Nilai Seorang Pembantu

Ada pepatah mengatakan, saat ADA cenderung diabaikan, tetapi saat TIDAK ADA keberadaannya dinantikan. Pepatah ini salah satunya cocok untuk ditujukan kepada pembantu. Betapa banyak orang menghargai pembantu hanya sekitar setengah UMR (kecuali TKI/TKW lho ya), namun tuntutan pekerjaan demikian banyaknya.
Banyak juga yang berkilah, “khan enak, gajinya memang dikit, tapi khan full gak berkurang, karena makan minum sudah ikut saya, bahkan sering kita belikan jajan, bahkan pulsa. maklum, pembantu sekarang hobbynya kan ‘online’ dengan teman-temannya nun jauh disana”.

Sebelum kita menilai komentar di atas, ada baiknya kita coba mencermati pekerjaan apa saja yang dilakukan pembantu secara umum selama 24 jam. Bangun tidur, jelas gak tidur lagi seperti lagune alm mbah Surip. Biasanya mereka beribadah dan langsung kerja, seperti merendam-mencuci pakaian, menyapu-mengepel, membersihkan perabot rumah tangga dari debu, membuang sampah, menyiapkan sarapan, mematikan lampu, dan membuka pintu-jendela-pagar.

Menjelang siang, si pembantu sibuk membersihkan perabot dapur dan peralatan sarapan. Tugas berikutnya menjemur pakaian sampai kering dan menyetrikanya, memasang kancing, membersihkan kamar mandi, belanja, menyiapkan makan siang (insidentil – kadang2). Boleh jadi si pembantu tidak sempat untuk bobo siang.

Ketika sore datang, biasanya tugas berulang berupa menyapu dan mengepel, mencuci piring-gelas, menyalakan lampu dan menyiapkan makan malam.
Ketika malam, biasanya punya tugas juga menutup pagar, mengunci pintu, mencuci piring gelas, dll.

Tugas demi tugas mengalir kadang pelan kadang cepat, namun seperti tiada henti, kecuali saat menjelang tidur. Beberapa mereka mempunya hobi yang khas, biasanya sekitar nonton sinetron-gosip, ngerumpi dengan sesama pembantu di rumah tetangga, online (telp dengan sahabat dan TTM), dan jalan-jalan di keramaian dekat rumah.

Agar bisa merasakan tugas berat si pembantu, ada baiknya kita mencoba seminggu saja mengerjakan apa-apa yang sering dikerjakan pembantu itu. Coba catat berapa kali anda akan mengeluh dan berapa banyak agenda kerja tertunda karenanya. Mungkin saat itulah anda menyadari betapa beratnya tugas pembantu.

Pertanyaannya,
Sudahkah kita memperlakukan dia secara manusiawi? bahwa dia juga punya hoby dan keinginan, bahwa dia juga berhak untuk bergaul dengan komunitas yang dia inginan?
Sudahkah kita selalu membawakan makanan apabila di jalan kita sedang beli makan.
Sudahkah kita memuji pekerjaan-pekerjaan yang secara benar dia lakukan, dan menasehati dengan santun pada pekerjaan yang kurang pas.
Sudahkah kita mengajak dialog secara ‘sejajar’, bukan sekedar menjelaskan daftar perintah yang harus dilaksanakan.
Sudahkah kita merawatnya seperti keluarga sendiri, seperti dia merawat dan melayani anda 24 jam?

Tanpa sadar, banyak tugas hidup yang dipindahtugaskan kepada pembantu kita, tetapi banyak rizki yang kita dapat akibat dari ‘waktu luang’ itu tanpa sedikit pun mengalir ke pembantu. Masihkah kita keukeuh termasuk orang-orang yang pandai bersyukur…..?

Tegal, 26 Sept 2009. 20.45 WIB

Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s