Padepokan Asmoro Jiwo

Mentari pagi menyusup diantara kabut yang dingin menusuk. Ayam jantan berkokok di kejauhan menyambutnya. Angin sejuk menerpa, membagikan ketenangan dan cinta semesta. Ki Asmoro Jiwo duduk khusyu menikmati keindahanNYA. Pandangan matanya menyapu panorama pagi di sekitar Padepokan, sambil sesekali menatap jauh ke atas puncak Gunung yang masih terselubung kabut.

Pondok bambu kombinasi bambu petung dan bambu kuning menghias di depan rumahnya. Pondok berupa panggung ini tepat berada di atas aliran sungai kecil dari meta air pegunungan. Air nan jernih dan gemericiknya menerpa bebatuan, membentuk suara nyanyian alam, sering mengantarkan lamunan Ki Asmoro Jiwo pada keindahan semesta yang tanpa batas.

Duduk dengan ditemani secangkir teh panas dan ubi rebus. Kadang pandangan tertarik pada beberapa semut yang berjalan beriringan menyusuri bambu pondokan. Seakan asyik dalam kebersamaan. Terkadang pula datang serombongan burung, hinggap di pohon beringin tua yang menaungi pondok itu. Kicauan burung yang bersautan, seakan mengajak bercengkerama hati akan dunia yang fana ini.

Ki Asmoro Jiwo sering menerima tamu dengan berbagai masalah yang di bawanya. Namun hampir kesemuanya membawa masalah kesedihan. Jika sedang senang, biasanya orang memang sulit berbagi, kecuali sekedar perayaan pesta. Jika sedang sedih, hal wajar orang akan merasa sendiri di dunia ini dan memanggul tulisan “help me please!”.

Padepokan ini serin menjadi saksi bisu, betapa sangat beragam para tamu yang datang. Ada yang bertanya hal ikhwal kehidupan, cinta, pergaulan, rumah tangga, alam, pengobatan, dll. Ki Asmoro Jiwo selalu berusaha menerima tamunya dengan baik. Bahkan secara jujur selalu mengatakan kepada para tamu bahwa dia tidak bisa apa-apa. Namun Ki Asmoro Jiwo akan berusaha menjadi teman yang setia mendengarkan apapun permasalahannya. Sering sang Tamu malah menemukan sendiri solusi masalah, setelah dia curhat habis-habisan. Sering juga Tamu merasa iri ingin seperti Ki Asmoro Jiwo yang tenang dan murah senyum, seakan tidak ada masalah berat. Ki Asmoro Jiwo lalu menjawab : “anggap saja masalah saya ringan, tapi dengan banyaknya tamu untuk berbagi cerita, otomatis sayapun sering larut pada judul-judul mereka juga. saya berusaha menjadi bagian tubuh mereka”.

 Ki Asmoro Jiwo memang bukan manusia sakti dengan benda pusakanya. Satu-satunya benda yang menemaninya adalah tasbih biru berbutir 61 dan bagian ujung terdapat 2 butir. Tasbih ini pemberian gurunya Ki Pasir Angin. Pernah dia menanyakan jumlah butir-butir itu, kenapa tidak 99 atau 33. Kebanyakan tasbih milik gurunya jumlahnya beragam. “Jangan terjebak pada jumlah, karena bacaan ikhlas itu bukan karena jumlahnya,” Jelas Ki Pasir Angin waktu itu. Ki Asmoro Jiwo sering merenungkan wejangan itu. Sehingga dia sering menyuruh kepada para tamunya “Bacalah sampai kamu lupa sudah membaca berapa banyak, dan kamu tidak mau mengingat berapa banyak, karena kamu sudah larut pada keasyikan membaca bacaan itu…”.

Bekal Ki Asmoro Jiwo melayani tamu tidaklah banyak. Bekal pertama adalah pemahaman ilmu watak manusia yang didasarkan pada jenis kelamin, silsilah keturunan, umur, dll. Secara sederhana watak dapat dikelompokkan hanya 2 jenis, yaitu pendiam dan periang. Kemudian diurai pada beberapa watak turunan dan kombinasi. Kajian watak inilah yang mendasari semua solusi. Masalah sama, orangnya berbeda, bisa berbeda solusinya. Bisa juga masalah beda, orangnya sama, ya berbeda pula. Ada tamu yang senang diajak bercanda mulu. Ada juga yang harus dihadapi dengan diam dan khusyu.

Ada juga tamu yang datang minta pengobatan. Ki Asmoro Jiwo selalu menekankan bahwa manusia harus berusaha dulu, lalu berdoa. Dalam usaha harus terpenuhi syarat rukunnya. Tentang sembuh atau tidak, goal penentu adalah dariNYA. Obat bisa beraneka, kadang obrolan bisa menjadi obat, kadang air putih, kadang doa bersama, kadang perlu penanganan medis, dan seterusnya. Ki Asmoro Jiwo sering memberikan wejangan “obat ini hanyalah media, marilah sama-sama berdoa, saya bantu. Apabila sembuh, artinya doa kita terkabul. Tapi bisa juga belum akan sembuh, karena semua atas kehendakNYA, tapi kita kan sudah berusaha”.

Demikianlah hari-hari dijalani berteman Padepokan yang menyejukkan dan banyak memberikan inspirasi. Jalan kehidupan harus terus dilalui, sampai tugas di muka bumi ini mencapai titik finish.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s