Ber- TERIMA KASIH

Seorang peminta, bisa anak-anak, bisa bapak-bapak, bisa ibu-ibu, bisa pemuda gagah, bisa ibu dengan anak(nya?). Bisa sambil menyanyikan entah lagu apa. Bisa berlagak membersihkan kendaraan kita, kadang malah jadi lebih kotor. Bisa sambil berjoget dengan iringan musik tradisional. Atau langsung me-nyadong-kan tangan meminta belas kasihan.

Apa respon kita? bisa cuek, atau “maaf gak ada uang kecil”. Bisa ngambil receh cepek-nopek-gopek. Atau lembaran ribuan sampe sepuluh ribu.
Apa respon peminta tersebut setelah tidak mendapat atau mendapat sedekah? bisa cuek, melanjutkan ke kendaraan berikutnya. bisa mengangguk tanda terima kasih. bisa juga bibir berucap ber-terimakasih. Namun ada kalanya, ketika pemberian melebih rata-rata, secara reflek peminta itu akan membungkuk lebih dalam sambil membacakan doa-doa dengan awalan “semoga”.

Itu cerita tentang peminta terkait dengan ya-tidaknya ber-terimakasih. Bagaimana dengan kita?
Memang si pemberi tidak berharap ucapan terima kasih itu. Tapi perilaku ya-tidaknya ber-terimakasih akan menimpa semua orang.

Ternyata, watak dasar manusia memang sering lupa atau melupakan untuk berterima kasih. Kadang malah merasa tidak memiliki, tapi saat kehilangan jadi melankolis banget. Banyak barang, bahkan yang nempel di tubuh, sering terlupakan untuk di-terimakasih-kan. Tapi saat hilang, hidup berasa hampa tanpa harga diri bin kehormatan.

Terkadang, kita hanya bersemangat ber-terimakasih kepada pimpinan atau orang yang derajatnya lebih tinggi di mata manusia umumnya. Kita sering lupa untuk berterima kasih kepada wong-wong cilik. Padahal dari doa merekalah, salah satunya, yang akan cenderung qobul.

Terkadang, kita melupakan ber-terimakasih karena itu dianggap rutinitas belaka. Lupa berterima kasih kepada istri, alasane masak dan nyuci kan udah kewajiban. Lupa berterima kasih kepada suami, karena gaji kan udah tanggungjawab sebagai kepala rumah tangga.

Kita juga alergi berterima kasih kepada mereka yang mengkritik kita dengan super pedas. Alasane, mereka kan musuh. Padahal kritik itu bisa mengingatkan sekaligus memotivasi kita untuk membangun.

Saat dinasehati, kita malah asyik menilai “siapa sich loe?”. Lupa pada penyerapan makna apa yang dia nasehatkan.

Sudah seberapa jauh kita ber-terimakasih kepada sesama manusia dan Sang Maha Pengasih dan Penyayang ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s