Nasib Si JOMBLO

Status Jomblo (sendiri, belum punya pasangan) memang sering jadi dilema. Kadang si empunya (pelaku) merasa nyaman saja dengan status jomblo ini, tapi lingkungan sekitarnya seakan tidak rela atas ke-jomblo-annya ini.

Biasanya predikat Jomblo mulai melekat ketika usia di atas 20 tahun yang belum mempunyai pacar/pasangan. Atau juga mereka yang pernah punya pasangan tapi kembali sendiri karena harus berpisah oleh penyebab tertentu.

Setiap orang menginginkan pasangan, tetapi banyak orang juga yang kesulitan mendapatkan pasangan. Bisa karena modal diri yang kurang menarik atau tiada keinginan (baca: keagresifan) untuk mencari pasangan. Masa puber sering dikonotasikan sebagai masa yang punya semangat tertinggi untuk mendapatkan pasangan. Puber Pertama adalah hal wajar dalam pencarian pasangan. Namun Puber Kedua dan seterusnya adalah langkah nekad untuk mencari pasangan alternatif karena pasangan yang sudah ada mengalami grafik penurunan kesetiaan. Entah karena bosan, entah karena ada impian yang belum bisa diberikan oleh pasangan, dan entah pula karena si pelaku ini memang doyan menyalurkan hasrat hormon feromon kepada banyak orang. Mungkin bakat poligami atau poliandri.

Ketika masih remaja, semangat mencari pasangan sangat luar biasa. Ibarat slogan, serasa seganteng pangeran atau secantik putri di negeri antah berantah. Sehingga super PD (percaya diri) untuk menggaet pasangannya. Walau tentu sering tersandung dan bertemu tembok menjulang, karena ternyata pesaing sangat banyak, dan celakanya malah lebih baik dalam bibit-bebet-bobot dibanding diri sendiri. Sehingga nekad memakai jurus terakhir “sebelumjanur melengkung, rawe-rawe rantas, semua pesaing akan kulibas”. Intinya. modal nekad. Katanya, keberuntungan itu milik pemberani….!

Ketika sudah berkali-kali putus-nyambung, plus ganti pasangan. Ketika berkali-kali disakiti dan dikhianati. Ketika umur sudah mulai mendekati 30 tahun. Rasa percaya diri mulai luntur. Entah karena sakit hati, atau malah merasa diri ini serasa tidak menarik lagi. duh!
Si Jomblo pada masa ini akan mengalami krisis kepercayaan diri. Sehingga biasanya butuh uluran tangan mak comblang (baca: perantara). Tapi banyak kasus juga membuktikan terjadi “pagar makan tanaman”, atau malah mak comblang ini yang malah jadian dengan si doi. Lemes batin, lemes lahir….
Belum lagi saat jalan bareng dengan orang yang sudah berpasangan. Mungkin hanya aktifitas biasa, seperti urusan kerja atau makan bareng. Tapi pasangan si dia tentu akan memasang antene parabola dan memakaikan baju besi agar pasangannya aman dari gangguan si jomblo ini. Duh ! padahal si jomblo gak berniat untuk itu.

Saat men-jomblo, memang kemana-mana tiada yang melarang. Memang saat sehat terasa sangat nikmat. Tapi ketika hati sedang rapuh, badan sedang butuh perhatian orang lain, status jomblo akan sangat menyiksa. Apalagi tiada lagi orang lain yang melayani kita. Masak self service mulu !

Kepada mereka yang nge-jomblo, gak usah minder deh, toh saat kita hadir di dunia ini juga dengan status jomblo hehe. Kalo kita memahami hakekat pertemanan di alam maya ini, tentu yang disebut pasangan bukan sekedar manusia saja. Memang setiap orang berharap dapat pasangan yang sepadan, tapi kalo perjuangan dan doa belum qobul, marilah menikmati indahnya semesta ini. Sambil tiada lupa menghaturkan sujud syukur……

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 24 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s