Mengisi Liburan, Mengejar Kesenangan

Fenomena masa liburan memang menarik, banyak orang berlomba berebut tiket transportasi, dari bus sampai pesawat terbang. Banyak orang berburu penginapan segala kelas. Banyak orang bernafsu mengunjungi tempat-tempat wisata, termasuk belanja dan kuliner. Banyak orang tanpa sadar meningkatkan kepadatan dan bahkan memacetkan jalan, karena hampir reflek menuju ke tempat-tempat yang sama.

Jika merenung sejenak, mengapa banyak orang sangat berambisi mengisi liburan dengan paket-paket acara – yang minimal menurut mereka – menyenangkan. Mereka tanpa berpikir panjang mudah merogoh kantong duit yang berlebih. Mereka mau meluangkan waktu dan tenaga untuk itu semua. Apa yang dicari? umumnya menjawab aklamasi : mencari kesenangan.

Mereka banyak bertebaran di muka bumi demi memburu ‘paket kesenangan’. Mungkin mereka lupa, bahwa rasa senang itu berada di dalam hati. Mungkin mereka lupa, bahwa diri kita sendirilah yang mampu memanaj untuk senang atau sedih.

Betapa banyak orang yang malah merasa sepi saat berada di keramaian. Mereka merasa jengah dan asing, karena keramaian dan kebisingan itu bukan sumber kesenangannya. Namun bisa juga sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bisa tersenyum bahagia manakala dia sedang sendiri. Mungkin sambil menikmati pemandangan alam. Mungkin sambil merenung tentang hakekat kehidupan.

Lihatlah seorang kakek/nenek, yang sangat senang ketika melihat cucunya mulai bisa berbicara. Dengan bangga akan menceritakan bagaimana lucunya si cucu, kepada siapa saja yang ditemui. Kakek/nenek ini tidak perlu di bawa ke tempat-tempat wisata yang mungkin menarik bagi sebagian orang.

Lihatlah pengemis di perempatan jalan, yang bergitu terkesima dan senang, manakala ada dermawan/wati yang mengucurkan uang berlebih. Biasanya dia hanya mendapat 100-500 rupiah per penderma, lha ini ada yang memberi 5.000-10.000 rupiah. Itulah salah satu kesenangan mereka. Jangan salahkan mereka yang tidak mau dipindah tempat atau dikarantina di panti sosial, walaupun di perempatan jalan dia akan berjemur sepanjang hari. Mungkin jadi lusuh, mungkin menghirup udara tercemar. Tapi ternyata mereka mendapat kebahagiaan dari suasana itu, terlepas aktifitas ini melanggar atau tidak secara aturan lalu lintas.

Lihatlah para pelancong yang bernafsu jalan kemana-mana, yang katanya memburu kesenangan, tapi akhirnya malah mendapatkan keborosan, capek, sakit di badan, suntuk akibat kemacetan, resiko kecelakaan di jalan, dll. Lihatlah mereka yang merayakan hari pergantian tahun. Tanpa sadar terjebak kemacetan, kebisingan, pencemaran udara, kehujanan, resiko kesehatan, dll.

Bentuk-bentuk kesenangan tidak lebih hanya kesepakatan sosial dan persetujuan hati untuk itu. Namun hukum sosial tidak perlaku universal, karena sebagian orang punya dalil tersendiri. Satu sudut mengatakan, sumber kesenangan itu makan-makan, nonton film, berwisata, joget musik, mabok, pesta sex, dll. Sudut yang lain mengatakan, sumber kesenangan itu meraih jabatan, mendapat penghargaan, mendapat bonus, dll.

Apapun bentuknya, ya-tidak nya hal itu termasuk kesenangan adalah kesepakatan HATI kita menilai fenomena itu. Kuncinya ada di manajemen hati. Jika kita mampu mengendalikan rasa dan pikir, maka kesenangan itu tidak perlu dengan mengorbankan waktu, tenaga dan beaya yang besar. Lha wong melamunkan TTM juga sudah menyenangkan kok…. Apalagi ujuk-ujuk bin tiba-tiba bisa bertemu muka, wow……

Senin, 28 Desember 2009

Padepokan Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s