Belajar Mandiri

Bayi terlahir dari buah kasih kedua orangtuanya. Sang Bayi tumbuh menjadi Balita. Mulailah Sang Balita belajar mandiri dengan berusaha berdiri di atas kedua kaki sendiri, walau awalnya perlu dipegang dan atau pegangan. Setelah berdiri, Sang Balita belajar berjalan di atas kaki sendiri.

Umur bertambah, pelajaran mandiri pun semakin beraneka dan kompleks. Si anak yang sudah bisa berjalan, akan berusaha mempelajari seluruh benda-benda se-isi rumah. Selanjutnya mengamati fenomena di sekitar rumah, kemudian tetangga, kemudian lebih jauh lagi. Dan seterusnya.

Proses seorang anak dalam mencari pasangannya, dari sekedar pacaran sampai pernikahan, adalah proses pembelajaran menuju kemandirian. Namun sangat ironi apabila langkah menuju kesana tidak diimbangi dengan jiwa/mental yang mendiri.

Fenomena sebagai manusia, Kita melihat banyak orang libidonya begitu besar untuk mencari pasangan, tapi pulang ke rumah, makan saja masih disuapi, apa-apa masih dikerjakan orangtuanya. Kita melihat banyak orang siap membuat anak (baca: ML), tapi ternyata tidak siap merawat anaknya. Jadilah kakek-neneknya sibuk mengurus cucu barunya. Kita melihat banyak orang mendambakan punya anak, tapi ternyata tidak siap membersihkan si bayi dari pipis dan buang air besar, dan sekaligus mengganti popoknya. Kita melihat banyak orang siap mandiri jadi anak kos, tapi bawaan di rumah yang selalu dilayani oleh orangtua dan para pembantu. Jadilah kamar kosnya bak kapal pecah. Kita melihat, banyak mahasiswa menjadi kutubuku dan berharap hidup sukses, namun ternyata tidak siap untuk gagal dan maunya langsung sukses. Padahal belajar berdiripun pasti pernah terjatuh.

Fenomena sebagai pemimpin wilayah, Kita melihat banyak daerah kabupaten menuntut otonomi sebagai pengejawantahan proses kemandirian. Ironisnya malah lupa pada pencapaian kemandirian bangsa dan negara. Mereka asyik mengeksploitasi sumberdaya tanpa mau tahu dampaknya. Mereka asyik merasa mandiri, padahal di sekitarnya banyak membutuhkan produknya.

Kita melihat bangsa ini bermimpi mandiri, tapi asyik impor, asyik pula pengelolaan sumberdaya diberikan kepada perusahaan asing. Betapa banyak pangan kita yang produk impor. Berapa banyak perusahaan tambang skala nasional yang dikelola secara mandiri. Memang sich, ada slogan Desa Mandiri Energi dan Desa Mandiri Pangan. Tapi jangan-jangan malah si desa itu dididik untuk tidak butuh desa lain, sebagai penerjemahan ‘mandiri’.

Kita melihat para penegak hukum sering mengatakan “kita bekerja secara profesional”, semoga maksudnya “mandiri dari tekanan dan intervensi”, bukannya “pandai mengarahkan berbagai kepentingan” hehe. Kita juga melihat pengacara super pandai bersilat kata, semoga mereka mandiri membela keadilan, bukannya percaya diri setelah suap sana dan suap sini.

Kita juga berharap para politisi punya prinsip berdasar nurani. Bukan ‘katut angin’ (terbawa angin), kemana suara media memberi justifikasi. Celakanya media juga kadang kurang mendiri, karena terbawa slogan “menggoyang yang mapan, dan membela yang tertindas”, jadi bukan dasar kebenaran.

Belajar mandiri telah dimulai sejak bayi. Apakah saat ini kita mandiri dalam segala hal? termasuk mandiri dalam menjalin komunikasi dan kerjasama, bukan mandiri diartikan “hanya untuk kepentingan diri sendiri”, karena hakekat perbuatan adalah untuk kemaslahatan semesta.

Padepokan Ki Asmoro Jiwo ing Ngayogyakarto, 10 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s