Lomba Paduan Suara : merdu atau sumbang?

Semangat ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak pertanian mengikuti lomba paduan suara memang luar biasa. Latihan seminggu lebih, hampir tiap hari. jenis vokal yang berbeda digolongkan. masing-masing punya tugas yang terbagi rata, dari vokal utama, vokal pendukung, pengiring, dirijen (?), sampai penyedia akomodasi. Bahkan untuk ‘pemanis’ dibelikan seragam batik dan kerudung. Masing-masing seperti bekerja sesuai tugasnya.
Sungguh suasana ini sangat beda apabila hanya bertemu dalam suasana kerja. Kolaburasi dalam satu tim memang terasa menambah makin harmonis. Tawa dan canda menghiasi suasana latihan.
 
Menjelang hari H, tempat latihan diujicoba di ruangan agak terbuka, agar suara lebih lepas dan mental lebih jadi. Pengaturan barisan, cara berjalan, dan bagaimana bergoyangpun dibicarakan. Namun mungkin karena latah dosen atau apa yaa, kebiasaan, kalau ada pengumuman apapun,  SELALU dikomentari hehe. jadi, tim ini memang paling sulit untuk diam dan patuh. Umumnya patuh, tapi tetap komentar… , apa karena kebanyakan ibu-ibu? wah gender ups !
 
Hari H, kami datang pagi-pagi. pertama karena presensi pekan disiplin. kedua ya mau latihan lagi sebelum manggung. Tim pertanian mendapat urutan nomor 2 setelah tim ekonomi. Hatiku sudah cemas dengan penampilan pertama, agaknya tim paduan suara tidak disediakan pengeras suara. Hanya iringan musik yang masuk pengeras suara.
Memang semua diperlakukan sama, tetapi suara kami kebanyakan nada rendah, tentu akan lebih sulit terdengar untuk bersaing dengan suara musik.
 
Suasana lomba dilaksanakan dengan riang gembira. Agaknya semua tim optimis. Cuma ada 1 tim nyeleneh, karena dirigennya cowok dan anggotanya pegang kertas sontekan karena lagu tidak hafal. Berhubung jumlah peserta hanya 4, maka optimis kami adalah, kalau tidak 1, 2 atau 3 hehe.
 
Tibalah pengumuman dewan Juri. Gubrak ! ternyata tim pertanian hanya di no 2. Gemuruh ketidak puasan bak air bah. mulai dari kenapa Juri kok ikutan melatih atau pelatih kok jadi juri, padahal tim pertanian satu-satunya yang tidak dilatih. Penjelasan seorang Juri kepada wakil tim pertanian juga dianggap semakin tidak puas, salah satunya tentang iringan musik yang harusnya pakai piano; padahal tidak ada ketentuan sebelumnya.
wes pokoke intine gak puaaaasssss. …….. hhehehhee…
 
Aku sich mikirnya sederhana, lha wong biasane dhuafa , alhamdulillah dapat jatah batik dan makan siang beberapa hari gratis. di saat lomba juga dapat snack enak, plus foto-foto caem, plus bisa beramah tamah dengan sesama orang yU-Pe-eN.
 
Guna sportifitas dan obyetifitas, kami minta masukan dari beberapa orang yang ikut menonton. Mereka memberikan pendapat beragam. Intinya tim kita lebih layak di urutan no dua.
“udah nomer tiga, jarak nilai dengan nomor empat kok dikit banget, aneh !”
hehehe…
 
Biarkanlah itu dinamika lomba,
namun hikmah yang mulia adalah lomba ini dapat melatih softskill dan kebersamaan antar pegawai. Super hebat lho ternyata dosen-pegawai bisa kompak dan makyuss suaranya.
 
Bukan itu saja, para pejabat teras juga ada rencana main ketoprak. Semoga yang biasanya dihormati (baca: pimpinan lebih tinggi), akan dapat peran jadi kawulo alit di ketoprak itu. Jadi…… nanti kita lihat ada yang saling sungkem karena canggung hehehe…
Namanya juga hiburan, bulatlah yang abnormal dikit, biar kita-kita juga terhibur 
  
Jadi, merdu dan sumbang tergantung siapa yang mendengarkan to…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s