DIBUTUHKAN ORANG

Merasa sendiri, tanpa ada yang memperhatikan dan membutuhkannya, itulah salah satu pertanda terjangkiti penyakit depresi. Hingga merasa diri tak berguna, bahkan ingin mempercepat pergi dari dunia fana ini. Kondisi depresi ini membutuhkan pengakuan dan kepercayaan dari banyak orang bahwa dia memang masih berguna, dia memang penting, dan dia masih dibutuhkan orang lain. Lalu secara pelan namun pasti, munculah rasa ke-berguna-an dalam diri atas orang lain. Makin dibutuhkan banyak orang, hati akan semakin bersemangat. Gairah hidup juga makin bertambah, sampai lupa makan lupa tidur.

Apapun profesi dan tingkat kedewasaan kita, rasanya sepakat bahwa kita akan semakin senang apabila peran kita sangat dibutuhkan banyak orang.
Seorang anak balita akan tambah imoet manakala keluarganya sangat mengelu-elukan segala tingkah polahnya.
Seorang anak akan bersemangat ketika keberadaanya dinantikan teman-teman untuk di ajak bermain di halaman.
Seorang perjaka sampe lupa kepanasan dan kehujanan, apabila si juwita tulus mengatakan butuh kasih sayang dan perhatian dia.
Seorang penyanyi di depan ribuan fans, sampai terhipnotis mampu tampil berjam-jam demi memuaskan penggemarnya.
Seorang Ibu rela melupakan sakit diri, manakala timbul semangat untuk melayani dan membahagiakan anak-anaknya.

Pernahkah anda berada pada kondisi dimana amat sangat dibutuhkan peran sertanya oleh orang lain?
Kebijakan raja, sangat ditunggu rakyatnya.
Kreasi sang montir, sangat ditunggu pemilik mobil.
Kejeniusan ahli rias, diharapkan mampu menyulap mempelai jadi mangklingi (tampil lebih cakep dari biasanya), dll.

Namun hati-hati dengan rasa bangga itu, banyak orang terlena dan terpeleset dari “bangga” menjadi awal kesombongan bin takabur. Lalu tanpa sadar dia mulai memanggakan hasil kerjanya :
“Kalo bukan karena gue, tentu…bla…bla…”

Mungkin awalnya “barang dagangan” laris manis karena dia pandai membuat “ramuan dewa”. Namun bibit kesombongan yang muncul sebagai akibat dari ketenaran itu, membuat pelan namun pasti, para penggemar mulai mundur teratur.
Bantuan yang dulu berkompensasi “seikhlasnya”, sekarang mulai “pasang harga” dengan berbagai alasan.
Kebaikan yang dulu menjadi modal “seduluran”, sekarang mulai terolah menjadi bibit “persaingan” dan “ingin terkenal sendiri”.

Ketika kita masih dibutuhkan orang, itulah ciri masih ada kehidupan.
Ketika merasa terasing? toh doa masih dinanti oleh semesta
Ketika sedang di puncak nirwana, jangan mengukur semua dg materi

Saling memberi dan membutuhkan, itu memang kunci kodrati

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 11.09 WIB, 7 Feb 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s