KENAPA MALAS

Banyak orang pernah mengalami rasa malas di berbagai urusan. Namun jika kemalasan itu menimpa banyak urusan, orang tersebut sering disebut si pemalas. Sebutan kemalasan kadang diartikan “tidak bekerja”. Bahkan kegiatan yang tidak berkait dengan aktifitas fisik (baca: tangan-kaki-tubuh bergerak), digolongkan kemalasan. Tentu anggapan ini akan berbeda di berbagai tempat. Biasanya akan menyebut “malas” apabila tidak menjalankan kewajiban. Misalnya pelajar, dikatakan malas jika tidak mau belajar. Misalnya pegawai, dikatakan malas karena hanya asyik membaca koran dan melalaikan tugas pokoknya. Misalnya dosen, dikatakan malas jika tidak mau menambah ilmunya. Misalnya ibu rumah tangga, dikatakan malas jika hanya asyik nonton sinetron tanpa mau masak-nyuci-nyapu. “Kan udah ada pembantu, ” Kilahnya.

Bagaimana timbulnya rasa malas ?
Secara umum rasa malas muncul karena “tidak ada semangat”. Semangat muncul apabila apa yang akan dikerjakan “menarik” bagi si pelaku. Makin menarik, gak usah disuruh, pekerjaan itu akan dilakukan dengan semangat tinggi. Tingkatan tertinggi dalam ketertarikan adalah : Cinta. Dengan modal cinta, gunung kan didaki, laut diseberangi.

Maka dalam pekerjaan apapun, modal cinta adalah sangat penting.
Boleh jadi pelajaran tidak menarik, tetapi guru/dosen yang menyampaikan sangat menarik, maka pelajaran itu jadi mudah diterima. Begitu juga sebaliknya, pelajaran yang menarik, tetapi penyampainya nyebelin, maka bisa-bisa tidak tersampaikan materinya ke siswa.
Ketika seorang anak disuruh orangtuanya membeli barang ke toko, tanpa ada ketertarikan dengan perintah itu, maka yang terjadi si anak akan malas-malasan dalam menjalankan tugas.
Demikian juga contoh-contoh lainnya.

Bagaimana mengurangi kemalasan dan mengubahnya menjadi semangat tinggi ?
Banyak sisi yang dapat digali dari kemalasan ini. Kita perlu mencari sisi mana yang menyebabkannya. Ibarat anak sekolah, malas datang bisa karena kurang dukungan orangtua, kurang uang saku, guru yang tidak menarik, pelajaran yang membosankan, teman yang jail, dll.
Ibarat pekerja, malas bisa datang karena gaji yang rendah, pekerjaan yang terlalu tidak manusiawi, boss yang arogan atau kikir, beban rumahtangga, dll.
Maka ubahlah sumber kemalasan itu menjadi semangat tinggi.
Mungkin tidak dapat langsung, tapi dapat didekati dari sisi lain di dekatnya.
Mungkin berada di kelas tidak semangat, tapi manakala ada TTM baru, rasanya ingin berlama-lama di kelas itu.
Mungkin disuruh orangtua gak suka, tapi dengan berpikir bahwa patuh pada orangtua adalah ibadah, maka perintah itu menjadi lumayan menarik.
Mungkin kuliah tidak menarik, sehingga lama lulus, tapi dengan mengingat betapa besar pengorbanan orangtua untuk beaya, serta doi yang harap-harap cemas menanti kelulusan untuk pekerjaan dan kemapanan sebelum “janur kuning melengkung”; semua akan mengubah kemalasan menjadi kebangkitan.

Jika semangat tidak bisa bangkit dari ke-ego-an diri, maka bangkitkan dari sisi kepedulian pada orang lain di sekitar kita.

Semoga kita makin bersemangat menjalankan kebaikan untuk semesta.

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 09 Januari 2010

2 responses to “KENAPA MALAS

  1. ki……..saya lan orngnya pemalas ne,,,sampe2 kuliah jadi hancur,,,,,,saya itu tidak suka sama mata kuliah umum yang saya ambil…….emang sich saya yang salah….dari pertama saya ambil emang saya rasa gak mampu…………………saya itu gampang bilang ya…suruh gne…di suruh gto….biar saya gak suka pasti saya bilang ya!!!!!g mana cranya biar saya tidak malas lg??

  2. munculkan motivasi dalam dirimu. banyak hal perlu motivasi, sampai mandipun juga perlu motivasi. kalo hilang motivasi, lama-lama bisa malas hidup🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s