EMPATI PERGAULAN DAN KOMUNIKASI BISNIS

Bagi sebagian orang, berkomunikasi dengan orang yang baru saja ditemui bukanlah hal mudah. Kadang kita malah memilih untuk cuek plus diam, dengan dalih “takut salah omong”. Padahal kunci pembuka jalan rizki adalah menjalin silaturahmi (baca: berkomunikasi dengan banyak orang secara baik). Nah, kunci komunikasi dalam pergaulan adalah empati yang proporsional. Empati, dalam pengertian yang sederhana, adalah mencoba mengerti siapa dan bagaimana orang yang kita hadapi. Bentuk praktek yang sederhana adalah mencoba mengimbangi dan mengikuti alur topic pembicaraan yang dia kemukakan tanpa mengurui atau menyalahkan. Jadi jika dia berbicara tentang harga minyak goreng yang naik, maka anda dapat ‘melengkapi’ topik itu dengan pancingan cerita “harga gorengan yang ikut naik”, “harus mengatur uang belanja lebih hemat”, dll. Jika dia berbicara tentang tayangan sinetron televisi yang menarik, maka anda perlu pula menyebutkan beberapa judul sinetron, sebagai wujud bahwa anda juga sama-sama menonton sinetron (walaupun dalam prakteknya belum tentu suka). Apabila anda merasa ada perbedaan prinsip dan pandangan pada topic yang dibicarakan, berikan sebuah bukti fakta yang menunjukkan kerugian tanpa harus menghakimi dengan kalimat “saya tidak suka” atau “saya tidak setuju”. Itulah empati sederhana dalam komunikasi dengan orang lain, tapi hasilnya cukup luar biasa.

Beda lagi cerita apabila kita melakukan komunikasi bisnis. Apapun topic pembicaraan saat itu, secara pelan namun pasti, perlu dibelokkan ke arah topic bisnis yang kita kuasai. Misalnya kita bergelut dalam bidang wirausaha dan mendengar obrolan seperti ini :

“Asyik ya jadi pegawai negeri (PNS), tiap bulan gajian dan dapat pension pula. Apalagi sekarang gajinya naik terus” kata seorang teman.

Kita dapat menjawab :

“Iya juga sich, tapi pendapatan rutin ya itu-itu saja jumlahnya. Tetap, tapi kecil. Kadang sulit juga saat kita ingin cepat membeli rumah atau mobil. Paling hanya bisa dengan kredit dan menjerat gaji selama bertahun-tahun. Mungkin lebih baik kita terjun di bidang wirausaha, dimana kita bebas memanaj diri sendiri dan bebas pula memilih barang apa yang kita usahakan”

“Apa pernah lihat PNS yang punya rumah mewah dan mobil mewah?, kebanyakan yang punya khan pengusaha(pelaku wirausaha)”, jawab kita.

Demikianlah, tanpa sadar obrolan digiring ke bidang yang kita kuasai. Metode ini juga sering dipakai oleh para marketing. Namun banyak pula marketing yang kurang cerdik, dimana obrolan langsung dipaksakan ke barang/jasa yang mereka tawarkan. Sehingga banyak orang akan merasa jengah dan menolak penawaran itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s