Menjelang Ujian, Belajar?

Menjelang ujian, ketika perkuliahan mendekati finish, kesibukan bukannya mereda, malah sebaliknya. Jadwal kuliah tambahan, praktikum yang men-target harus selesai sebelum waktu ujian, minggu tenang yang kadang tidak ada, bahan kuliah yang harus copy sana pinjam sini, belum lagi agenda pribadi yang kadang terasa sangat menarik untuk dikerjakan, sebagai ‘saingan’ agenda belajar menjelang ujian.

Memang sistem pendidikan kita masih umum ‘meletakkan’ nasib nilai pada 2 minggu waktu ujian dari perjuangan panjang mengikuti kuliah selama 1 semester (baca: 4 bulanan). Mungkin saat kuliah segar bugar penuh canda tawa. Tetapi menjelang ujian tiba, dimana hampir semua masalah terasa makin menumpuk, maka tampang muka kusut, kegelisahan, ketegangan dan kecemasan akan bercampur menjadi satu. Kondisi stress yang beginian, dipaksa harus tahan banting dalam mengerjakan ujian.

Belum lagi apabila si doi (pacar) membuat masalah menjelang ujian. Minta inilah, itulah, dengan ancaman “putus” kalau tidak dikabulkan.
Belum lagi beberapa mahasiswa sudah curi start dengan menikah dan reproduksi lebih dulu, yang akhirnya gelagapan ngatur ujian dengan ngurus bina-bina hidup ini.
Belum lagi teman-teman kos kadang kurang kondusif, sedang mumet, eh tetangga kamar muter TV/radio super kuenceng (keras).
Belum lagi teman-teman nongkrong malah menggoda untuk kongkow-kongkow di warung kopi sampe pagi.
Belum lagi siaran bola sudah menunggu, eh waktunya pas dengan jadwal belajar. Duh !
Dan lain sebagainya, yang intinya, di saat stress, tingkat ketersinggungan pada lingkungan sekitar menjadi sangat tinggi. Jika tidak terkendali, bisa-bisa malah kita akan menambah masalah baru yang makin meruwetkan persiapan menjelang ujian.

Maka,
banyak mahasiswa yang memilih jalur SKS (sistem kebut semalam) alias hanya belajar di malam saat esok menjelang ujian. Jalur yang terbuka biasanya hanya memory otak untuk hafalan, bukan pemahaman. Dan biasanya, seminggu setelah ujian, semua hafalan itu 90% sudah lupa lagi. Maklumlah, otak dipacu untuk menghafal pada hari ini, karena esoknya harus menghafal materi ujian berikutnya. Jadi wajar apabila makin sering ujian, yang dibicarakan hanya hasil koleksi nilai, bukan peningkatan pemahaman dan penguasaan terhadap ilmunya. Wajar juga juga menjelang akhir kelulusan, si mahasiswa akan bengong ketika ditanya “kamu bisa apa?”. Padahal pertanyaan ini salah satu yang diajukan oleh Penyeleksi Kerja.

Mengingat waktu menjelang ujian akan beresiko stress tinggi, banyak mahasiswa yang berusaha mengendorkan hawa nafsu dengan berpuasa atau memperbanyak dzikir. Cara ini cukup efektif mengurangi ketersinggungan dan amarah dari gangguan sekitarnya. Mereka juga berusaha menghindari kegiatan-kegiatan yang dapat beresiko menjelang ujian. Ibarat calon pengantin, ada waktu ‘dipingit’ yaitu sejenis masa karantina, agar terhindar dari gangguan yang tidak perlu, misalnya kecelakaan, dll.

Bagi yang ingin belajar secara efektif, berikut beberapa tips yang mungkin berguna :

1. Pahamilah ilmu (baca: mata kuliah) dimulai dari hakekat ilmu dasarnya. Misalnya: matematika adalah ilmu hitung, biologi adalah ilmu tentang maklum hidup, agroekologi adalah ilmu tentang lingkungan pertanian, fisika tanah adalah ilmu yang mempelajari proses fisika dalam tanah, dan seterusnya.

2. Tiap pelajaran ada kupasan yang menitik beratkan pada materi tertentu. Hal ini dapat dilihat dari daftar isi atau ulasan awal saat kuliah pertama. Usahakan masing-masing bagian sudah kita kuasai. Misalnya ilmu tentang pohon terbagi pada kupasan bagian agar, batang, daun dan buah. Keempat bagian ini kita pahami prinsip dasarnya.

3. Buatlah skema alur pikir (flow chart) dari pelajaran itu dalam SATU lembar kertas. Buat sedemikian rupa sehingga satu pelajaran dapat dituangkan hanya dalam 1 halaman saja. Kertas ini akan sangat berguna menjelang (H-1) ujian tiba, dimana kita tidak bisa belajar secara maksimal karena banyak gangguan dan tekanan. Kertas ini akan membantu pemahaman secara cepat. Apabila perlu pendalaman di bagian tertentu, kita bisa langsung menuju ke suatu bab di buku pegangan, tidak perlu membaca semua isi buku.

4. Mencermati apa mau si dosen/guru. Biasanya dalam kuliah, dosen secara tersirat menekankan pembahasan pada bagian tertentu. Biasanya bagian itu lah yang akan menjadi materi soal ujian. Juga pahami bentuk jawaban seperti apa yang di-mau-i oleh dosen. Umumnya dosen menyukai jawaban dengan tulisan mudah dibaca, sistematis, rapi, dan logis. Ada beberapa dosen suka dengan uraian yang panjang lebar, tetapi ada juga yang suga gambar/skema.

5. Banyak mahasiswa belajar hanya dengan membaca, artinya hanya indera mata saja yang digunakan. Padahal masih ada tangan, telinga dan mulut yang bisa dioptimalkan mendorong otak makin banyak mengingatnya. Caranya, setelah membaca, tutup buku, ucapkan inti materi dari bacaan tadi, lalu tulis dalam secarik kertas. Saat berbicara, otomatis telinga akan mendengar. Saat menulis, motorik tangan akan terpacu menjawab. Ingat, saat ujian yang paling vital adalah hasil tulisan (baca: dari kerja tangan). Tulisan tangan juga dapat digunakan untuk jenis pelajaran hitungan, dengan latihan soal.

6. Saat ujian, apakah kita tahu jawabannya, agak tahu, ragu atau tidak tahu sama sekali, kita HARUS MENJAWAB semaksimal mungkin. Jawaban yang panjang lebar tetapi salah, akan mempunyai nilai, dibanding kita tidak menjawab sama sekali.

7. Ada beberapa soal ujian yang boleh jadi skor nilainya berbeda. Jawablah yang mudah dulu. Lalu optimalkan jawaban pada skor tertinggi, bagaimanapun caranya (baca : berpikir keras).

8. Saat belajar dan ujian, kerja lambung dalam perut akan extra kencang, sehingga sering terasa lapar. Jangan biarkan perut kosong menjelang ujian, kecuali puasa. Jangan hanya karena bandel tidak makan, sehingga badan lemas, mata berkunang dan tidak bisa berpikir untuk menjawab ujian. Biasanya kaum Hawa akan sulit makan manakala stress tinggi, sehingga jadi berlangganan dengan penyakit maag.

9. Jangan tergoda untuk bertindak curang, seperti menyontek dan sejenisnya. Tindakan ini hanya akan menipiskan mental, kurang bernyali dan takut menerima tantangan baru. Biasanya yang sering menyontek saat ujian, akan terbawa pada karakter kerja di masa mendatang. Umumnya menjadi orang yang menghalalkan segala cara mencapai tujuan.

10. Tugas manusia adalah berjuang sekuat tenaga. Berikutnya berdoalah. Manusia hanya bisa merencanakan dan melaksanakan, hasilnya masih tergantung inivsible hand (baca: Sang Maha Penguasa).

Semoga bermanfaat
Rabu, 30 Desember 2009
 
Padepokan Ki Asmoro Jiwo

2 responses to “Menjelang Ujian, Belajar?

  1. betul bgt tuh pak…….thanks..tips2nya…

  2. kalo bukunya bahasa inggris gimana pak? seandainya aja orangnya gak isa baca bahasa inggris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s