Penjara Sepi Sang Pemimpin

Saat awal menuju kursi pemimpin, betapa banyak orang dalam tim sukses memuji dari ujung kaki ke ujung rambut. Betapa banyak pula para fans yang mengelu-elukan, seakan dia sebagai sosok yang paling sempurna. Sampai kemudian kemenangan di raih. Lalu ceremonial pesta kemenangan digelar dimana-mana, walau tanda sadar niat “syukuran” berubah drastis menjadi “pemborosan”.

Hari pertama menjadi pemimpin, seakan keajaiban datang di sekitar diri. Betapa semua orang yang kemarin menyapa pun tidak, hampir semua sekarang melakukan salam hormat dengan berbagai tipe. Ada yang sekedar senyum, tapi ada pula yang sampai membungkuk sedalam-dalamnya.

Kemarahan sang pemimpin pun seakan membuat langit langsung mendung. Semua tertunduk tidak berani menatap wajah sang pemimpin. Semua berdoa agar kemarahan segere reda, dan langit keceriaan datang menerpa.

Sang pemimpin mungkin awalnya orang yang terbuka. Namun banyaknya orang yang berminat pada kursinya, dan banyak pula yang menyorotnya, membuat dia selalu waspada kepada siapa saja. Jaim (jaga image) adalah penyakit yang hinggap tanpa disadarinya. Konon, pemimpin harus jaga kewibawaan, dimulai dari dandanan, sikap badan, sampai tutur kata yang diucapkan. Walau jelas ini sangat berbeda dengan karakter diri yang asli.

Barikade ring satu dan ring dua pun sangat ketat. Pemimpin perlu menyaring semua info dari luar melalui orang-orang kepercayaannya ini. Biasanya orang-orang kepercayaan pun terjangkit penyakit persaingan di antara mereka sendiri. Sehingga semua berlomba membuat laporan ABS (asal bapak senang). Cerita kegagalan dikatakan “belum optimal” atau “akan dicoba lagi” atau “perlu inovasi baru”. Cerita kesuksesan juga akan diseret secara halus, bahwa sang pelapor turut berjasa di dalamnya.

Biasanya, sang pemimpin terjebak pada ‘permainan’ anak buahnya. Beliau yang dulunya bisa mendengar pendapat siapa saja dengan saringan obyektif, sekarang sangat subyektif tergantung persetujuan dari para pengawalnya ini.

Nah, saat lingkungan sang pemimpin ini tanpa sadar terbatasi oleh suasana yang dibuat oleh ke-ego-an hati sendiri, maka mulai saat itu sebenarnya sang pemimpin sedang berusaha memenjarakan dirinya sendiri, baik secara tersurat maupun tersirat.

Tersurat, dapat dilihat jelas dari ruang boss, dimana dibatasi dinding dan pintu yang aman. Setiap orang yang mau menemui sang pemimpin harus melewati barikade, seperti sekretaris pribadi, ajudan, pengawal, atau apapun sebutannya. Bahkan banyak pemimpin yang untuk menjawab “besok saya mau apa?” harus minta jawaban ke sekretaris pribadi yang sudah cekatan mengatur jadwal esok.

Secara tersirat, sang pemimpin akan mengeryitkan dahi penuh curiga dan tidak suka manakala ada tamu datang tanpa lewat barikade. Sehingga cenderung dicuekin.

Dengan demikian, orang-orang akan sangat takut dan ragu apabila menyapa, apalagi datang mengetuk pintu ruang boss. Orang akan ketakutan apabila tanpa disengaja malah membuat sang pemimpin marah. Takutnya, nasib hidup ada di tangan sang pemimpin ini.

Walau pemikiran ini pasti ditentang habis-habisan oleh sang kyai dalam khutbahnya. Namun kebanyakan kawulo alit sangat bersandarkan, minimal pekerjaan, kepada kebijaksanaan sang pemimpin.

Waktu terus terlalu, penjara sepi akan menghinggapi sang pemimpin. Mungkin beliau sangat rindu canda tawa tanpa kecanggungan. Mungkin beliau rindu akan komentar lepas tanpa basa basi bin minta upeti. Mungkin beliau juga suka diolok-olok pada kebiasaan buruk yang sering dilakukan….

Penjara sepi ini akan dibuka pintunya saat masa jabatan sang pemimpin berakhir. Namun kadang muncul penyakit baru lagi akibat beliau terlena pada sanjungan dan sesembahan dari anakbuahnya. Beliau lupa bahwa anak buah melakukan itu semua karena ada maksud mendapat upeti, buka karena beliau memang patut disembah sepanjang masa. Di sinilah banyak pemimpin yang terlena akan kekuasaan yang sementara di dunia yang fana ini. Kecuali mereka pada pemimpin sejati, yang senantiasa mencari ke-sejati-an hati, tanpa alasan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s