Mengapa kita perlu Asuransi?

Beberapa waktu lalu muncul slogan ironi “Orang miskin dilarang sakit!”, sebagai bentuk kritik sekaligus keputus asa an atas fenomena beaya pengobatan di rumah sakit yang makin membumbung tinggi, tak terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Apalagi sekarang ini makin banyak saja muncul penyakit aneh-aneh bin muahal pengobatannya. Dulu sich ada istilah “penyakit orang kaya” untuk jenis kelebihan kolesterol, darah tinggi, dll karena dikaitkan dengan ritme kerja yang konon kurang selaras dengan kesehatan (baca: banyak makan lemak, kurang olah raga). Tetapi akhir-akhir ini terlihat serangan penyakit tidak mengenal kelas ekonomi atau kelas executive. Banyak juga orang miskin yang kena stroke atau jantungan. Konon, salah satu penyebab adalah banyaknya makanan yang mengandung bahan pengawet atau bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan.

Bagi kita yang berpenghasilan pas-pasan, dimana hiburan yang tidak beresiko duit, paling hanya nonton bioskop paket hemat (senin-jumat), atau makan kuliner enak sambil melototin milih menu harga yang miring, atau ke mall HANYA buat jalan-jalan (masak harga kaos 300rb, gaji cuma 1 juta uuhhh…), atau nongkrong sak puase di angkringan sambil maem ceker-kepala barbeque (baca: dipanggang hehehe), atau nunggu ada hajatan nikah trus datang untuk sekedar meningkatkan gizi, dll.

Tapi….. walaupun kita sudah hidup se hemat mungkin, ada pepatah “nasib datang tak bisa ditolak”. Mungkin sebulan kita bisa berhemat 100rb dari gaji yang disisihkan. Jumlah ini cocoknya untuk pengobatan flu biasa (bukan flu manuk atau flu B1B2), masuk angin plus kerokan, dan pijat enak. Lha kalo ndilalah sakit serius (gak bohong) dan perlu mondok di rumah sakit, bisa dihitung mungkin per harinya 500rb sampai 1 juta rupiah. Wow…. gaji sebulan bisa habis untuk mondok 1-2 hari, weleh-weleh. Belum lagi kalo sakitnya mendadak kronis dan stadium 3 ke atas, wow…… mulut hanya bisa berucap tabah dan tawakal, tapi hati menangis tiada henti.

Aktifitas kita pun tidak luput dari resiko. Kadang punya kendaraan, tapi aslinya secara ekonomi sangat ngos-ngosan untuk beli BBM dan suku cadangnya (baca: gue bangetz). Apalagi kalo kendaraan kita mengalami kerusakan akibat kecelakaan atau hilang karena ada “pemaksaan hak milik dan hak pakai” dari si pencuri. Kalau rusak ringan sih kadang biarin aja, tapi kalau sudah menyangkut onderdil harus asli, wow…..

Belum lagi jika ternyata badan kita sakit atau cacat atau…. kepaksa pindah dunia. Duh, kadang luput dari perhatian para penyantun. Nilainya pun kadang jauh dari layak. Masak hanya berharap dari salam tempel amplopan para pembezuk. Kadang cita-cita atau karier bisa merubah drastis menurun manakala terjadi itu. Memang semua berharap seperti lagunya Maia “aku baik-baik saja”, tapi kalo sudah nasibnya, mo gimana lagi. “the show must go on”, tapi “go on” nya khan tergantung potensi yang masih dimiliki……..

Apes bertambah lagi apabila tempat kerja kurang support pada kesejahteraan pegawainya dengan alasan keterbatasan anggaran. Santunan kesehatan berupa “pokoke hanya segitu kemampuan kantor, di-cukup-cukup-ke ya…”. Santunan kematian hanya cukup buat prosesi penguburan doank. Anaknya bisa kuliah atau kagak, “bukan urusan kantor kite…”. Apalagi urusan musibah seperti kebakaran rumah dan kerusakan/kehilangan kendaraan. “Iku urusane dewe-dewe…” Jawabnya pasti.

Begitu juga dengan mereka yang sudah punya anak (yang nulis belum si :p), perlu sedikit membayangkan, seberapa banyak uang yang harus disediakan untuk kuliah. Kebayang gak sich beaya kuliah saat ini? sumbangan untuk jurusan favorit bisa puluhan sampai ratusan juta. Uang SPP per 6 bulan kisaran 3-5 juta. Uang pondokan kisaran 300 rb per bulan. Uang makan + BBM + pulsa + jalan-jalan, bisa 2 juta an per bulan. Alhasil, sebagai orangtua harus menyiapkan dana besar di awal masuk kuliah dan dana lumayan besar per bulannya (all in sekitar 3 jt per anak per bulan). Lha…, gaji bapak-ibune berape…? kalau hitungan standard PNS biasa (baca: bukan eselon pejabat), untuk mengkuliahkan 1 anak saja sudah sangat ngos-ngosan, kecuali dibarengi upaya segala cara dan slogan “golek yang haram aja susah dan perlu strategi aman, apalagi yang halal…”.

By the way, solusi cerdas untuk perlindungan harta benda, kesehatan, santunan kematian dan beaya pendidikan bisa berharap banyak pada yang namanya Asuransi. Model asuransi apa, dengan fasilitas yang bagaimana, kita dapat memilihnya dengan bebas dan logis, karena saat ini sudah banyak sekali. Pertimbangan yang sering dipikirkan adalah : (1) nilai keuntungan yang didapat, (2) kemapanan perusahaan asuransi, (3) kemudahan dalam klaim. Pertimbangan yang bersifat jangka panjang adalah : (1) prospek investasi dan (2) dana pensiun.

Kalau sudah jelas gajinya rendah, perusahaan (tempat kerja) kurang peduli pada berbagai resiko hidup tadi, dan jaminan masa depan yang belum pasti; masihkah kita ragu untuk berasuransi?

One response to “Mengapa kita perlu Asuransi?

  1. kami,,, berupaya untuk memberikan perlindungan ekonomi dengan usaha yang baik dan traspsaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s