Sarjana menjadi ibu rumah tangga

Harapan orang tua menguliahkan anaknya, tentu agar si anak lulus menjadi sarjana dan mampu menciptakan/mendapat pekerjaan. Begitu juga dengan harapan para mahasiswi, kebanyakan mereka ingin bekerja atau berkarier setelah lulus jadi sarjana. Amat sangat sedikit sekali para sarjana perempuan itu yang bercita-cita hanya menjadi ibu rumah tangga. Andaikan itu terjadi, “keadaanlah yang membuat saya menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja lagi)” jawab mereka. Sehingga wajar apabila mereka menjadi tidak PD (percaya diri) atau bahkan iri bila bertemu dengan teman-teman kuliah dulu yang saat ini sudah sukses dalam pekerjaannya. Bahkan rasa galau ini bisa memicu pada salah satu polemik dalam keluarga.

Lain lagi dengan cerita simbah tempoe doeloe, bahwa tugas utama perempuan adalah 3 M, yaitu Macak (dandan), Masak dan Manak (beranak). Ketiga tugas mulia ini banyak ditentang oleh aktifis emansipasi, yang menuntuk kesejajaran tugas dan tanggungjawab pria dan wanita. Bahkan ada juga yang menganggap ini bentuk keterkungkungan. Jadilah kemudian mencatut semangat Kartini agar sah mengatakan bahwa wanita punya hak sejajar dengan laki-laki. Namun kemudian ‘kesejajaran’ ini agak direvisi, mungkin melihat ada beberapa perempuan yang bekerja sebagai tukang becak, ojek, sopir bus, petugas pom BBM, tentara, polisi, dll. Revisinya adalah pekerjaan tersebut sedemikian rupa sehingga tidak menganggu organ reproduksi. Dalam bahasa gaul, pokoknya minta kesejajaran hanya pada posisi yang enak-enak saja…..hehe

Menurutku, tingkat kesejajaran untuk perempuan adalah sedemikian rupa sehingga tidak menganggu sifat kewanitaannya (kelembutan, keindahan, rasa malu, dan kecantikan). Jangan sampai profesi baru malah akan menafikan (menghilangkan) sifat kewanitaannya itu. Perlu juga mempertimbangkan faktor daya tarik. Sebagian besar lelaki tertarik pada perempuan karena alasan fisik. Bahkan sifat malu mempunyai porsi yang besar pula.

Kembali ke profesi Ibu Rumah Tangga….
Banyak orang menganggap profesi ini kurang bonafit. Pekerjaan ini dianggap sepele. Namun bagi yang sudah pernah merasakan sendiri plus membandingkan dengan pekerjaan kantor, ternyata pekerjaan rumah jauh lebih banyak menyita waktu dan tenaga. Coba kita cermati pekerjaan rumah, dari bangun tidur, ibadah, menyiapkan sarapan pagi, membersihkan rumah, mencuci baju, mengurus anak, dll. Andaikan ada program realty tukar nasib untuk tugas rumah dan tugas kantor, dimana perempuan mengerjakan tugas kantor dan lelaki mengerjakan pekerjaan rumah. Hasilnya sudah jelas, sebagian besar lelaki tidak siap dengan pekerjaan rumah ini, khususnya urusan mencuci, masak dan ngurus anak.
Artinya, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang luar biasa besar. Hanya kita saja yang kadang kurang bisa menghargai pengabdian ini.

Belum lagi, keberhasilan kualitas generasi penerus sangat ditentukan oleh jasa baik seorang ibu rumah tangga. Betapa banyak wanita berbangga dengan prestasi kariernya, namun di dalam rumah membuat raport merah karena kualitas anak-anaknya kurang membanggakan.
Banyak pula wanita karier yang mengklaim bahwa kondisi rumah (baca: pendidikan anak) baik-baik saja. Namun secara jujur dalam hatinya mengatakan dia akan berpikir keras untuk melakukan substitusi (pengalihan tugas) kepada pembantu, kepada playgroup, kepada guru private, kepada guru sekolahnya, dan kepada mall sebagai tempat bermain si anak. Tekanan pekerjaan kantor membuat si Ibu sangat sulit melaksanakan tugas rumahnya. Dari substitusi itu, baru bisa diukur berapa rupiah yang harus dialokasikan.

Kepada para suami, sudahkah anda mengetahui dan mencermati beratnya beban pekerjaan sebagai ibu rumah tangga?
Seperti halnya kepada semua orang yang kadang belum mengetahui dan mencermati besarnya kenikmatan yang diberikanNYA.

Kesadaran inilah yang akan membawa kita pada bentuk penghargaan yang tinggi pada profesi masing-masing. Profesi di belakang akan sama berharganya dengan profesi di depan. Profesi ngurus rumah tangga akan sama berharganya dengan profesi mencari nafkah di luar rumah.
Bahkan dengan status kesarjanaan yang ada dipundak ibu rumah tangga, ini berarti modal besar dalam mendidik anak-anaknya.
Apalagi banyak materi pelajaran anak-anak sekarang jauh melebihi materi pendidikan orang tuanya di masa lalu. Harusnya Ibu berbangga dengan hal ini…

One response to “Sarjana menjadi ibu rumah tangga

  1. setuju pak…….ibu rmh tangga yg berpendidikan pasti punya lbh….lbh seneng lg klo sukses di karir jg rmh tangga, bisa ngak ya bsok kyak gtu,he.he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s