LASKAR PELANGI DI GUNUNG GAMBAR

Kalau Laskar Pelangi ada Pulau Belitung, itu tidaklah aneh, minimal karena terletak di sebuah pulau yang cukup jauh dari pusat Ibukota RI. Kita juga sudah sangat familiar dengan propaganda pemerintah yang mengumumkan sekolah gratis. Rasanya jadi aneh apabila ada siswa di sekolah dasar yang terletak di Pulau Jawa, yang notabene terkenal sebagai pulau dengan pembangunan terpesat di Indonesia, ternyata memilih drop out dengan alasan tidak ada beaya.

Alkisah, perjalanan survei-ku berkesempatan mengunjungi sebuah lokasi tertinggi di wilayah Kabupaten Gunung Kidul, yaitu Gunung Gambar di Kecamatan Ngawen. Konon, lokasi ini dulunya masuk wilayah Keraton Solo, tetapi sekarang masuk wilayah DIY. Lokasi ini juga menjadi petilasan Pangeran Sambernyowo. Asal nama Gunung Gambar konon berasal dari jaman dahulu lokasi ini digunakan sebagai tempat menggambar wilayah Klaten untuk tujuan tertentu.

Lokasi tinggi di suatu wilayah sering latah disebut sebagai Gunung, walau mungkin berbentuk perbukitan. Wilayah Gunung Gambar berbatasan dengan Kabupaten Klaten. Topografi wilayah ini merupakan puncak perbukitan memanjang arah timur-barat. Kondisi topografi di utara dan selatan yang jauh lebih rendah dan cenderung datar menyebabkan lokasi Gunung Gambar menjadi sangat unik. Iklim siang hari tidak jauh berbeda dengan wilayah Kecamatan Ngawen bagian selatan. Namun suasana malam hari sering berkabut, angin kencang dan suhu sangat dingin.

Kondisi perbukitan yang terjal ini membuat kehidupan di Gunung Gambar cenderung terisolir. Jalan yang ada di sepanjang punggungan bukit sulit dilalui oleh mobil umum, kecuali yang double gardan. Lereng yang terjal ini juga membuat kita sulit menemukan lahan datar. Usaha pertanian di sekitar puncak bukit dengan memanfaatkan cekungan dan endapan tanah sistem terasering.

Wilayah ini dijadikan tempat bakti sosial bagi para mahasiswa pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta angkatan 2008. Basecamp berada di sebuah gedung SD cukup bagus. Aku sendiri asyik melakukan pengamatan bentanglahan dan indahnya pemandangan. Sampai saat aku bercengkerama dengan beberapa mahasiswa, ada seorang anak yang mendekat dan duduk termangu berjarak 5 meter. Aku tertarik untuk menyapa dan mencoba berdialog lebih jauh.

Sang laskar pelangi, sebut saja Hendri, awalnya mengaku sebagai kelas 2 SD, tapi lebih tepatnya ”hanya sekolah sampai kelas 2 SD”. Jika dia bersekolah terus, harusnya saat ini sudah kelas 6. Hendri mempunyai adik yang masih berumur 5 tahun dan seorang kakak lulusan SD sudah bekerja sebagai buruh di Klaten.

”Kenapa tidak melanjutkan sekolah?”, tanyaku.

”Tidak ada biaya”, jawab Hendri enteng.

”Emange berapa SPP per bulan?”, tanyaku penasaran.

”Mungkin sekarang 60 ribu rupiah”, jelasnya.

”Oooo…, Emange Bapakmu kerja dimana?”, tanyaku menyelidik.

”Aku gak punya Bapak. Bapakku kawin lagi. Istrinya sepuluh!”, jawabnya meninggi. Aku kaget dalam hati. Tadi Hendri begitu lugu dan polos, yang dalam bahasaku dinamakan ”wajah ahli syurga”. Namun ketika ditanya tentang ayahnya, dia langsung terlihat sangat emosional. Aku tidak melanjutkan pertanyaan tentang ayahnya karena ini bisa mengoyak kembali luka di hatinya.

Kemudian aku beranjak memotret pemandangan di tepi jurang. Ternyata Hendri dan temannya (belakangan diketahui namanya Tri) selalu mengikuti kemanaku pergi. Bahkan Tri dengan cekatan malah memanjat tower air yang tingginya 10 meter-an. Hendri dan Tri aku foto. Sekedar memotret digital, gak ada ruginya buatku. Tapi buat mereka, mungkin ini akan sangat menyenangkan. Lalu, aku melanjutkan obrolanku. Ternyata Tri sama seperti Hendri, yaitu drop out pada kelas 2. Namun bedanya Tri sudah jauh lebih tua dibanding Hendri, mungkin beda 5 tahun. Tri lebih tertutup menguak siapa dirinya. Tapi Hendri dengan cekatan memberikan informasi sambil agak mengolok.

”Tri bukan keluar, tapi dikeluarkan. Dia nakal, Pak. Suka mengambil barang. Dia sebenarnya ada beaya, tapi Tri malas aja. Kerjanya hanya lontang-lantung,” Jelas Hendri.

”Aku tidak mengambil barang,” sanggah Tri.

”Tapi kan kamu yang menyuruh dan mengawasi mereka yang ngambil,” jelas Hendri tidak mau kalah.

”Aku sekarang tidak lagi (mencuri)”, bela Tri lagi.

”Iyaaaa….., masak sih mau gak benar terus. Saatnya kamu harus menjadi baik”, Jelasku menengahi perdebatan mereka.

Aku sempat bertanya ke Hendri dan Tri tentang kondisi sekolah SD ini. Kagetnya aku, ternyata jumlah siswanya rata-rata tiap kelas di bawah 10 orang. Wah, padahal gedungnya sudah cukup bagus. Entah kenapa kok jumlah siswanya sedikit sekali. Bahwa ada sumber yang mengatakan bahwa sekolah ini dulu terancam ditutup, tetapi tetap dipertahankan.

”Kamu gak ingin sekolah lagi, Ndri?” tanyaku maunya memotivasi.

”Gak boleh ama Simbah, kadang Ballpoint-ku diumpetin”, jelas Hendri. Wah masalah kok jadi makin pelik aja.

”Eh, tapi kamu khan tahu di TV ada iklan kalo bersekolah akan digratiskan to?”, jelasku lagi. ”Nah, kalo nanti gratis, usahakan kalian sekolah lagi yaaa…”, terus terang aku gak tau apakah motivasiku ini berhasil. Tapi itulah jalan maksimal yang bisa aku berikan saat ini. Aku tidak tahu apakah mereka, anak-anak usia sekolah yang tidak mau sekolah ini, kembali bersemangat untuk bersekolah. Entah karena sudah gratis, entah didukung orangtua, atau mungkin ada pihak luar yang peduli membina mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s