Orang Dewasa, Orang Bertopeng

“Mamaa, Ade  lapar….”, keluh si anak umur 5 tahun pada Ibunya. Tanpa diselidiki, kita sepakat bahwa si anak tadi memang lapar. Begitu juga ketika seorang ce ABG begitu terpesona melihat cowok idolanya tampil di TV. Boleh jadi dia akan super gembira untuk menontonnya, atau…. super marah apabila channel TV diganti oleh orang lain. Itulah ekspresi hati tanpa basa basi.

Namun beda halnya, ketika seorang dewasa sedang bertamu ditanya oleh tuan rumah : “Sudah makan? …makan yuk..”. Maka si Tamu dengan santunnya sering menjawab, “Oh, terima kasih. Tadi saya sudah makan dan sekarang masih kenyang”. Benarkah begitu? si Tamu memang sudah kenyang, atau malu untuk makan, atau ada alasan lain yang tak mungkin disampaikan.

Semakin bertambah dewasa, biasanya manusia akan semakin mempertimbangkan banyak hal. Bahkan kadang suara hati tidak pernah terucapkan karena tertutupi oleh gengsi dan kepentingan tertentu. Pertimbangan secara fisik maupun mental (tata krama, gengsi, dll.) sering sulit ditebak mana alasan yang paling benar.

Jangan kaget apabila mendapati cewek/istri kita ngambek mogok makan gara-gara hatinya sedang gelisah (sedih/marah/dendam).

Jangan kaget pula orangtua akan tersenyum melihat tingkah polah anak muda yang kelewatan (baca: tidak sopan), tetapi hati sebenarnya sangat marah.

Jangan kaget melihat wajah-wajah koruptor yang seperti memakai topeng (baca: raut muka datar seperti tanpa salah) ketika dicerca pertanyaan oleh media, bahkan dengan sok berwibawanya dia akan menjawab : “Nanti pengacara saya yang akan menjawab, ok?”, atau “Kita serahkan semua sesuai jalur hukum yang berlaku di negeri ini”, atau “Tolong dibuktikan apabila saya memang bersalah”, dll….

Jangan bingung pula melihat para selebritis bersilat lidah, sulit membedakan perannya di sinetron/film dengan gosip yang menerpa kehidupannya. Namun secara jeli kita dapat menilai jujur tidaknya dari ekspresi wajah.

Belum lagi paranormal yang jualan “nasib orang” melalui layanan SMS. Sulit membedakan ini utusan malaikat atau pedagang tukang ngibul tapi kalimatnya mantab bin meyakinkan. Seperti uraian di ramalan bintang dan sejenisnya, yang sebenarnya hanya permainan logika belaka. Semisal “Hati-hati dengan pengeluaran belanja minggu ini, jika tidak, anda akan mengalami defisit anggaran belanja minggu depan”. Logis khan? hehhe

Salahkah memakai “topeng”? tergantung situasi dan kondisinya donk. Kadang orang dewasa terpaksa berkata bohong atau menutupi ekspresi wajah yang sesungguhnya demi suatu tujuan. Nah tujuan itu yang harus diluruskan agar tetap baik dan mulia.

Bagaimana seorang ibu terpaksa kelihatan tidak sedih di depan anak-anaknya ketika suaminya meninggal. Ibu ini ingin menunjukkan ketegaran agar ditiru oleh anak-anaknya. Walau saat sendiri Ibu ini menangis dan meratap pilu…..

Bagaimana seorang penyiar harus kelihatan tetap ceria plus riang gembira, walaupun kondisi keluarganya tidak selalu menyenangkan. Penyiar ini tidak mau mengajak pemirsa/pendengar ikut larut dalam kesedihan pribadinya.

Bagaimana seorang presiden harus tetap berpenampilan tenang dan berwibawa, walaupun dia tahu bahwa kondisi negara sedang dalam ancaman (pangan, krisis global, bencana, dll.). Presiden mencoba bersikap tenang agar dapat dicontoh rakyatnya agar tenang pula.

Sehingga, kita harus pandai menempatkan, kapan memakai topeng, kapan tidak. Tentunya berdasar pertimbangan pilihan yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s