Angon Bebek

Angon Bebek yang ini memang beneran, bukan ibarat “guru mendidik murid”. Kalau yang terakhir ini pasti banyak dinamikanya. Satunya kencing berdiri, satunya berlari. Satunya ngasi nasehat, satunya asyik melawan. dan seterusnya…

Kembali ke… Angon Bebek

Si Bapak satu ini memang sudah bertahun-tahun piawai angon bebek. Profesi ini merupakan jalan banting stir karena menjadi buruh tidak jelas penghasilannya. Maka mulailah beliau berwirausaha dengan menekuni angon bebek. Cerita di bawah ini utamanya bersumber dari hasil reportase dengan beliau, tentu saja dengan sedikit ‘bumbu’ dari lokasi lain yang sejenis.

Tahun 2005, seorang mahasiswi pertanian tingkat akhir begitu cemasnya ketika suatu sore gerimis melihat kandang bebek terbuat dari kelambu (biasanya untuk penutup kamar, pelindung dari nyamuk) hanya setinggi leher si bebek. Yakin bebek-bebek itu akan patuh dalam kandang, gak ngeyelan mo lompat pagar seperti si murid tadi. Ternyata bukan kandangnya yang menarik hati si mahasiswi ini, tapi dia bertanya dengan syahdunya :
“Pak, kasihan bebek itu, apa gak masuk angin ya?” keluhnya
“Lha emange kenapa to?” tanyaku mendadak khidmat.
“Lha itu bebeknya kan kehujanan,” jawabnya zuper polos tenan.
Mungkin ini salah satu potret remaja saat ini yang terlalu asyik dengan HaPe dan Fesbuknya, sampe lupa mengamati fenomena lingkungan sekitarnya.

Kembali ke… Angon Bebek

Siklus hidup bebek selama 2 tahunan. Sejak bayi-cemoer (pasca menetas) memerlukan waktu 6 bulan sebelum asyik bertelur setiap hari, sampai berumur 2 tahun. Beaya makan untuk bebek 50 ekor sekitar 30 ribu rupiah per hari. Sementara dalam usia produktif, 80% dari jumlah mereka akan bertelur setiap hari. Jika warganya 50 ekor, maka tiap hari menghasilkan 40an telur. Harga per telur untuk bebek angonan (dipelihara dengan jalan-jalan tiap hari) sekitar Rp 1.100,-. Kalo telor bebek kandangan, harganya berkisar Rp 950,-. Kok beda? karena yang hasil jalan-jalan ini banyak vitaminnya.

Ternyata si Bebek jantan juga menganut club poligami. Kadang tiap 50 ekor betina cukup dengan 1 bebek jantan.
“Itu aja bebek jantannya masih nedak-nedak ngejar mentok (entem) tetangga je, Pak”, jelas si Bapak.
Aku jadi senyum sendiri. Gimana ngatur jadwal ‘piket’ tiap harinya ya. Padahal 80% telur itu terbuahi semua. Gleks…..
Untung aja kaum bebek betina itu “Ok-Ok” aja ama manuver si pejantan, minimal gak ada yang berkicau di infoteinment per-bebek-an. Bisa-bisa nanti saingan ama si Komeng dan Valentino Rossi.

Harga bebek kecil yang baru netas sekitar 3 ribu rupiah. Kemudian harga bebek dewasa umur 2 tahunan berkisar 30-40 ribuan. Yang jelas harga pejantan jauh lebih murah, walau kemampuan poligaminya melebihi doping purwaceng atau STMJ-ginseng segala. Harga bebek betina lebih tinggi karena ada jaminan bertelur.
Ibarat debat si bapak dan si ibu, “mana yang lebih penting? sponsor atau yang melahirkan?”, ternyata: ibumu-ibumu-ibumu-bapakmu.

Makanan bebek yang terbaik adalah beras dkk (dedak, nasi, sego aking, dll). Makanya kalo angon bebek selalu mengarah ke petak-petak sawah yang baru saja dipanen. Di sana banyak terdapat bulir gabah yang rontok saat pemanenan atau jatuh dari tanaman padi-nya.

Kaum bebek juga punya kepatuhan dan perasaan yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal topi lebar dan pecut super panjang, si Bapak mampu mengendalikan laju perjalanan ratusan bebek setiap hari. Yang mencengangkan lagi, Ada !
“Kalo hati kita kemrungsung (gak tentram, gak ikhlas), misalnya ada masalah rumah tangga, maka bisa dipastikan kemampuan bertelur kaum bebek kita bisa turun 50%-nya!”.
Jadi, ternyata si bebek dengan si Bapak ini ada ikatan batin (kalo bebek, namanya batin atau insting ya?) yang sangat kuat.

Kalo dunia manusia, kepatuhan anak buah bukan digambarkan dengan per-bebek-an, tapi malah si kerbau yang jadi korban (baca: seperti kerbau yang dicocok hidungnya).

Semoga cerita ringan ini menginspirasi anda yang ingin ber-angon bebek.

Ki Asmoro Jiwo

 
Catt: tulisan ini terinspirasi oleh keluarga tukang angon bebek di jl Imogiri Bantul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s