KEBUTUHAN DAN KEPUASAN

Seorang wanita mendatangi supermarket. Niat hati ingin membeli 3 buah barang yang dibutuhkan karena stok di rumah sudah habis. Namun sesampai di supermarket, dia membeli lebih dari 10 barang. Saat melewati rak-rak barang dengan sajian super menarik, tanpa sadar membuat dia berubah pikiran. Jenis barang yang tidak terpikirkan sebelumnya, menjadi teringat dan terasa penting untuk dibeli. Dia pun menjadi mudah terkagum-kagum pada berang yang dipajang. Fenomena ini sekarang trend disebut “laper mata”. Boleh jadi, barang-barang yang dibeli tidak atau belum akan digunakan sesampainya dia di rumah. “Yah, buat persediaan.. .”, bela dirinya dalam hati.

Berdasarkan definisi, kebutuhan adalah keinginan terhadap barang/jasa sebagai bagian pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan bisa bersifat primer/pokok, sekunder maupun tersier. Adapun kepuasan lebih diartikan pada keinginan hati terhadap barang/jasa. Jadi pemenuhan kebutuhan dapat berujung pada pemuasan hati, bisa juga tidak. Demikian juga sebaliknya, pemenuhan kepuasan belum tentu merupakan kebutuhan.

Biasanya, manusia akan ‘berangkat’ dari pemenuhan kebutuhan dulu, baru mencari kepuasan. Tingkat kebutuhan hidup manusia dimulai dari bernafas, minum dan makan serta bergaul dengan lingkungan. Kebutuhan bernafas banyak dilalaikan orang, padahal ini yang paling menentukan hidup-matinya orang. Orang baru tersadar arti penting oksigen setelah lingkungan udara banyak tercemar atau beberapa penyakit hinggap disebabkan oleh pernafasan tadi. Bagi pengemis dan pemulung, kebutuhan untuk minum-makan menjadi yang utama. Mereka bisa bermimpi apa saja, tapi kebutuhan minum-makan sering berada diambang ke-tidak-ada- an. Makanya sering pemenuhan sandang dan papan menjadi urusan ke sekian…

Secara umum, kebutuhan pokok manusia dimulai dari makan, sandang (pakaian), papan (tempat tinggal), pekerjaan, kedudukan, dll. Apabila kebutuhan pokok (3 yang pertama) sudah terpenuhi, biasanya manusia mulai mengejar karier dan kedudukan. Di atasnya lagi, banyak boss-boss mengejar “nama baik” menjadi alasan utama melanglang buana di dunia ini. Hal ini bisa dilihat dari demo-demo wong cilik yang biasa bertopik kelaparan-kemiskina n-pengangguran. Kemudian para tokoh utama negeri in asyik me-mejahijau- kan lawannya hanya dengan alasan “pencemaran nama baik”, yang ini tidak pernah menjadi pikiran dari kaum pengamen dan pemulung.

Kepuasan bisa datang dan pergi secara tiba-tiba. Apalagi sunnah Manusia adalah sangat mudah merasa bosan, alias sulit merasa puas dalam jangka waktu lama. Ketika jalan kaki, ingin naik sepeda, kemudian sepeda motor, lalu naik mobil, trus pengin kemana-mana naik pesawat. Tapi banyak boss yang biasa naik pesawat malah tersenyum puas ketika naik becak atau andong, misalnya ketika berwisata di Malioboro…

Ketika menginjak remaja, ingin punya pacar. Setelah punya, ternyata kesetiaan bikin rasa jemu dan bosan, maka ingin ganti pacar. Apalagi “di atas langit ada langit”, udah merasa pacarnya paling maknyuss, tapi diajak ke mall kok ya banyak lagi yang lebih nyuss lagi.

Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga, dulu waktu pacaran pake semangat 45 untuk meraihnya. Setelah seiring waktu, ketika kelemahan dan kekurangan gantian muncul satu-satu, pesona kepuasan mulai menuntut kesetiaan. Namun ini sulit ditegakkan. Maka muncullah dalil “rumput tetangga kelihatan lebih subur”. Mulailah berpikir bahwa orang lain atau pasangan lain terasa lebih bahagia. Sehingga bisikan untuk bermain api (baca: perselingkuhan) sering muncul pada situasi dan kondisi ‘aman’.

Mencari pasangan hidup adalah bentuk kebutuhan hidup, karena manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan. Namun saat banyak orang mengklaim telah merasakan puncak kepuasan, tanpa sadar dia akan merasa mulai menuruninya, menuju ke lembah kebosanan. Hati manusia memang sering mengalami fluktuasi, dengan bumbu kesenangan, kesedihan, penderitaan, dll. Kemudian Sang Pencipta memberikan kata kunci untuk semua ini yaitu “apabila kamu bersyukur, maka kenikmatan akan bertambah”. Syukur, puas, nikmat, senang, bosan, sedih, dan sejenisnya adalah urusan Hati. Sementara pemenuhan kebutuhan sering berdasarkan pada otak/logika/ pemikiran. Sehingga antara hati dan otak sering ‘klik’ dan sering juga beda maunya. Untuk itu perlu manajemen bijak agar keduanya dapat bersinergi. Betapa banyak orang yang bekerja luar biasa karena bermodal dorongan hati. Betapa banyak pula orang menghasilkan pemikiran yang brilian karena kecerdasan otak.

Sebaiknya kita berpijak pada upaya pemenuhan kebutuhan secara bertahap sesuai kemampuan dan menurut skala prioritas. Lalu imbangi dengan rasa syukur untuk ‘memuaskan’ hati kita dan bermunajat padaNYA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s