Membaca Yang Tersirat

Fenomena hidup di alam raya ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu yang tersurat dan tersirat. Kita biasa melihat dan membaca sesuatu secara tersirat, dalam arti apa adanya sesuai apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium (bau), apa yang kita rasa (kulit) dll. Namun kita bisa juga belajar ‘membaca’ atau memaknai sesuatu yang tersurat itu dengan sesuatu yang tersirat. Di sinilah kelebihan manusia sebagai bekal menjadi ‘manajer’ di bumi ini.

Saat kita rental mobil atau bus, paket dengan sopir, kata pemiliknya “beaya sewa termasuk honor buat sopir”. Mungkin kita mengira tidak perlu mengurus si sopir. Ternyata secara tersirat, sopir perlu ‘diservice’ dengan baik, misalnya makan enak dan uang rokok. Jika kita lalai, maka jangan kaget apabila laju kendaraan menjadi zig-zag atau muka sang sopir seperti kelipet bin mbesengut alias manyun.

Saat lingkungan kerja yang masih memenga budaya feodalis, maka banyak budaya tersirat yang perlu diwaspadai, antara lain : “yang tua/senior harus didulukan”, “yang muda tidak boleh banyak protes”, “pimpinan gak pernah salah, bawahan harus loyal untuk mengabdi”, dll. Intinya si pemimpin ibarat raja dalam keraton, dan anak buah ibarat abdi dalem.

Saat si cowok pertama kali mau ketemu calon mertua (ortu si cewek), walau si cewek tidak mengingatkan tentang aturan ini dan itu, si cowok tidak boleh tampil ‘semau gue’, tetapi harus menyesuaikan diri bagaimana tampil menarik, sopan dan meyakinkan. Sehingga yang tahu bahasa tersirat, si cowok akan berbenah diri, dari mulai pakaian, potongan rambut, expresi raut muka dan ucapan sangat terukur. Jangan sampai calon mertua punya kesan “ini calon menantu kok tidak tahu sopan santun yaa….”

Saat mahasiswa merasa punya keunggulan teknologi dengan piawai menggunakan HP berbagai seri dan merk, diapun menjadi cenderung berpikir praktis dengan main SMS atau telphon ke dosennya untuk urusan konsultasi atau bimbingan. Secara tersirat, sang dosen tetap menginginkan si mahasiswa ketemu langsung dengannya. Maka si mahasiswa harusnya tahu bahwa SMS atau telphon saja belumlah cukup. Teknologi ini dipakai hanya pada saat darurat.

Saat tuan rumah beberapa kali menengok ke jam dinding atau berbicara “sekarang jam berapa ya…”, maka ini adalah isyarat bahwa tuan rumah akan segera pergi dan sebaiknya si tamu segera berpamitan. Demikian juga apabila tuan rumah menyajikan makanan dan minuman untuk si tamu, bahasa yang tersirat adalah “silahkan dinikmati, tapi jangan dihabiskan”.

Saat si anak sering mengadu dan merajuk di chatting atau facebook, maka si orangtua harus memahami banyak hal. Mungkin si anak ingin berteman dengan orang lain sebanyak-banyaknya di seluruh penjuru. Mungkin juga si anak kurang kasih sayang, sehingga melampiaskan ‘khalayak’ sebagai ‘pengganti orang tuanya’.

Saat si cowok menembak si cewek dengan “sumpah I Love You”, maka lihatlah respon bahasa tubuh si cewek. Respon menerima biasanya ditunjukkan dengan wajah merona merah dan tersipu. Respon tidak menerima ditunjukkan dengan pandangan biasa saja, bahkan secara halus bahasa tolakan berupa “Mas, kamu sudah aku anggap sebagai sahabat baikku…”. Lain lagi fenomenanya apabila ternyata si cewek yang pengin ditembak si cowok, mungkin yang keluar kata merajuk “Apa ada cowok yang mau sama aku yang jelek ini….”, sambil si cewek menunggu respon kata apa yang meluncur dari si cowok.

Saat si cewek berkali-kali ragu memilih baju dan menanyakan kepada cowoknya “kalo yang ini bagus gak mas?”, maka ini berarti si cewek butuh pengakuan, pujian dan dukungan bahwa barang yang dipilih adalah paling tepat membuat dia semakin cantik menarik. Namun jangan sampai setiap ditanya, si cowok akan menjawab “bagus!”. Bisa-bisa si cewek akan sepel plus manyun, menganggap cowoknya gak punya selera tinggi dan terkesan acuh pada barang pilihan ceweknya.

Saat kita menginap di hotel berbintang, biasanya ada pelayan yang membawakan koper kita sampai ke kamar. Memang itu adalah bagian dari service hotel, tapi bahasa tersiratnya adalah kita perlu memberikan “uang lelah” ke pelayan tersebut.

Demikianlah, Banyak sekali fenomena hidup yang tersirat perlu digali. Agar kita tidak salah dalam menerjemahkan, sebaiknya belajar dari suara hati nurani dan nasehat orang yang berpengalaman. Jangan sampai kita tidak sadar terperosok ke jurang, hanya karena salah dalam membaca fenomena yang tersirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s