PERTEMANAN ATAU KEPENTINGAN YANG ABADI ?

Sebuah koran lokal menampilkan suara pembaca dengan judul “anggota dewan itu membela rakyat atau partai, sich?”. Mungkin melihat kinerja Tim Pansus yang mendadak ada ‘aklamasi’ menjelang masa berakhir hari kerjanya.

Aku jadi senyum-senyum sendiri. Menurutku, itu pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Lha wong sudah ceto welo-welo (baca: sudah sangat jelas) buktinya di lapangan. Paling tidak bagaimana para anggota dewan bersikap ketika tampil diliput berbagai media.

Demokrasi yang sudah berjalan di negeri ini ya memang seperti ini. Rakyat nyontreng tanda gambar dan nama calon anggota dewan, yang hampir pasti hanya berupa kesan subyektif si pencontreng. Kemudian akumulasi contrengan itu dianggap legalitas kemenangan partai dan terpilihnya anggota dewan. Proses ini dianggap legitimet (baca: di acc rakyat). Sehingga wajar jika kemudian anggota dewan bisa mencak-mencak dengan dalih “mengatasnamakan rakyat”. Demikian juga dengan pengurus partainya, bisa bertingkah polah semaunya dengan memainkan manuver jitu untuk memegang kendali, ber-“dagang sapi”, ber-koalisi, ber-oposisi, dll.

Kadang muncul pertanyaan nakal, darimana partai-partai itu mendapatkan amunisi (dana) untuk kampanye pemilu, pilpres, dan pilkada? lha wong kita belum pernah lihat partai-partai itu punya anak perusahaan yang bergerak di bidang bisnis. Sehingga, mereka bisa mengambil keuntungan laba bisnisnya untuk ‘amal’ kepada seluruh rakyat. Apalagi partai itu bisa membuat kantor yang representatif (baca: mau bilang mewah gak tega), posko-posko yang ciamik, dan menebar banyak atribut dan angpaw yang weleh-weleh.
Mungkinkah itu “sumbangan sukarela” (tidak mengikat) ?
Siapa to penyumbangnya kok super dermawan banget ?
Ataukah ada pertemanan abadi dari para fans-nya ? seperti ketika kita melihat para fans yang menggilai Michael Jackson dan meratapi kepergiannya?

Kalau boleh bermimpi, aku juga ingin jadi anggota dewan, gaji tinggi, tunjangan super tinggi, kerja 4 tahun langsung dapat pensiun, bebas nyodok sana-sini karena meng-atasnama- kan rakyat, dan yang jelas…. bisa kaya mendadak.

Aku juga bermimpi ingin ikut nyalon pilpres atau pilkada, asal gak perlu rangkul-rangkulan dengan partai. Takut “tawar-menawar harga pas tancap gas”. Inginnya sih nyalon via facebook, biar tinggal add, gak perlu tebar angpaw dan jurus tersembunyi agar bisa “balik modal”.

Mimpi kan gak berdosa hehehe…

Suhu pernah memberi wejangan “tidak ada pertemanan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi”.
Hmm… lamunan menjadi melayang kemana-mana. Banyak sahabat yang dulu sangat akrab, eh sekarang seperti gak kenal, gak mau kabar-kabari. Banyak orang yang dulu tidak kenal sama sekali, sekarang lengket kayak perangko.
Pertemanan, permusuhan, percintaan, kebencian… semua datang-pergi tanpa permisi.

 
Ki Asmoro Jiwo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s