Budaya Lebaran dan Idul Fitri

Banyak orang yang memahami kebudayaan (baca: kebiasaan) sebagai aturan wajib dan banyak pula yang tidak paham aturan ibadah hakiki sehingga malah cenderung meninggalkannya. Tulisan ini bukan mengupas aturan ibadah hakiki, agar tidak ‘nabrak’ wilayah para ahlinya. Tulisan ini sekedar mengingatkan apa saja kebiasaan yang lazim kita lakukan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang tanpa sadar seperti sebuah kewajiban ritual.
 
Menjelang bulan Ramadhan, entah kesepakatan produsen atau pedagang hulu-hilir, harga-harga kebutuhan pokok mulai membumbung tinggi tanpa alasan kenaikan BBM atau kurs rupiah terhadap dollar. Alasan yang bisa dipahami hanya satu, yaitu menjelang ramadhan banyak orang memborong barang kebutuhan pokok dengan alasan “persediaan selama puasa”.
Menjelang ramadhan pula, berjuta orang melaksanakan iktikat saling memaafkan, agar puasanya lebih suci dari dosa. Banyak media yang digunakan, dari bersalaman langsung, SMS, telphon, email, sampai tebar pesona di fesbuk.
 
Awal ramadhan, banyak mushola, langgar, surau ataupun masjid yang berjubel dipenuhi jamaah tarawih. Seakan tarawih akan dilakoni selalu berjubel sampai akhir bulan. Anak-anak santri di pelosok pun masih merancang ronda keliling sekedar membangunkan orang untuk sahur. Sementara ummat di jaman HaPe sudah mulai men-setting alarm agar bisa sahur untuk pertama kalinya. Biasanya, sahur juga dilakukan dengan nafsu tinggi alias porsi sekenyang-kenyangnya. Maklum, masih agak cemas juga puasa pertama berasa berat kali yaa…
Lucunya lagi, walau prakteknya puasa, namun anehnya ‘penyakit’ berbelanja malah makin menggila di bulan puasa ini. Menu berbuka dan sahur jauh lebih istimewa daripada menu keseharian. Jadi jangan salah kalo THR berapa aja dirasa gak cukup.
Kalangan pebisnis muda (lebih afdol disebut 90% hoby mejeng), mulai menjajakan minuman dan snack untuk berbuka di sepanjang trotoar. Terkesan bukan prinsip barang dagangan laku atau kagak, yang penting bisa pakai baju up to date (baca: sesuai trend masa kini, malah cenderung sexy). Bahkan kadang terkesan lucu. Parkir sebuah mobil mewah, tapi menjajakan kolak atau es buah banyak beberapa puluh bungkus. Bila khusnudhon (positive thinking), mereka ikut memeriahkan bulan ramadhan ini. Bila shu`udhon (negative thingking), mereka menjajakan barang atau…..(sensor, gak tega nulisnya :p)
Sementara di masjid dan mushola, para penceramah akan sering mengambil tema-tema “10 hari pertama di bulan ramadhan”. Jamaah di kota-kota besar juga hobby road show ke beberapa masjid besar demi memburu penceramah yang favorit.
 
Menjelang pertengahan ramadhan, para pendatang di kota-kota besar mulai gelisah memburu tiket untuk pulang mudik. Demikian juga para mahasiswa sudah kasak-kusuk memastikan tiket pulang sudah di tangan. Ada satu benang merah dari waktu yang mereka sepakati, yaitu “menghindari tuslah” (H-7 sampai H+7). Katanya sich, demi tiket murah. Tapi tumpangan kereta, yang layanan hanya jalan di tempat dan tiketnya ingin bersaing dengan harga tiket pesawat, pun ludes terjual. Di sinilah budaya mudik merupakan ‘jebakan’ tersendiri untuk pebisnis transportasi.
Namun para kru Bus banyak mengeluh tahun kemarin, karena sepi penumpang. Ternyata banyak partai dan caleg yang tebar besona membagikan tiket gratis untuk layananan transportasi pulang kampung dengan Bus lintas provinsi. Mungkin tahun ini partai dan caleg gak ingat lagi program kampanye terselubung ini, karena mereka asyik kasak-kusuk berbagai kue pemilu. Atau beberapa caleg yang gagal sedang merawang langit-langit di panti rehabilitasi, membayangkan banyaknya harta menguap menjauhi mimpi.
 
Menjelang idul fitri, ada beberapa pertanyaan wajib yang perlu di jawab. Sudahkah anda punya pakaian baru untuk berlebaran nanti? sudah siapkan rumah anda dengan penataan ruang tamu dan ubo rampenya (snack-minuman). Trend pakaian biasanya mengikuti tokoh-tokoh atau figur yang terkenal saat itu. di Pasar Beringharjo ada sebutan Batik Amien Rais. Saat ini juga trend kerudung ala Manohara, dll. Masyarakat kita mudah sekali teropsesi pada tontonan sinetron dan gosip, sehingga pakaian idolanya otomatis akan menjadi mimpi fans untuk memiliki replikasinya.
Biasanya H-2 sampai hari H, traffic SMS dan internet juga mencapai puncaknya, karena hampir semua ingin mengirimkan ucapan berlebaran. Sehingga banyak orang berburu provider HP yang menawarkan SMS murah. Jangan kaget pula beberapa nomor baru aku menuju ke HP kita, berasal dari teman-kolega yang belum terarsip di phonebook atau dulu pernah ke-delete karena kapasitas memory yang jadul (300an alamat). Pengecualian pada mereka yang jadi jamaah blackberry (sering salah sebut, blueberry hehe..).
 
Era teknologi komunikasi, khususnya HaPe dan internet, memang memudahkan berkomunikasi dengan siapa saja dimana saja. Tapi dampaknya kurang baik buat bertetangga sekampung. Gara-gara bisa SMS dan fesbuk-an, kita jadi malas beranjangsana ke rumah-rumah tetangga. Padahal mereka sudah menyiapkan hidangan istimewa. Dulu sering kalau mau keliling kampung, gak boleh makan dulu, karena di setiap rumah yang dikunjungi kita wajib minum dan mencicipi snacknya. Bayangkan kalau yang didatangi 20 rumah saja, bisa-bisa program diet sebulan kalah dengan pola makan nekad sehari lebaran ini.
Belum lagi budaya lebaran di masyarakat pegunungan, biasanya sampai seminggu lamanya. Jika rajin keliling, dijamin gak usah masak, pasti kenyang melulu. Khususnya bagi keluarga muda, yang memilih mudik atau pindah basecamp sementara di rumah orangtuanya daripada membuka pintu sendiri di rumahnya, karena dijamin jumlah pengunjung gak akan banyak. Kecuali artis lho yaaa…..
 
Pasca ramadhan, bisa dipastikan masjid dan musholla kembali sepi seiring dengan perginya ‘jamaah tarawih’.
Namun, satu pertanyaan evaluasi diri yang patut kita jawab kepada hati masing-masing, sudahkah kita mengalami perubahan menuju ke hal yang lebih baik setelah mengaruhi kawah condrodimuko berpuasa selama sebulan ini? ataukah hanya terjebak pada menahan lapar dan haus belaka….?

3 responses to “Budaya Lebaran dan Idul Fitri

  1. trs gm menyikapinya???saya sendiri merasakan bahwa idul fitri yang saya alami 10 – 15 th yg lalu lbh mengesankan, dimn rasa persaudaraan dg tetangga msh kental, saling mengunjungi, kdg sampe malam msh kami lakukan, anak2 muda rombongan mengunjungi orang yang lebih tua, mencicipi hidangan / snack ala kadarnya.tdk spt skrg, HaPe sbk sms,spt yg bpk tulis. trs harus gimana dong……………

  2. boleh jadi karena umur dan tingkat pemikiran kita berbeda.
    atau, jaman telah berubah, dimana jarak dan waktu menjadi seperti tanpa batas lagi
    yang penting kita bisa memastikan bahwa langkah yang kita pilih adalah langkah kebenaran sejati

  3. Jadi, lebaran jatuh tanggal berapa mas? halah De, gak nyambung komen ama tulisan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s