Misteri Teknik Pengobatan

“Ada penyakit, tentu ada obatnya”, begitu kata orang yang bergelut di bidang pengobatan penyakit. Ada yang sangat yakin pakai jalur medis untuk penyembuhan, ada juga yang yakinnya pake jalur non menis. Semua punya argumen masing-masing, plus juga menyesuaikan kondisi kantong. Jalur medis biasanya serba mahal, jalur non medis umumnya murah, bahkan….. se-ikhlas-nya.
 
Fenomena Ponari si Dukun Cilik sangat menggemparkan karena mampu membius puluhan ribu orang untuk datang dan berharap pada penyembuhannya. Konon lewat media watu bledek (baca: batu petir, bledek=petir, bahasa kendal), Ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Namun ungkapan lebih spiritual, Ponari mampu menjadi media penyembuhan penyakit.
 
Lain lagi dengan cerita tentang Bapakku. Beliau dulu (waktu aku SMP) mengaku juga menemukan watu bledek saat mencangkul di sawah. Batu itu aku amati seperti susunan gigi geraham yang menyambung dan membatu. Oleh Bapak, batu itu dibungkus kain dan disimpan, layaknya benda antik. Khasiatnya? untuk mengobati sakit gigi. Bapakku kebetulan penganut kejawen, falsafahnya “kakang kawah adi pengari-ari” hehhe. Saat SMP aku ngaji di kyai NU di kampung, dan SMA-ku Muhammadiyah Weleri. Jadi melihat metode Bapakku mengobati, aku cenderung “anti” dech. Tapi kadang aku mengintip bagaimana cara beliau mengobati. Batu itu dimasukkan ke dalam gelas berisi air putih dicampur garam. Lalu Bapakku klemak-klemik (baca: bergumam) membaca doa dengan khusyu, entah apa yang dibacanya. Lalu air putih diberikan pada si pasien, untuk di oleskan pada yang sakit 3x dan diminum 3x. Ajaib, banyak yang sembuh. Bahkan mereka sampai nyedulur (baca: menganggap sebagai saudara) kepada Bapak. Tapi, pengobatan ini ternyata tidak mempan untuk anaknya. Entah kenapa….
 
Beberapa teman dan suhu memberikan wejangan kepadaku. Kunci pengobatan itu sebenarnya dimulai dari keikhlasan diri kita menolong orang lain, tanpa KARENA makhluk (baca: pamrih). Sekali kita gak ikhlas atau terganggu hawa nafsu apa saja (shahwat, kehormatan, dll), maka percuma saja kita mengobati orang. Kita hanyalah media, penyembuh penyakit tetap dari Yang Maha Penyembuh. Maka banyak cara dilakukan untuk menyembuhkan dengan cara yang ikhlas. Misalnya, saat kita melihat orang sakit, diam-diam dalam hati kita membacakan doa (misalnya Alfatehah 7x) diniatkan untuk kesembuhan orang itu. Banyak juga Dokter/Tabib/ Dukun/Pemijat yang tidak mau menyebutkan berapa rupiah dia harus dibayar. Bahkan ada juga yang tidak mau menerima uang secara langsung, tapi dimasukkan ke dalam kotak, sehingga dia tidak tahu berapa besar uang pemberian itu. Ini kiat menuju ikhlas.
 
Kadang aku juga bingung dengan kelebihan yang diberikan Allah (semoga tulisan ini terbebas dari ujub dan takabur). Salah satunya membaca pikiran orang, baik saat ketemu langsung, lewat foto, lewat suara, atau lewat tulisan di chatting dan sms. Mungkinkah ini karena profesi kerjaku. Mungkinkah ini bakat. Seorang pakar Antropolog UI, Dr. Budhihartono, menyebutnya sebagai Ilmu Titen, yaitu ilmu yang terasah karena kita sering niteni (baca: mengamati). Namun caranya bagaimana, sangat sulit untuk diungkapkan.
Namun ada juga sisi negatifnya dari kebiasaan menilai orang ini, karena tidak semua orang mau dinilai, apalagi sisi buruknya.
 
Dua tahun ini aku juga merasakan ada sesuatu di telapak tangan kananku. Dengan konsentrasi sebentar, terasa seluruh permukaan tangan kanan akan seperti kesemutan, tapi amat sangat halus. Aku super bingung, karena bisa tenaga dalam atau ritual apa-apa. Pernah kutanyakan temanku yang bisa tenaga dalam, di cek dengan mendekatkan telapak tangannya dengan telapak tanganku (jarak sekitar 20 cm).
“ini energi listrik, setiap orang punya kok, asal mau mengolahnya. tapi energi ini muncul karena pengolahan batin, bisa disalurkan ke penyembuhan, tapi tidak bisa untuk kekuatan fisik (memukul dll). penyembuhan ini akan tergantung bagaimana suasana batinmu” jelas temanku itu.
 
Memang aku menemukan beberapa kejadian, yang menurutku cukup luar biasa. Saat aku sakit pusing, telapak tangan kanan kutempelkan di kening sekitar 10 menit sambil mata terpejam. Alhamdulillah sembuh.
Saat seseorang sakit perut (mungkin maag) di tengah malam, kutempelkan kedua telapak tanganku sambil membaca alfatehah sebanyak-banyaknya, diniatkan berdoa mohon kesembuhan. Tanpa terduga, 5 menit kemudian orang tersebut sudah terlelap tidur.
Saat seseorang merasa capek dan pusing, aku dengan ragu dan malu (karena baru saja kenal), kupijat sekali pada titik diantara 2 alus, dan 2 alis aku urut dari arah tengah ke kening samping. Baru sekali urut, dia mengatakan sudah sembuh. Sulit kupercaya. Biasanya kalau memijat butuh 5-10 menit, lha ini baru sekali sentuhan.
 
Memang aku hobby dipijat, mungkin saat ini seminggu sekali karena sering pulang Yogya-Tegal. Saat dipijat, aku mencoba mengingat, titik mana saja yang ditekan. Lalu aku banyak melakukan pijatan ke keluarga, tapi tanpa aku tahu itu titik apa. Alhamdulillah, banyak yang merasa enak dan menjadi media penyembuhan. Khususnya untuk sakit pusing (migrain), lelah, dan masuk angin. Metodenya cukup sederhana, yi: pijatlah dengan arah menuju jantung, jika ada yang sakit jangan langsung ditekan tapi tekanlah di sekitar area itu, tekanan biasanya diantara 2 tulang atau dipinggir tulang, dan pemijatan terbanyak di area kaki dan tangan sebatas pergelangan. Itu saja.
 
Tapi ada juga yang menyarankan, pemijatan itu sebenarnya penyatuan dua aura. Jadi bisa saja penyakit yang dipijat pindah ke pemijatnya. Kayaknya pernah kurasakan hal ini. Waktu lebaran, aku memijat Om yang masuk angin akut. Anehnya punggung kanan dari atas ke bawah terasa hangat dan punggung kiri terasa dingin. Pembatasnya tulang belakang. Aneh bener nih. Aku mbatin (menerka) “wah kayaknya sedang ada masalah besar, nich”. Anehnya, 2 jam setelah pemijatan aku merasa agar kram pada kedua tanganku. Lalu aku iseng kerokan. Walah, masak sampai pergelangan kedua tanganku kok merah hitam karena kerokan. Padahal biasanya kerokan cukup di punggung dan dada. Lalu kutanyakan ke temanku. Jawabnya “kalo memijat, kita dilarang membatin pasien. makanya pemijat suka bicaranya ngalor-ngidul agar pikirannya tidak fokus ke diri pasien”.
 
Anggap saja celoteh di atas adalah Fiksi (bukan fakta), karena aku takut akan ujub, takabur dan dusta.
Sumber Kekuatan dan Penyembuhan Hanyalah Milik Allah,
Kita wajib berusaha dan ikhtiar dengan sabar.
 
Semoga berkenan…. .
 
Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s