KENAPA BANJIR di BATANG timur – KENDAL – SEMARANG

Awal Februari 2009 ini wilayah Batang bagian timur, Kendal tengah-utara, dan Semarang di landa banjir. Kenapa ini terjadi? akibat perubahan penggunaan lahan? belum tentu. Cek data dulu, apakah jaman sebelum 70an juga sudah terjadi banjir. Ataukah banjirnya dulu lebih kecil dibandingkan banjir sekarang?
 
Jika sejak dulu sudah terjadi banjir, seperti halnya Jakarta, maka boleh jadi memang ‘konstruksi’ geologinya emang gitu. Artinya wilayah-wilayah yang terkena banjir itu lebih tepat disebut rawa daripada hunian. sampai pengalaman waktu kecil sangat familiar mandi di kali saat banjir. Namun jika banjirnya lebih heboh, maka ada yang salah dalam pemanfaatan lahan pada beberapa dasawarsa terakhir ini.
 
Lahan di Kabupaten Kendal dan sekitarnya, umumnya terbentuk dari endapan alluvial dengan tanah lempung (clay) tipe 2:1 atau jenis montmorilonit. Dengan bahasa populer, terdiri dari lempung hitam, yang mudah merekah saat kemarau dan mengembang saat hujan. Sifat lempung ini mempunyai gaya kohesi (lempung-lempung) dan adhesi (lempung-air) yang tinggi. Akibat rekahan, akar tanaman dan bangunan bisa ikut patah karenanya. Akibat sifat mengembangnya, lempung ini dapat membentuk lapisan mampat untuk sementara waktu.
 
Penjelasan yang terakhir ini yang terkait dengan banjir. Tanah lempung ini mudah menyerap air dan mengembangkan diri, sehingga membentuk lapisan mampat yang sementara (beberapa hari). Akibatnya dalam beberapa jam, saat pasokan air hujan terus terjadi (data: curah hujan kemarin hampir 10 jam lebih) akan membentuk genangan yang makin besar.
 
Akibat sifat ini pula model pertanian di Kendal sering memakai bentuk ala sorjan, yaitu adanya got drainase diantara pematang. Fungsinya untuk membuang kelebihan air, mengurangi kejenuhan, dan membantu pernafasan tanaman.
Apabila banjir terjadi akibat perubahan lahan. Mungkinkah pasca reformasi ini banjir makin menggila? maklumlah, jaman reformasi khan sempat terjadi kebebasan menjarah hutan jati di daerah hulu di beberapa kabupaten ini.
 
Cerita ini agak berbeda dengan fenomena di Semarang, yang memang dahoeloenya sebagian besar merupakan laut. Wajar jika subsidence (ambles), rob, plus banjir. Lha lahan dah potensial, ditambah pembangunan gedung dan permukiman super padat.
 
Beda pula banjir di Demak, yang tanah atasnya sama, hingga terjadi banjir. Tapi ‘alas pot bunga’ (baca: batuan di bawahnya) mengandung kapur, jadi di sini kemarau juga kekeringan.
 
Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? budaya kita mah enaknya nyari kambing hitam penjarah kawasan hulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s