Mendidik Anak di Jaman Fesbuk

Siapa sich yang gak senang ketika melihat anaknya duduk manis di rumah? sehingga orangtuanya tenang bekerja di tempat yang jauh dari rumahnya.

Mungkin ini anggapan tempoe doeloe, ketika pemahaman “di rumah” dikonotasikan hanya bermain di sekitar rumah dengan teman atau menonton TV bersama penjaga rumah. Namun saat ini, dimana hampir setiap anak punya HP (handphone), dan bahkan bisa ber-fesbuk-ria; maka anggapan di atas perlu dicermati secara hati-hati.

Memang benar si anak (baca: tubuh/fisik) berada di rumah, bahkan sering asyik di kamar sendirian sambil memainkan HP-nya. Apa yang dia lakukan? ternyata sedang asyik curhat atau berbagi rasa dengan teman-teman seantero jangkauan pertemanan yang dia lakukan di seluruh penjuru bumi ini. Sepuluh tahun lalu memang ada demam chatting mIRc, namun hampir selalu dilakukan di Warnet karena fasilitas internet masih terbatas.

dengan fasilitas masa kini, dimana berinternet – termasuk fesbuk – dapat dilakukan dengan HP yang bisa ditenteng kemana. Lalu muncul slogan : “ditinggal orang tua sehari gak apa-apa, tapi gak pegang HP sehari, wow ! dunia terasa sepi bin sunyi”.

Mungkin semua sepakat bahwa saat ini sebagian besar orang sudah keranjingan HP dan fesbukan. Termasuk juga mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Bahkan murid-murid SD juga sudah ‘dilatih’ oleh orangtuanya agar membawa/memakai HP dengan alasan sederhana “agar saat dijemput dari sekolah, mudah koordinasinya”. Semisal “Kamu dimana nak? Papa sudah hampir sampai di sekolah nich. Tunggu Papa di depan gardu Satpam yaaa..”.

Tapi, sadarkah orangtua bahwa si anak sudah dipasrahkan pendidikannya kepada ‘pembantu’ yang bernama HP bin fesbuk ini? sadarkah bahwa diam-diam mereka lebih sering berkomunikasi dengan khalayak daripada kepada orangtuanya sendiri. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang notabene bersifat pribadi, seperti mandi, makan, bangun tidur, suntuk, dll. Mereka menjadikan media fesbuk sebagai “orangtua” berikutnya. Celakanya lalu lintas komunikasi di fesbuk mirip seperti celoteh orang di pasar, dimana semua komentar, dari yang wejangan sampai umpatan kasar lengkap.

Semua ini dapat berdampak pada sebuah proses ‘pendidikan’ yang tidak jelas aarahnya kemana. Bahkan bisa jadi orangtua akan terpana karena si anak berubah watak/karakter secara drastis. Bagaimana cara kita mendidik anak-anak yang sudah kecanduan fesbuk atau media komunikasi online lainnya??

Pertama, tentu orangtua dan guru/dosen harus memahami seluk beluk fesbuk cs ini. Paham apa itu pesan dalam status, chatting, group, dll.

Kedua, pendidik harus memantau setiap waktu bagaimana perkembangan psikologis si anak dalam fesbuk cs ini. Misalnya dengan mencermati komentar-komentarnya dalam status. Mungkin dia sedang sakit, sedih, patah hati, senang, marah, dll. Kita juga perlu melihat pertemanan dia dengan siapa saja, apa komentar teman-teman tentang dia. Dari sini kan kita bisa ‘mengukur’ sejauh mana pergaulan dan karakter teman-temannya.

Ketiga, pendidik bukanlah hakim, yang reaktif memberikan teguran atau sanksi manakala si anak terlihat mulai menyimpang. Pendidik harus koreksi diri, mungkin banyak metode dan aktifitas pendidikan yang tidak tepat sasaran. Pendidik harus multikarakter untuk membuat ramuan ‘obat’ yang tepat. Bila anak berprestasi, cepatlah beri penghargaan, minimal pujian. Bila anak melanggar, cepatlah memberikan solusi. Misalnya ketika tahu si anak curhat ke teman-temannya bahwa dia butuh sesuatu, maka pendidik atau orangtua cepat memberikan sesuatu tersebut, atau minimal memberi tahu kemana mendapatkannya.

Keempat, pendidik sering menggunakan media pembelajaran dengan sarana iptek yang menarik buat anak-anak jaman kini. misalnya film dokumenter, animasi, dll. Bisa jadi memberikan pesan secara online (email dll) kepada anak didik, akan lebih berkesan daripada diomongkan secara langsung. Dan si anak pun lebih leluasa mengemukakan pendapatnya.

Demikian, Silahkan bagi yang berkenan mengoreksi atau menambahkan.

2 responses to “Mendidik Anak di Jaman Fesbuk

  1. Tangapan dari Dian Ningsih :

    sangat setuju sekali pak!!!masalhnya tdk smua org tua memahmi apa itu facebook, atau kataknlah Playstasion, bahkn game2 di internet.yg membuat anak2 mnjadi betah di rumah. proses pendidikan seorg anak, terutama anak – anak yg msh SD, sgt menentukn utk perkembngn selanjutnya krn disinilah adnya karacter building.
    contoh kasus : waktu itu murid2 membicarakan game balap mobil (GTA), ttp anak2 bercerita sambil ketawa, krn dian curiga akhirnya dian tanya2 ke anak2, ternyata game yang sbenarnya klo kita lihat adlh game balapan dan seru, disana ada suatu adegan dimana apabila menang maka dengn tombol tertentu sang pemenang bisa memilih salah satu cew cantik dan seksi utk diajak berkencan di dalam mobil. blm toko2 kartun yg ada sekarang didesain…rata2 perempuannya mengumbar aurat, yg jls itu semua sgt menggganggu konstrasi mrk dlm bljar krn akn teringat trs.
    kita tidak bisa menyetop yg namanya teknologi, krn akan berkembang terus..ttp disini bagmn orang tua hrs kembali menyadari bhwa anak adlh amanah yg diberikan oleh Alllah SWT, untuk dididik, bgmanapun seorg pemimpin akn ditanyai pertanggungwbannya suatu saat nanti baik perannya sebagai ayah atau ibu.bagmn org tua jg harus bisa berbagi peran dlm proses pendidikan anak2nya. bnyak sekali org tua menyerahkn pendidikan anak2nya kepada guru, terkdg mrka tidak mau tau, yg pnting anaknya pintar, soleh dan soleha bahkn berani bayar mahal, terkadang skolahpun bisa berganti esensinya mnjadi tempat penitipan anak2, hal ini terbukti ktka sekolah mengubah kurikulum yg tadinya pulang jam 16.00,mnjadi lbh awal, dan hr sabtu mrka libur,,bnyak orangtua yg protes,dan pd akhirnya ketahuan alsn sbgian ortu yg tdk setuju adlh klu pulang lbh awal dan hr sabtu libur, anak2 dirumah tdk ad yg menemani krn ortu bekerja. pdhal ktika kurikulum itu dibuat, sbnarnya kita memikirkn anak2,supaya tdk setres.walau bgmnpun dunia anak2 adlh dunia bermain.
    untuk facebook sndiri, mmg bnyak anak2 sdh bnyak tau, bahkan tak jarang guru2pun kalah ma murid2nya.krn utk urusan teknologi anak2 lbh cpt tau. ttp tdk semuanya negatif, tergantung kita yg mengarahkan dan tentunya peran orangtua, dian sngaja mengundang murid2 dian utk masuk ke FB dian, ttp lbh dian manfaatkn utk memotivasi mrka, mendengrkan curhat2 mrka, dan mengingatkn mrka.sbnarnya ad pengalaman yg menarik soal ini, ttp lain waktu aja ya pak, da kepanjangan.
    kesimpulannya : orangtua hrus kmbali menyadari ttg amanah yg diberikan Allah SWT, mengawasi anak2, menjadi teman sekaligus guru bagi mrka, memberikn reward kpd mrka klo mrka mlkukn hal yg baik, dan funishment klo berbuat tdk baik, tentunya hukuman yg mendidik. sama seperti yg bpk jelaskan.

  2. Tanggapan dari Iwan Kurniawan :

    Ibarat jamur dimusim hujan tuch FB,tpi itulah karakter msykt kita,entah penddikn kluarga yg slah/Sekolah kliru cra didikx,knapa tiap ad teknologi baru,msykt kita umumx bgitu tergila2 bahkan spti mnjdikan brg itu prestise bgix.Apa msykt memang sdh mju ya? utk anak perlu sya kira bimbingan ortu,komunikasi sngt penting,pemantauan tiap ada perubhn dlm diri anak…lha klau yg demam FB giliran ortunya,apa pembantu yg nanti ingatkan ya? anak&ortu sama2 demam FB,..ya mngkin bru awal trend,besok jga bosen…cukup skian Mas Kun,tanggapan sya cuma skedar beropini ria! sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s