Celoteh tentang Bursa Pencalonan

Celoteh ringan menyeruak :
“Paling enak itu nyalon di kampus, gak perlu modal buat spanduk dan pasang di sepanjang jalan. Gak perlu juga bagi-bagi uang, lha pemilihnya 100% akademisi yang anti money politic. ”
Tapi, kalo sekedar syukuran makan-makan, gue bangeettz…
Yang penting syarat kesehatan, umur, masa kerja, jabatan fungsional, dll. memenuhi, siap tanding, kalah gak apa-apa
tapi ada lho syarat wajib tapi prakteknya sunnah, apa itu?
“Menguasai bahasa inggris baik secara lisan maupun tulisan”
Karena dalam prakteknya, terutama yang secara lisan, dapat dihitung dengan jari….

Celoteh lain menambahkan :
” Bakal calon (Balon) juga gak perlu propaganda berlebihan, karena kesantunan masyarakat kampus malah alergi dengan kampanye yang over acting.”
Maka mulailah, secara diam-diam namun pasti, beberapa orang sudah mengambil formulir Balon dan siap mengembalikannya. Namun ada juga yang malu-malu “saya nunggu respon teman-teman dulu”. Mungkin sekedar berhitung “kira-kira jadi gak yaaaa…..”.

Satu sisi, enak juga jadi pejabat karena dapat tunjangan jabatan yang sangat mungkin lebih besar dari gaji pokoknya. Namun di sisi lain, kebanyakan orang saat menjadi pejabat akan “merubah diri” karena terkait dengan rahasia jabatan, kewibawaan, keadilan, pemerataan, ambisi, dll. Sehingga tidak sediikit komentar dari orang-orang yang dulu mengenalnya berucap “Kok beliau sekarang ‘lain’ ya…”. Atau yang dulu merasa dekat, sekarang merasa jauh. Atau…. yang dulu menyapa juga kagak, sekarang nempel mulu kayak perangko, sekedar mimpi “melu mukti” (baca: kecipratan rizki).

Beberapa milist kadang menampilkan “suara hati” dari para pejabat, yang berani bicara blak-blakan manakala BELUM atau SETELAH menjabat. Kalo saat menjabat, jaim-nya minta ampyuuun dah!
Lha iya lah, biar bagaimana “saya ini bukan atas nama pribadi, saya atas nama lembaga yang saya pimpin, maka apapun sikap saya tidak akan terpisah dengan sikap lembaga, makanya saya perlu hati-hati dalam berucap dan bertindak”.
Wow….. seyeeem juga ya jadi pejabat.

Tapi kadang suka juga diomongin ibu-ibu yang berpapasan denganku menyapa:
“Lha ini harusnya yang nyalon Rektor…”
Atau komentar fans di fesbuk melihat fotoku, katanya layak jadi Caleg-lah, Presiden-lah, Mendiknas-lah….
Asyik aja menanggapi celoteh beragam ini. Anggap saja itu bumbunya pergaulan.
Kadang juga akunya sempat tergoda “mau ikut bursa calon gak yaaa….”
Atau ide nakal “mau ikut nyalon, lalu presentasi/kampanye, dan.. mundur…”
Wah pasti yang pada serius nyalon akan melototi akunya hehhee…
Tapi… yang pasti aman adalah nyalon menjadi Ki Asmoro Jiwo….

Mari kita tengok ke visi misi…
Banyak para balon latah kampanye visi misi, tapi setelah jadi ya kembali menjadi gitu-gitu aja…, jauh dari propaganda yang berkumandang.
Jika menengok prospek pendidikan dalam dunia kampus, tentu tri dharma harus menjadi titik utamanya. Bagaimana pendidikan/pengajaran menghasilkan output yang berkualitas dan diminati pasar. Bagaimana penelitian benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam waktu berkelanjutan. Bagaimana jiwa pengabdian kepada masyarakat senantiasa ter-aktualisasi sepanjang hayat di kandung badan.

Saran terakhir,
sebaiknya pejabat juga tidak alergi dengan media komunikasi. Bila perlu dibuka seluas-luasnya, seperti hand phone, email, webblog, facebook, yahoomessenger, dll.
jangan sekedar bilang “saya punya email” tapi faktanya gak pernah dibuka, bahkan sampai meledak (bounching)
jangan sekedar bilang “saya 24 jam siap melayani”, tapi faktanya sangat sulit dihubungi…
dll.. dll….

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s