutup dengan semen. Biopori adalah lubang sedalam 1 meter dengan diameter sekitar 20 cm yang diisi dengan sampah organik. Biopori direkomendasikan pada titik-titik lokasi di sekitar bangunan yang sering terjadi genangan saat hujan turun. Biopori akan membantu mempercepat proses infiltrasi air hujan ke dalam tanah.

Pemanenan hujan di kelompok lahan yang kedua dan ketiga cenderung berfungsi ganda, yaitu untuk persediaan air rumah tangga dan air untuk irigasi tanaman. Tempat pemanenan hujan yang lebih dikenal penduduk adalah embung, yaitu sebuah bangunan bak dari semen (baca: kedap air) dengan ukuran tertentu guna menampung air hujan yang berasal dari genteng dan atau air hujan yang membentuk aliran permukaan di sebuah mikro DAS (daerah aliran sungai). Air yang tertampung di dalam embung dapat dimanfatkan pada awal musim kemarau untuk irigasi tanaman atau kebutuhan air sehari-hari. Air embung untuk kebutuhan memasak dan air minum memerlukan proses penjernihan atau penyaringan.

Saatnya Menanam Pohon

Awal musim hujan adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan penghijauan di lahan kritis, lahan terbuka hijau, hutan kota dan sepanjang pinggir jalan raya. Pemilihan jenis tanaman keras berakar tunggang dan dalam, batangnya kuat (baca: tidak mudah patah), dan dedaunan yang rimbun sangat direkomendasikan. Bila perlu jenis tanaman buah dapat direkomendasikan karena pada umur lebih dari lima tahun mampu memberikan nilai tambah dan tidak mudah ditebang.

Penanaman saat ini berarti memberi kesempatan tanaman tumbuh dan berkembang selama 4-5 bulan dengan siraman air alami dari hujan. Sehingga pada akhir musim hujan diharapkan tanaman-tanaman ini dapat ‘mandiri’ untuk menyerap air dari dalam tanah karena perakarannya sudah cukup dalam. Bahkan kemampuan untuk bertahan hidup semakin tinggi, terutama untuk melewati musim kemarau yang akan datang.

Program pemupukan organik juga sangat tepat dilakukan pada saat ini. Apalagi jika pupuk organik tersebut dibuat dengan memanfaatkan sampah kota. Tentu pencemaran lingkungan akibat sampah kota dapat dihambat dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Mungkin terasa mimpi apabila kita ingin berkiprah mengurangi pemanasan global dalam skala dunia, tetapi sangat realistis apabila kita mencoba mengurangi pemanasan lingkungan di sekitar kita. Minimal dengan menciptakan iklim mikro yang sejuk dan menyegarkan, seperti saat kita berteduh di bawah pohon yang rindang, berlindung dari sinar matahari siang yang sangat terik dan menyengat.

Ket : Artikel ini dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat 7 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s