Kuliah Bersama

Kecenderungan otonomi kampus di level fakultas mengakibatkan keseluruhan kegiatan akademis hanya terkoordinasi sampai fakultas saja. Dalam arti, beda fakultas berarti beda pola. Hal yang akan disoroti dalam tulisan ini terfokus pada kegiatan perkuliahan dan dampaknya bagi hubungan sosial antar mahasiswa se universitas.
 
Berawal dari ketidaktahuan atau tidak saling kenal mengenal, menyebabkan hubungan sosial antar mahasiswa yang berbeda jurusan dan fakultas menjadi rawan konflik. Memang dalam kegiatan orientasi kampus selama 3 hari (?) sudah dilakukan upaya pengenalan kampus dari jajaran universitas sampai jurusan. Namun di dalamnya juga berkembang rasa cinta jurusan yang kadang berlebihan.
 
Guna mengatasi kondisi rawan konflik ini, saya jadi teringat sebuah buku yang dikarang oleh mantan wakil rektor I dari sebuah universitas swasta di Yogya, yang mengajukan manajemen otonomi kampus pada level universitas. Terkait dengan kegiatan pembelajaran, berarti status ruang kuliah adalah milik bersama di bawah pengelolaan universitas. Tidak ada lagi anggapan bahwa ruang itu milik jurusan itu, dalam arti jurusan lain tidak boleh pakai (kecuali ada ijin pimpinan jurusan/fakultas). Kondisi ini menyebabkan suasana sosial mahasiswa menjadi terkotak-kotak sehingga kemungkinan untuk tidak mengenal teman mahasiswa dari jurusan/fakultas lain menjadi sangat tinggi. Hanya para mahasiswa yang hiperaktif saja yang mampu mengenalnya karena mungkin dia terlibat dalam kegiatan organisasi mahasiswa dan UKM.
 
Untuk itu perlu kiranya dirintis kembali model kuliah bersama (kuliah umum), yang mahasiswanya terdiri dari mahasiswa antar jurusan yang berbeda. Hal ini bisa didekati pada perkuliahan dasar umum (MKDU). Tempat dan kapasitas peserta juga dapat dibuat massal, misalnya menggunakan ruang seminar kapasitas 150an orang. Boleh jadi, mahasiswa jurusan A akan beberapa kali mengikuti kuliah bertempat di ruang jurusan B, dan seterusnya.
 
Apabila pembagian kelas kuliah terbatasi jumlah 30-50 mahasiswa saja, maka kuliah umum dapat disepakati oleh para dosen pengampu matakuliah yang sama. Paling tidak 2-3 kali pada semester itu dilakukan kuliah bersama. Andai ada 3 dosen, maka ketiganya dapat memberikan materi bersama di ruang seminar itu. Sehingga ketimpangan materi antar dosen juga dapat diminimalisir.
 
Hal ini sangat penting agar pada saat mahasiswa melakukan hajatan lomba seni dan olah raga, walau antara jurusan saling berlawanan, mereka sudah saling kenal. Sehingga potensi timbulnya konflik dapat diminimalisir.
 
Manfaat lainnya, pembagian kapasitas ruang dengan jumlah mahasiswa secara umum dapat merata. Bukannya untel-untelan di jurusan tertentu, namun sangat longgar di jurusan yang lain. Hal ini juga bisa menekan rasa cemburu di kalangan mahasiswa sendiri karena mereka mendapatkan fasilitas, khususnya ruang perkuliahan, dengan tingkat kenyamanan dan kelengkapan yang relatif sama.
 
Animo mahasiswa di fakultas dan jurusan juga mengalami fluktuasi. Terkadang saat ini sangat berjubel, namun bisa jadi 10 tahun lagi mengalami penyusutan tajam. Atau terjadi sebaliknya. Sehingga apabila manajemen otonomi dilakukan pada level unversitas, maka pengaturan dapat dilakukan secara proporsional, terutama pada kegiatan perkuliahan.
 
Semoga ide ini berguna bagi visi ke depan kampus kita dalam menuju kemandirian. Diantaranya dengan melakukan upaya efisiensi dan efektifitas kegiata akademis, salah satunya dengan membangkitkan kembali kegiatan Kuliah Bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s